BALLAR (3)

kasmirudin
BALLAR (3)
Akhmad Elvian (Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Penerima Anugerah Kebudayaan)

ADA dua belas Campoongs (kampung) di lingkungan tempat ini (batin Oolim), dengan populasi penduduk sebesar 267 orang, yang terdiri dari segala usia. Mereka telah menghasilkan seratus lima puluh peculs (pikul) Timah dalam setahun, dari lima tambang kecil, mereka juga menawarkan diri untuk mengangkut Timah yang kemudian dikirim ke Minto atau Toobooallie.

Mereka juga mengumpulkan setiap tahunnya sekitar dua puluh peculs lilin (Court, 1821:208, 209). Delapan mil dari muara sungai Oolim (Olim/Olin) ke arah Barat setelah melalui pulau Besar adalah muara sungai Ballar, atau sungai Surdang, sedangkan kampoong (kampung) dan batin Ballar atau Surdang terletak di dekat hulu sebelah Utara sungai Ballar, dan dapat ditempuh dari muara sungai dengan menggunakan Kano (Sampan atau Kolek) dengan lama perjalanan sekitar Tiga belas jam.

Alur pelayaran di sungai sangat terganggu oleh hutan (pepohonan) yang menjorok di setiap sisi sungai, sehingga menyulitkan jalannya perahu. Hutan inilah yang banyak menghalangi, dan sebagai salah satu pengaman serangan bajak laut yang beberapa tahun lalu telah merampok dan membawa penduduk tidak kurang dari Dua ratus Lima puluh orang dari 4 batin Ballar, dan banyak lagi kemudian membawa (merampok) orang untuk dijadikan budak di tahun-tahun berikutnya.

Untuk merampok, para bajak laut atau perampok laut biasanya menggunakan perahu yang bermacam-macam bentuknya. Tetapi dalam laporan kolonial selalu disebut tiga jenis perahu, yaitu penjajap, lanong dan kakap. Perahu penjajap berukuran sedang mempunyai 20 sampai 30 pendayung yang duduk di atas bangku kecil beralaskan tikar. Perahu dilengkapi dengan beberapa meriam dan lela. Perahu lanong berukuran 60 sampai 70 kaki, perahu jenis lanong ini banyak digunakan untuk mengangkut orang dan barang daripada untuk bertempur.

Sedangkan perahu kakap adalah perahu kecil sekitar 20 sampai 25 kaki dengan awak sekitar 8 sampai 10 orang. Perahu kakap digunakan sebagai perahu perintis atau pengintai. Jenis perahu ini tidak pernah berlayar sendirian, selamanya ada perahu besar yang menemaninya.

Jadi apabila menjumpai perahu semacam ini, pasti di perairan sekitarnya ada penjajap atau lanong yang menunggu di tempat persembunyian (Lapian, 2009:152,153). Jenis-jenis perahu inilah yang kebanyakan hilir mudik memasuki sungai-sungai di kawasan Toboali dan pesisir Barat pulau Bangka bagian Selatan yang kemudian merampok dan merampas Timah, harta benda serta penduduk di kampung-kampung dan batin yang umumnya terletak di dekat tepian sungai.

Penduduk Ballar dulunya menjadikan sungai sebagai sarana untuk lalu lintas dan kegiatan lainnya terutama untuk membawa hasil-hasil pekerjaan dari penduduk seperti tikar, madu, dan lilin. Jumlah populasi penduduk, setelah dikurangi dengan penduduk yang dirampok bajak laut menjadi Sembilan puluh Satu orang, dan terdiri dari berbagai usia. Jarak kampung Ballar ke Bangkakota yang terletak di Utaranya bila ditempuh melalui perjalanan darat dengan kondisi jalan yang buruk dapat ditempuh sekitar 10 jam perjalanan.

Seorang Dupattie (depati) berkuasa di Ballar (Depati Ballar), dan bertanggungjawab terhadap kekuasaan di wilayah ini. Depati Ballar telah membuka dua tambang kecil di daerah ini, dan hasil pertaniannya walaupun dalam jumlah yang kecil telah dikirim ke Minto (Muntok).

Perampokan oleh bajak laut memang sangat menakutkan bagi penduduk pulau Bangka, apalagi tujuan perampokan tersebut tidak hanya merampok harta benda dan Timah hasil penambangan, akan tetapi manusia juga mereka rampok untuk dijadikan budak yang kemudian diperjual belikan, dipertukarkan, disewa atau dipinjam, disiksa dan menjadi pekerja paksa oleh majikannya.

Kondisi para budak yang dirampok bajak laut seperti digambarkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi: “...orang yang empunya hamba-hamba itu kelakuannya seperti binatang yang tiada bermalu dan tidak takut kepada Allah...” (Abdullah, 1966:224-225).

Menjadi budak menyebabkan seseorang tidak merdeka dan berada dalam stratifikasi sosial yang paling rendah. Umumnya penduduk pulau Bangka untuk menghindari perampokan bajak laut menyingkir dari kampung-kampung mereka di pesisir dan tepian sungai ke wilayah pedalaman di rimba pulau Bangka dan hidup dalam kesengsaraan.

Selanjutnya antara sungai Ballar dan wilayah Permisan di Barat lautnya terdapat tiga sungai kecil yang kurang penting yaitu sungai Cabal (Kabal), sungai Enross (?), dan sungai Nyou (mungkin Nyiur), yang tidak terlalu penting dan pada pesisir Baratnya terdapat gugusan Karang Tambago.

Permisan sendiri berdiri di sebelah Tenggara kaki gunung dengan nama yang sama (Gunung Permisan), terletak sekitar delapan mil dari pantai Tanjung Branni atau Tanjung Berani atau Parani, diambil dari nama Daeng Berani atau Daeng Parani, salah satu pimpinan pasukan Mahmud Badaruddin I Jayowikramo yang singgah di sini sebelum menyerang Palembang (Elvian, 2016:8).

Proses diaspora Bugis dalam aspek pemerintahan dipaparkan oleh Tuhfat Al-Nafiz dan Silsilah Melayu dan Bugis, sebagaimana dikutip Andaya. Seperti disebut di muka bahwa Daeng Parani, menetap di Siantan merupakan tempat pertemuan penting bagi orang Bugis 5 yang kemudian mendapat keberuntungannya. (Bersambung)


Penulis  : Akhmad Elvian (Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Penerima Anugerah Kebudayaan)
Editor    : Kasmir
Sumber : Buku Kampoeng di Bangka Jilid III, Akhmad Elvian, 2019