Candu Game Online Tenggelamkan Pemuda Indonesia

kasmirudin
Candu Game Online Tenggelamkan Pemuda Indonesia
: Eka Sari, S.Si., M.Si

YOGYAKARTA, BABELREVIEW.CO.ID -- Baru-baru ini kita dihebohkan dengan pemberitaan dengan kasus kecanduan game online yang sebabkan anak alami gangguan jiwa. Beberapa media massa online melaporkan, bahwa salah satu rumah sakit jiwa daerah di Semarang dan rumah sakit jiwa di Jawa Barat masing-masing telah menangani 3 pasien dan 209 pasien yang menderita gangguan jiwa akibat kecanduan game online. Berita semacam ini sangatlah mencemaskan kita sebagai orang tua.

Jumlah gamers di Indonesia per Juli 2017 adalah 43,7 juta, sehingga Indonesia menduduki  peringkat 16 besar di dunia dengan pemain game aktif. Usia gamer di Indonesia adalah 21-35 tahun (47%) , 10-20 tahun (36%) dan 36-50 tahun (17%) dengan persentasi jumlah pemain laki-laki (56%) lebih banyak dari pada pemain perempuan (44%). Tiga game online yang paling laris di Indonesia sepanjang tahun 2017 adalah Clash of Clans, Mobile Legends dan Clash Royale. Data dan fakta tersebut diinformasikan dari Newzoo, Appannie, Forbes, Techinasia.

Laporan data Digital Indonesia tahun 2019 menunjukkan, bahwa sekitar 53% dari total jumlah penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif internet terutama ponsel aktif, dan penggunaannya setiap hari 79%. Beberapa aktivitasnya adalah 98% menonton video online, 50% menonton acara TV melalui internet, 46% memainkan game langsung melalui internet, 36% menonton langsung orang bermain game, 17% menonton turnamen E-Sport. Data dari Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia tahun 2014 menghasilkan bahwa pendidikan tertinggi dalam pengguaan internet di tingkat SMU sederajat.

Ada banyak alasan mengapa remaja suka bermain game online, seperti: mencari teman, mencari kesenangan, menghilangkan stress, berkumpul dengan banyak orang, meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi, agar tidak ketinggalan zaman dan sebagainya. Namun, tanpa disadari kesenangan sesaat tersebut sebenarnya akan menjadi boomerang bagi anak tersebut juga bagi orang tua.

Beberapa kajian terkait pengaruh game online sebenarnya sudah banyak dipublikasikan pada jurnal nasional maupun internasional. Tahun 2017 di jurnal JOM. FISIP, Mimi Ulfa melaporkan ada beberapa pengaruh kecanduan game online terhadap prilaku remaja, seperti: menurunnya nilai pelajaran di sekolah,  merasa cemas dan mudah marah, serta mengalami gangguan tidur dan sakit kepala. Pada tahun yang sama, Drajat Edy Kurniawan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Yogyakarta juga menyatakan, semakin tinggi intensitas dalam bermain game online maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk berperilaku perilaku menunda pekerjaan (prokrastinasi).

Anak-anak yang sudah kecanduan dengan game online cenderung akan banyak menunda pekerjaan. Sehingga dapat melalaikan semua pekerjaan, baik dalam hal mengerjakan tugas dari sekolah dan di rumah, beribadah dan lain sebagainya. Mereka akan lebih cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Hal semacam ini akan merusak hubungan antara anak dengan orang tua, masyarakat sosial bahkan dengan sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, ada beberapa pihak yang akan berperan penting terhadap permasalahan game online di kalangan pemuda.

Pentingnya peranan orang tua

Selaku orang tua, kita juga harus introspeksi diri. Kenapa hal tersebut dapat terjadi pada anak kita? Kemana selama ini kita sebagai orang tua? Adakah kita mendampingi anak kita saat dia belajar, bermain dan saat suka dan dukanya?

Beberapa orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, acapkali membelikan handphone kepada anaknya di usia dini. Alasannya, agar anaknya tidak mengganggu kegiatannya atau tidak rewel. Anak-anaknya sudah diajarkan bermain game atau membuka akses internet lainnya. Anak zaman sekarang walaupun tidak diajari menggunakan sesuatu (seperti akses internet atau game online), mereka akan lebih pandai melakukannya karena rasa keingintahuan yang tinggi. Anakpun merasa senang dengan permainan teknologi canggih tersebut. Tanpa pengawasan orang tua yang ketat, lambat laun anak akan terhanyut dan tenggelam dengan game-game pada handphone.

