Bappebti : Peran Media Salah Satu Kunci Sukses Industri PBK di Indonesia

kasmirudin
Bappebti : Peran Media Salah Satu Kunci Sukses Industri PBK di Indonesia
JFX dan PT. KBI menggelar Media Gathering di Bangka Belitung selama 3 hari pada Jumat (1/11) hingga Minggu (3/11). (Foto: Diko)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), mengapresiasi kegiatan Media Gathering dengan industri media dengan tema “Mengenal Pasar Fisik Timah dan Kepulauan Bangka” yang diselenggarakan oleh PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan PT Kliring Berjangka Indonesia yang digelar selama 3 hari yakni Jumat (1/11) hingga Minggu (3/11) di Pangkalpinang Provinsi Bangka Belitung.

"Terima kasih atas inisiatif menyelenggarakan Pelatihan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) untuk rekan-rekan media secara rutin setiap tahun. Semoga dengan kerja sama dan komunikasi yang semakin baik antara pelaku usaha dan media, pemberitaan mengenai industri PBK akan tersampaikan kepada masyarakat secara baik dan berimbang," kata Kepala Bagian Kerja Sama dan Informasi Publik Bappebti, Sentot Komarudian yang mewakili Kepala Bappebti.

Pada kesempatan tersebut, Sentot menjelaskan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 10 tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, peran PBK sangat strategis bagi perekonomian nasional di era perdagangan bebas, yaitu sebagai sarana lindung nilai (hedging), sarana pembentukan harga (price discovery) dan alternatif investasi yang sangat diperlukan bagi pelaku usaha untuk melindungi usahanya.

Namun, harus disadari bahwa perdagangan berjangka komoditi primer dengan mekanisme transaksi multilateral di Indonesia masih belum berkembang sesuai dengan yang diharapkan, walaupun terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

"Hal ini terlihat dari masih rendahnya perdagangan kontrak berjangka transaksi multilateral di Bursa Berjangka, bila dibandingkan dengan kontrak SPA. Keadaan ini tidak sesuai dengan kondisi Indonesia sebagai negara produsen utama beberapa komoditi utama seperti CPO, kopi, kakao, karet, batubara, timah, dll," ungkap Sentot.

Saat ini, perkembangan volume transaksi kontrak berjangka dari Januari 2019 hingga September 2019 sebesar 8,013,857 lot, mengalami kenaikan sebesar 26,50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 sebesar 6,335,043 lot. Untuk transaksi multilateral sebesar 1,190,581 lot mengalami kenaikan sebesar 3,27% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 sebesar 1,152,936 lot.

Menurut Sentot, kunci sukses untuk mendorong peningkatan pemahaman mengenai industri PBK adalah melalui edukasi (education) dan pemberdayaan (empowering). Edukasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti sosialiasi dan workshop, sehingga masyarakat termasuk media agar lebih mengerti tentang Perdagangan Berjangka Komoditi beserta manfaatnya.

"Untuk itu besar harapan kami, bahwa dengan pelatihan ini akan tercipta pemahaman yang lebih baik mengenai industri PBK bagi rekan-rekan media. Sehingga dapat dijadikan referensi dalam menulis berita di kemudian hari," imbuhnya.

Selain edukasi, faktor pemberdayaan (empowering) juga tidak kalah penting. Hal  ini perlu diarahkan kepada peningkatan kemampuan para pelaku usaha. Bursa Berjangka juga harus terus menerus belajar dari kesuksesan bursa-bursa lain di luar negeri, dalam hal mengembangkan produk-produk multilateral yang menarik, wajar dan transparan, serta mampu memprediksi kebutuhan lindung nilai dunia usaha di masa mendatang. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat menjadi negara acuan dalam penetapan harga komoditi di pasar internasional. (BBR)


Penulis  : Diko
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review