Dibalik Perjuangan Reklamasi Hutan Pelawan

kasmirudin
Dibalik Perjuangan Reklamasi Hutan Pelawan
Mantan Kepala Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Zaiwan, saat menerima penghargaan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. (ist)

NAMANG, BABEL REVIEW.CO.ID -- Siapa yang tidak tahu dengan Hutan Pelawan yang terletak di Desa Namang, Bangka Tengah. Dibalik rimbunnya pohon pelawan dan sejuknya udara khas perbukitan, ada sosok inspiratif yang telah berjuang mereklamasi lahan kritis menjadi destinasi wisata yang kian terkenal tersebut. Adalah Zaiwan, mantan Kepala Desa Namang yang kini fokus mengelola Hutan Pelawan dibantu oleh masyarakat setempat.

Zaiwan menjelaskan, dulu hutan di Desa Namang digunakan untuk menanam padi dengan cara tradisional. Setelah penambangan bebas dilakukan oleh masyarakat pada tahun 2000-an banyak yang menambang hutan, karena lebih memiliki nilai ekonomis. Disitulah hatinya mulai terketuk mengembalikan fungsi hutan yang rusak akibat penambangan.

Namun perjuangannya tak mudah. Ia pun kerap dianggap kurang waras oleh warga sekitar, karena berusaha menanam pohon pelawan di lahan seluas 300 hektare tersebut. Pasalnya, masyarakat lebih memilih menambang timah, karena langsung mendapat hasilnya.

“Saya mulai menanam pada tahun 2006. Lalu pada 2008 saya dipercaya oleh masyarakat menjadi Kepala Desa Namang. Saat itulah Hutan Pelawan saya lindungi dari para penambang menjadi Hutan Lindung,” ujar Zaiwan.

Dalam melakukan reklamasi ia memilih menanam pohon pelawan, karena selain dapat melakukan penghijauan juga ingin melestarikan pohon asli Bangka. Pohon pelawan yang memiliki batang berwarna merah ini, sudah ia ketahui memiliki banyak manfaat. Salah satunya yakni sebagai penghasil bunga yang dapat mengundang lebah untuk menghisap dan membuat sarang.

“Dengan demikian waktu itu 2008 saya mengumpulkan madu dari para petani dan membentuk UMKM madu pahit sampai sekarang. Madu ini sejak dulu sudah terkenal sampai luar Bangka, makanya ini bisa menjadi nilai ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.

Selain madu, banyak hasil lainnya dari Hutan Pelawan, seperi kulat pelawan yang dikenal sebagai jamur termahal, teh daun pelawan, pengobatan alternatif menggunakan lebah dan manfaat lainnya. Kini Hutan Pelawan pun semakin berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus tempat edukasi dan penelitian dari berbagai disiplin ilmu.

Kini, berbagai inovasi terus dilakukan Zaiwan dan pengelola Hutan Pelawan. Dibantu masyarakat sekitar menawarkan paket wisata menarik di lokasi Hutan Pelawan. Paket itu antara lain memanen kulat pelawan, lebah madu, penyediaan tempat menginap wisatawan, dan paket sehari menjadi petani lada. Perjuangan panjang reklamasi lahan kritis pun kini berbuah manis. Masyarakat sekitar pun ikut memetik hasilnya.

Zaiwan mengatakan, sejak Erzaldi Rosman menjabat sebagai Bupati Bangka Tengah banyak bantuan yang telah ia terima, baik bantuan fasilitas, infrastruktur dan sebagainya hingga Hutan Pelawan terus berkembang.  Untuk itu ia sangat mendukung bila Gubernur Erzaldi diangkat sebagai Bapak Penggerak Reklamasi Nasional, karena sudah terbukti sejak lama mendukung reklamasi lahan kritis. (BBR)


Penulis  : Irwan Aulia Rachman
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review