Berperahu Menyusuri Sungai Upang, Wisatawan Dibawa ke Era 80-an

kasmirudin
Berperahu Menyusuri Sungai Upang, Wisatawan Dibawa ke Era 80-an
Tim Babel Review Bersama Kades Tanah Bawah saat menelusuri keindahan Sungai Upang yang masih terjaga keasriannya. (Foto: Ferly)

PUDINGBESAR, BABELREVIEW.CO.ID -- Provinsi Bangka Belitung sebagai sebuah kepulauan menyimpan banyak keindahan alam  yang luar biasa. Pantai yang membentang sepanjang garis pulau,  hanyalah salah satu keindahan yang dititipkan Allah SWT kepada masyarakat Babel.

Masih banyaknya hutan-hutan dan sungai yang asri dan belum tersentuh tangan jahil manusia, membuat Babel memiliki banyak destinasi wisata alami yang bisa dinikmati. Salah satunya adalah Sungai Upang, yang terletak di Desa Tanah Bawah, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka. Sungai satu ini sangat rekomendasi buat warga yang butuh tempat wisata yang tenang dan damai.

Pasalnya, selain air sungai yang sangat jernih, Sungai Upang ini juga masih sangat natural. Sehingga masih banyak jenis ikan yang hidup di sungai ini. Bahkan ikan-ikan tersebut sulit ditemukan di sungai-sungai lain, seperti Ikan Tapah yang merupakan ikan khas dari Sungai Upang. Berdasarkan pengakuan masyarakat sekitar, Ikan Tapah memiliki ukuran yang besar, yang bisa mencapai berat 70 Kg.

Kepala Desa Tanah Bawah, Holidi mengungkapkan Sungai Upang ini sejak zaman nenek moyang dulu memang sudah dikenal dan jadi lokasi mata pencaharian para nelayan sekitar. Namun pada tahun 2015 lalu, Ia baru terpikir bahwa Sungai Upang ini memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata desa, karena keindahannya.

"Saya lihat Sungai Upang ini sangat potensial, maka kita bangun dan kembangkan. Sekaligus ingin mengingatkan masyarakat agar aliran Sungai Upang ini dijaga, karena sungai ini belum tercemar. Sebab itu masih banyak jenis ikan yang hidup di Sungai Upang ini," katanya.

Menelusuri indahnya Sungai Upang, akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan oleh Tim Babel Review (BBR). Kedatangan Tim BBR disambut baik oleh pihak pemerintah Desa Tanah Bawah dan warga sekitar sungai.

Berbincang sejenak, kemudian Tim BBR langsung ditemani kepala desa dan perangkat desa menuju lokasi Sungai Upang. Menelusuri jalan tanah merah sepanjang kurang lebih 5 KM, menjadikan perjalanan menuju Sungai Upang ini sedikit menantang.

“Setibanya di lokasi, kami langsung dibuat terpesona dengan hamparan padang rumput hijau penyejuk mata. Beruntungnya lagi, saat kami tiba ada nelayan yang sedang memancing dan mendapat tiga ekor Ikan Tapah yang menjadi khas dari Sungai Upang ini. Meskipun yang kami lihat masih anak Ikan Tapah, tapi ini salah satu pengalaman yang luar biasa bagi kami,” kata Tim BBR, Diko.

Menambah keindahan sungai ini, di seberang sungai atau tepatnya di tengah hamparan sungai terdapat “Pulau Anggrek” yang berisi berbagai macam jenis anggrek alami. Namun sayangnya, saat kami datang kondisi hutan di area  “Pulau Anggrek” tersebut baru saja terbakar dan hanya beberapa saja yang bisa diselamatkan. Meskipun begitu lokasi tersebut masih menarik dijadikan lokasi berswafoto.

“Setelah melihat hasil tangkapan nelayan, kami juga diajak menyusuri Sungai Upang. Air yang jernih dan dingin menyertai perjalanan kami menggunakan perahu. Ditemani gerimis yang turun sejak pagi, semakin menambah indahnya perjalanan kami menyusuri Sungai Upang hingga menuju muara,” imbuhnya.

Banyak sekali pemandangan yang menarik selama perjalanan. Hamparan padang rumput dan pohon Rasau serta petak sawah seakan berbaris menemani perjalanan Tim BBR. Bahkan beragam jenis burung seperti Belibis dan Bangau, seakan menyambut hangat kedatangan pengunjung.

Di Sungai Upang ini juga dibangun beberapa saung atau pondok peristirahatan yang dihubungkan menggunakan jembatan. Sehingga bagi para pengunjung dapat bersantai bersama keluarga, dengan memanfaatkan saung-saung tersebut. Tidak perlu khawatir, di Sungai Upang juga terdapat mushola dan toilet dan banyak warung-warung untuk sekedar melepas dahaga dan lapar.

"Saya bertekad untuk membangun Sungai Upang ini dengan merubah sistem pola pikir masyarakat untuk kembali ke alam, dengan menjaga lingkungan dan memperhatikan flora  dan fauna. Ini semua mulai dibangun dari tahun 2017, diawali dengan membangun akses jalan kemudian di tahun 2018 langsung kita bangun musholla, serta saung-saung ini. Ternyata setelah dibuat banyak pengunjung yang datang. Sehingga kita bangun dermaga, agar pengunjung bisa menelusuri Sungai Upang ini dengan hanya berjalan kaki," ungkap Kades Holidi.

Kades Holidi mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Babel Erzaldi Rosman, yang telah mendukung pengembangan destinasi wisata desa Sungai Upang.

"Di tahun 2020 ini, gubernur akan memberikan bantuan sebesar Rp 300 juta. Rencananya dana tersebut akan kita manfaatkan untuk penambahan dermaga, saung, pondok penginapan, dan juga lokasi untuk budidaya Ikan Tapah,” ujarnya.

Dengan dikembangkan Sungai Upang ini, Holidi berharap akan menjadi salah satu yang menambah perekenomiman masyarakat dan PAD Desa Tanah Bawah. Penasaran dengan Sungai Upang, buruan melancong ke Desa Tanah Bawah. (BBR)


Penulis  : Diko
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review