Babel Peringkat 5 Nasional Potensi Radikalisme di Dunia Pendidikan

kasmirudin
Babel Peringkat 5 Nasional Potensi Radikalisme di Dunia Pendidikan
Ketua FKPT Provinsi Bangka Belitung Riswardi M. Pd. (Foto: Ibnu)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID -- Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengadakan rembuk dengan aparatur kelurahan dan desa tentang literasi pencegahan perkembangan paham radikalisme dan terorisme di Hotel Novilla Boutique Ewsort & Spa Sungailiat,  Kamis (10/10/2019).

Riswardi  M. Pd, Ketua FKPT Provinsi Bangka Belitung mengatakan kalau untuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terkait aksi terorisme bisa dikatakan tidak ada, yang ada hanya titipan napi terorisme yang dititipkan di Lapas Tua Tunu dan Bukit Semut.

Hal tersebut dilakukan untuk memutus jaringan dan melihat sekat sekat yang ada di Bangka Belitung ini. Sampai sejauh ini pantauan dari pihak terkait, jika pihak napi tidak terkoneksi dengan teman, keluarga atau siapapun selama ada di Bangka.

Berdasarkan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BMPT) tahun 2017 yang dirilis tahun 2018 potensi radikalisme di segmen dunia pendidikan yang sampelnya diambil dari siswa SMA, guru, mahasiswa dan dosen, ternyata Provinsi Bangka Belitung menempati urutan ke 5 secara nasional.

"Itu di posisi pada sikap radikal, kami pelajari bahwa persepsi sikap ini memang bisa berubah-ubah. Sikap ini bisa kita perbaiki dan turunkan tergantung daripada kita melakukan pendekatan kepada pihak-pihak bersangkutan terutama ke pihak sekolah," terangnya.

Kontra radikalisasi yang menjadi tujuan dari FKPT harus dilakukan secara bersama-sama dan masiv. FKPT meminta untuk  mendorong supaya isu radikalisme terorisme menjadi isu daerah, dan disinilah mendorong peran kepala daerah untuk melakukan penataan dan bertanggung jawab minimal pada sisi yang paling rendah yaitu melakukan penataan regulasi terkait pencegahan radikalisme terorisme.

"Kita harus akui dengan banyaknya sekolah yang ada di provinsi bangka belitung dan luas area, kita masih fokus di pulau bangka karena melihat dari sisi anggaran. Wilayah yang jauh dan akses yang susah kita tempuh, itu harus menjadi isu yang penting," tuturnya.

Riswardi katakan FKRT adalah satu satunya forum atau lembaga yang mengedapankan pentingnya menurunkan paham dan sikap radikal melalui hasil kajian.

"Kita tidak bisa mengambil kesimpulan berdasarkan pada asumsi atau melihat sesaat dan apa yang dilakukan penelitian tahun ini, maka tahun depan hasilnya akan berbeda. Maka jangan heran kalau kita selalu menggeser titik lokasinya, dari tingkat provinsi, wali kota sampai desa," imbuhnya.

Kalau pemerintah daerah sudah didorong untuk ikut campur dalam masalah ini dan mengatasinya, maka setelah sudah mempunyai piranti yang kuat dan sistem yang bagus kenudian merangkul dunia pendidikan untuk memasukkan mata pelajaran budaya di kurikulum. Jadi harus sejak dini anak-anak diperkenalkan budaya supaya lebih cepat mendapatkan pemahaman konsesus kebangsaan.

"Kalau kita lihat secara global, banyak orang yang sudah mengalami gagal paham, seperti cara mereka memahami negara kita ini negara bangsa atau negara agama. Bahwa dari awal kita sudah sepakat bahwa negara ini negara bangsa bukan negara agama, yang didalamnya banyak suku, budaya dan agama. Yang mana itu sebuah kekayaan yang dapat dijadikan sebagai kekuatan," katanya.

Ketika ditanyakan langkah-langkah seperti apa saja yang akan dilakukan untuk menangkal radikalisme ditingkat pendidikan yang ada di Provinsi Bangka Belitung, Riswardi menegaskan bahwa kuncinya di regulasi. Untuk mengikat langkah itu supaya sistematis dan terukur, maka harus punya satu payung hukum yang kuat.

"Satu-satunya pilihan adalah bagaimana mengikat kepentingan bersama ini menjadi suatu payung hukum dalam sebuah regulasi kemudian diteruskan dalam bentuk MoU. Kalau untuk menindak radikalisme di dunia pendidikan harus diserang dari segala sisi, pertama dari sosialisasi dan yang kedua dari sisi kurikulum," ujarnya.

Ia berharap di Bangka Belitung ini terbebas dari radikalisme terorisme. Dan untuk aparat pimpinan di negeri ini terutama para pemangku kepentingan memberikan suatu perhatian memikirkan masalah ini.

"Kita berharap para pelaku kepentingan kalau dengan permasalahan seperti ini untuk lebih peduli. Dan saya sangat senang kepada Wakil Bupati Bangka Syahbudin SIP yang hari ini telah berkenan hadir dan bersedia untuk membuka acara ini. Dan yang terakhir yang harus saya sampaikan bagi para pemuka agama, mari bersama-sama memberikan pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat. Yang harus dipahami adalah bahwa Allah menciptakan kita itu berbeda dan itu adalah rahmat, hidup dialam dan bumi yang sama," pungkasnya. (BBR)


Penulis  : Ibnu
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review