Desa Namang Bakal Punya Spot Wisata Terpadu

kasmirudin
Desa Namang Bakal Punya Spot Wisata Terpadu
Wisatawan asing yang datang berkunjung ke destinasi wisata hutan pelawan Desa Namang, Bangka Tengah. (Foto: Ist)

BANGKA TENGAH, BABELREVIEW.CO.ID -- Kabupaten Bangka Tengah mulai menunjukan konsistensi dalam mengembangkan destinasi wisatanya. Salah satunya adalah Desa Namang, yang sedang menciptakan wisata terpadu.

Wisata terpadu sendiri adalah pengembangan tiga wisata sekaligus, yakni wisata hutan pelawan, danau pelawan dan gurun pelawan yang saling terintegrasi satu sama lain.

Zaiwan, selaku Ketua Pengelola Kelompok Wisata Peduli Hutan dan Pariwisata mengatakan, dibawah hutan pelawan memiliki kandungan timah yang cukup tunggi. Untuk itu ia berniat melestarikannya dengan mengembang hutan pelawan dengan potensi lebah madu, jamur pelawan dan kayu khas Bangka.

"Saya melihat spot wisata Desa Namang bukan hanya hutan pelawan, masih ada gurun pelawan dan danau pelawan. Oleh sebab itu saya ingin mengembangkan ketiganya agar saling terintegrasi, supaya 10-50 tahun kedepan anak cucu kita masih bisa menikmati indahnya kearifan lokal alam Bangka Belitung khususnya Desa Namang, Bangka Tengah," ujarnya, Sabtu (28/9/2019).

Dalam konsepnya, Zaiwan berencana menyajikan wisata ini sebagai icon dan miniaturnya Bangka Belitung yang mana dari zaman dulu sudah dikenal sebagai negeri lada, timah dan madu pahit (madu pelawan).

"Dalam konsepnya, di wisata terpadu ini nanti ada wisata edukasi lada, wisata ngelimbang timah, wisata musung madu, wisata malam (melihat binatang-binatang malam yang ada di hutan pelawan), wisata kuliner dengan lempah jamur pelawannya dan jus madunya ditambah spot wisata gurun dan danaunya yang eksotis," jelasnya.

Ziawan menambahkan, di area wisata juga akan dibuat home stay, camping ground, spot mancing, wisata burung dan wisata kelekak yang terdiri dari ratusan hektare lahan milik pemda, desa dan milik masyarakat sekitar. Sehingga membentuk miniaturnya Bangka Belitung.

"Hutan pelawan sudah dikunjungi wisatawan dari Aceh sampai Papua, dan sudah lebih dari 60 negara datang kesini untuk melihat wisata edukasi, kuliner, alam serta budayanya. Dengan potensi besar dan minat wisatawan yang sangat tinggi ini, maka sayang untuk tidak dikelola dengan baik. Selain itu, kita juga bisa melestarikan kearifan lokal yang sudah turun temurun dijaga," tandasnya. (BBR)


Penulis  : Faisal
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review