Bakpao, Camilan Nusantara Khas Tionghoa  

Admin
Bakpao, Camilan Nusantara Khas Tionghoa  
Foto: IST

 BANGKA, BABEL REVIEW -- Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai budaya di dalamnya. Budaya-budaya tersebut melebur ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, misalnya makanan. Tahukah Anda budaya apa yang banyak mempengaruhi makanan di Indonesia? Budaya Tionghoa merupakan budaya yang mempengaruhi jenis makanan di Indonesia hingga saat ini, sebagaimana dilansir dari sahabatnestle.co.id.

Jika melihat jenis makanan khas Tionghoa, tentu Anda mengetahui beberapa di antaranya, salah satunya bakpao. Kata ‘bak’, yang berarti daging dalam Bahasa Hokkian, berasal dari kata ‘rou’ dalam Bahasa Mandarin. Sedangkan kata ‘pao’  berarti bungkus yang terbuat dari adonan tepung. Jadi, sebenarnya penamaan ini berasal dari resep bakpao itu sendiri.

Makanan serupa roti yang diisi daging atau kacang hijau ini merupakan makanan khas masyarakat Tiongkok. Bakpao pertama kali ditemukan oleh Zhuge Liang (181-234), seorang ahli militer Tiongkok. Ia menemukan resep bakpao ketika bersama prajuritnya harus melewati sebuah sungai berbahaya. Masyarakat lokal menyarankannya untuk menyediakan kepala manusia sebagai upaya pengorbanan agar mereka dapat melewati sungai tersebut dengan selamat.

Zhuge Liang tidak setuju untuk membunuh tentaranya demi pengorbanan tersebut. Ia kemudian memerintahkan tentaranya untuk memburu binatang dan membungkusnya dalam adonan tepung yang dibentuk serupa kepala manusia. Oleh karena ide mulia Zhuge Liang tersebut, resep bakpao ditemukan. Sejak saat itulah, resep bakpao juga mulai menjadi bagian dari masyarakat Tiongkok, yang seiring perjalanan waktu cukup dikenal di Indonesia.

Anda tidak perlu ragu dengan jenis daging yang digunakan. Resep bakpao yang ada di Indonesia merupakan resep yang telah disesuaikan dengan selera masyakarat lokal. Sama seperti panganan khas Tionghoa lainnya, seperti bakso, bakmi, serta bakwan. Bakpao kini telah menjadi salah satu jenis kuliner yang dapat dengan mudah kita temui. Selain lezat, kudapan yang satu ini juga tergolong mengandung sedikit minyak karena tidak digoreng ketika diolah. (BBR/*)

 

Banyak Dijumpai di Pasar Sungailiat

 

SUNGAILIAT, BABELREVIEW -- Di beberapa film-film kungfu sering terlihat makanan bakpao menjadi salah satu penyegar sekaligus pemanis dalam beberapa adegannya. Kue putih berbentuk bulat/bundar atau setengah lingkaran ini dikenal sebagai salah satu makanan khas Tionghoa yang juga disediakan untuk kebutuhan sehari- hari. Termasuk di Kota Sungailiat dan sekitarnya, makanan ini bisa dijumpai di berbagai titik terutama saat menyapa konsumennya mulai sore hari. Tempat kukusnya yang besar seolah menjadi ciri khas dari tempat penjualan makanan camilan yang cukup digemari masyarakat dan populer ini. Isinya pun bermacam- macam, mulai kacang hjau, kacang tanah, gula, ayam, dan lainnya.

Siska, warga Tionghoa Sungailiat mengaku suka dengan kue bakpao. Apalagi sejak kecil ibunya sering membuat kue ini meski dengan ukuran kecil sebagai suguhan. Termasuk saat ini ukuran yang lebih kecil dengan harga Rp 1.000 banyak ditemui di kawasan Pasar Sungailiat, terutama di pagi hari dengan tampilan yang segar.

“Saya melihat di Pasar Sungailiat saat pagi hari ada kue bakpao yang disediakan terutama ukuran kecil, sedangkan untuk ukuran besar dijual di tiga titik di Kota Sungailiat seperti di kawasan China Town Jalan  S Parman, Air Anyut, dan di Kenanga dengan ciri khas tempat kukusnya yang berukuran besar. Menurut saya kue bakpao enak rasanya dan tampilannya unik,” ujar Siska. (BBR)