Ketika anak sudah menunjukkan prilaku yang cuek bahkan susah diatur, tagihan internet/pulsa/listrik membengkak, maka barulah kita sebagai orang tua menyadari hal tersebut. Kita tidak bisa marah, karena kita lah yang memfasilitasinya dan mengabaikan mereka dengan mementingkan urusan kita.

Maka dari itu, peran orang tua sangatlah penting dalam mendidik anaknya terutama mendidik karakter sedari usia dini, menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik dan budi pekerti yang baik lainnya. Tanamkan nilai-nilai ibadah kepada sang Maha Pencipta dan berkhlak mulia kepada keluarga dan orang lain. Sebagai orang tua, kita harus menjadi contoh yang baik kepada anak.

Orang tua harus lebih kreatif jika terlanjur anak sudah kecanduan game online, dengan mengatur jadwal anak sehari-hari dari bangun tidur hingga tidur lagi. Jadwal yang terorganisir dengan baik akan membuat anak sibuk dan perlahan-lahan akan mengalihkan perhatian dari game online. Agar anak tidak jenuh, ajak juga anak ke tempat bermain. Sehingga anak bisa berinteraksi dengan masyarakat sekitar, sehingga akan meningkatkan rasa empati dan kepedulian dengan masyarakat.

Bagaimana dengan orang tua yang memang rutinitasnya bekerja di luar rumah? Kita sebagai orang tua harus pintar dalam mengatur waktu untuk anak dan keluarga. Sebaiknya tidak membawa urusan pekerjaan dari kantor jika sudah di rumah. Jika sudah di rumah, berikan hak anak dan keluarga terhadap kita. Sempatkan diri untuk menelpon anak ketika masih bekerja di luar, agar anak merasakan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Kontribusi masyarakat setempat

Masyarakat setempat harus sering melakukan sosialisasi mengenai dampak buruk dari kecanduan game online kepada anak-anak, remaja bahkan orang dewasa. Media-media sosialisasi harus ditingkatkan lagi. Karena diduga pemicu kenakalan remaja dan kriminalitas di masyarakat, adalah dari kecanduan game online. Maka, masyarakat juga harus turun tangan untuk mengatasi hal tersebut. Selain itu, operator game online juga harus membantu mengawasi jam operasional game online sehingga tidak disalahgunakan.

Kebijakan pemerintah harus tegas

Dalam kasus dampak negatif candu game online, pemerintah juga harus ikut andil. Sebaiknya harus ada kebijakan penyaringan game-game online dan penggunaan game online sesuai dengan usianya. Contohnya, untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun diberikan game-game yang dapat mengedukasi mereka baik dalam upaya peningkatan karakter, akhlak, pendididikan, agar menjadi lebih baik. Pengawasan dan peraturan pemerintah juga harus tegas dan ketat, terutama bagi tempat-tempat yang secara sengaja membuka tempat game online bagi anak-anak hingga 24 jam.

Jauh dari ketiga hal tersebut yang berperan penting dalam mengurangi efek negatif dari kecanduan game online adalah diri kita sendiri. Sebagai pemuda, kita harus mempunyai komitmen kuat untuk tidak terbelenggu dengan game online. Kesenangan yang diberikan game online tersebut hanya sesaat, sementara kita harus menjalani kehidupan dan mengingat kehidupan di dunia sifatnya sementara. Kematian akan melamar kita di setiap saat. Maka kita perlu mempersiapkan bekal-bekal kematian dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat dibandingkan hanya fokus dengan game online.

Dalam mencari hiburan, tidak harus dengan bermain dari game online. Banyak hiburan lainnya yang lebih bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga bahkan masyarakat. Kita adalah makhluk sosial dan butuh masyarakat. Maka, sebagai makhluk sosial sudah sepantasnyalah kita berbaur dalam kegiatan di masyarakat.

Dampak kecanduan game online terhadap pemuda sangat terasa, baik di lingkungan keluarga, agama, masyarakat bahkan bangsa. Nasib bangsa Indonesia sebenarnya ada di tangan pemuda-pemudanya. Seperti apa yang dinyatakan oleh Bung Karno “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”. Seribu orang tua dapat bermimpi, namun satu orang pemuda bisa mengubah dunia.

Kesadaran pemuda terhadap dampak negatif dari kecanduan game online merupakan hal yang paling signifikan. Jangan biarkan game online merusak karakter pemuda kita, serta menghancurkan harapan keluarga dan bangsa.

Asalkan ada niat baik yang kuat, maka tidak ada kata terlambat untuk orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk menyelamatkan pemuda-pemuda Indonesia agar tidak terlalu jauh tenggelam dalam kecanduan game online. (BBR)


 

Penulis  : Eka Sari, S.Si., M.Si ( Mahasiswi S3 Prodi Biologi Universitas Gadjah Mada )
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review