BALLAR (2)

kasmirudin
BALLAR (2)
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian. (Foto: Fierly)

Sejak biji Timah mulai diteliti di sungai Bangkakota dan sungai Olim pada masa sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo (Tahun 1724-1757 Masehi) dan kemudian karena deposit Timah yang besar di wilayah pesisir Barat pulau Bangka, maka eksplorasi dan penelitian biji Timah kemudian diperluas wilayahnya ke sungai-sungai di sekitarnya seperti sungai Ballar, sungai Nyireh, sungai Gosong, sungai Tagak dan sungai Kepoh oleh Wan Akub dan Wan Seren dibantu para patih dan batin pribumi Bangka yang berkuasa di daerahnya.

Penelitian dilakukan atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo yang singgah di Bangkakota (sekitar tiga bulan) untuk mempersiapkan peralatan perang dan memperbaiki kapalnya (18 kapal milik Sultan dan 40 kapal milik Daeng Berani) sebelum menyerang pusat kekuasaan Kesultanan Palembang. Kemudian dari itu maka ratu Mahmud Badaruddinpun berangkat di dalam Hijrah an-Nabi salla ‘Illahu ‘alaihi wa-sallama as-sanat 1127 dan tahun Holanda 1717 (Wieiringa, 1990:82).

Pengelolaan Timah di sungai Olim dan sungai-sungai di sekitarnya termasuk di sungai Ballar, kemudian diserahkan kepada Wan Seren dan anaknya Wan Adji atau Tuk Adji. Wan Adji atau Wan Usman putera Wan Seren kemudian oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo diakhir masa kekuasaannya diangkat sebagai Keranggan atau Rangga sebagai wakil sultan di pulau Bangka (Karim, dkk, 1996:8).

Pada masa Sultan Ahmad Najamuddin I Adikesumo, untuk meningkatkan produksi Timah sebagai penghasilan utama Kesultanan Palembang Darussalam, didirikanlah beberapa pangkal atau negeri tempat kedudukan demang dan jenang di wilayah Depati Pakuk. Kemudian atas perintah Depati Pakuk, berdirilah beberapa pangkal atau pengkal yaitu Pangkal Toboali, Pangkal Kepoh, Pangkal Ballar dan Pangkal Koba/Kubak (Sujitno, 2011:160).

Berdasarkan catatan Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, bundel Bangka No.41, pada masa pulau Bangka di bawah pemerintahan Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, Muhammad Bahauddin (masa pemerintahan Tahun 1776-1803 Masehi), sekitar Tahun 1792 Masehi, pulau Bangka mengalami masa yang sulit karena merajalelanya perampokan terhadap pangkal-pangkal pusat penambangan Timah milik kesultanan yang dilakukan oleh perompak laut yang menamakan diri “Rayad” dari Siak dan juga mengganasnya para perampok yang menamakan dirinya dengan sebutan Lanun (Elvian, 2016:81). Rayad atau Rakyat adalah suku laut atau orang Laut yang mendiami Siak. Dalam hubungan dengan kerajaan Riau dan Johor, suku laut ini dikenal pula dengan nama “Rakyat” bersama suku-suku lainnya.

Untuk membedakan mereka dari rakyat lainnya mereka juga disebut Rakyat Laut. Dalam kedudukan rakyat sultan, mereka tidak dikenakan pajak perorangan, tetapi diwajibkan memberi jasa sebagai 3 pengayuh perahu kerajaan, menyediakan perahu jika diperlukan oleh penguasa dan sebagainya (Lapian, 2009:79). Daerah-daerah seperti Kepo, Ulin, Nyireh, Ballar dan Bangkakota tidak luput dari perampokan dan penjarahan. Dengan pengecualian Toboali, dimana kubu atau benteng pertahanan kemudian telah buru-buru dibangun dekat semua wilayah sungai di sepanjang pantai Barat dan Selatan, terutama yang dari Banko-Kutto, Selan, Ballar dan Kappu, Kubu atau Benteng diberikan tempat tinggal dan keamanan untuk menghadapi Lanons (Horsfield, 1848:317).

Bajak laut yang menamakan diri Lanun membangun Pangkalan di sisi Utara sungai Kepo, sebelum menyerang dan merampas kawasan di pesisir Barat pulau Bangka dan kawasan di pesisir Timur pulau Bangka, bahkan mereka menjarah ke wilayah Paku di pedalaman pulau Bangka. Rakyat yang ketakutan karena serangan bajak laut banyak yang lari ke wilayah pesisir Timur bagian Tengah pulau Bangka ke wilayah Teru, Pangkul dan sampai ke Pangkalpinang.

Pada masa kekuasaan Inggris di pulau Bangka, gambaran beberapa pemukiman atau kampung di wilayah Bangka Selatan didiskripsikan dengan cukup jelas, umumnya pemukiman penduduk berada di hulu atau tepi sungai yang bermuara ke selat Bangka. Kawasan pemukiman penduduk atau batin diberi nama dengan nama sungainya, misalnya Neerie (Nyireh), Oolim (Olin/Olim), Ballar atau Surdang, dan Banca Cotta (Bangkakota). Kemudian ada Permisan, satu pemukiman penduduk yang terletak di kaki gunung dengan nama yang sama dengan gunung, sekitar Delapan mil dari pantai. Sarana transportasi yang digunakan pada masa ini adalah kolek atau sampan kecil (kano), biasanya terbuat dari batang pohon yang ditebuk/ditebok atau dilobangi.

Di samping bekerja di tambang-tambang Timah, penduduk kampung juga bekerja mencari hasil-hasil hutan seperti Madu, Lilin, dan anyaman tikar serta berladang atau berume padi darat. Pada umumnya kampung-kampung juga berfungsi sebagai pangkal atau pelabuhan pengumpul sebelum barang-barang diangkut atau didistribusikan ke Toboali, Mentok ataupun ke Palembang.

Beberapa pemukiman penduduk di pesisir Barat bagian Selatan pulau Bangka dimulai dari Toobooallie menuju Minto (Mentok); pada jarak sekitar delapan mil, terdapat sungai kecil yang disebut Neerie (Nyireh), pintu masuk pada muara sungai menuju pemukiman penduduk sangat dangkal, populasi penduduknya (batin Neerie) dimasukkan ke dalam catatan di Toobooallie. Tujuh mil selanjutnya dari Neerie adalah sungai Oolim (Olin/Olim). Sungai ini juga termasuk sungai kecil. Sekitar delapan mil dari sungai terdapat benteng kecil untuk keamanan demang atau jenang, atau kepala pribumi, dan orang-orangnya ditempatkan di sini. Satu mil di luar muara sungai Oolim hanya dapat dilayari oleh sampan atau kolek (kano). (Bersambung)


Penulis  : Akhmad Elvian (Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Penerima Anugerah Kebudayaan)
Editor    : Kasmir
Sumber : Buku Kampoeng di Bangka Jilid III, Akhmad Elvian, 2019