Duta Bahasa Bangka Belitung Ikut Pertukaran Budaya di Jerman

Admin
Duta Bahasa Bangka Belitung Ikut Pertukaran Budaya di Jerman
Foto :Dok Pribadi Sardha

KECIL-kecil cabe rawit. Tampaknya itulah istilah yang pas untuk menggambarkan putri kebanggan Bangka Belitung, Sardha Fadhilla. Perempuan kelahiran Sungailiat, 14 September 1995 ini sekarang sedang berada di Jerman dalam program Au-Pair (berasal dari Bahasa Perancis on-pair) yang berarti sejajar atau balas jasa.

Program ini merupakan program pertukaran budaya (cultural exchange) di mana peserta program dianggap sebagai 'anak' dari keluarga angkat yang bertanggung jawab terhadap mereka selama mengikuti program mulai dari fasilitas, sekolah, tempat tinggal dan banyak lagi hal lainnya.

Sebaliknya, balas jasa yang mereka berikan berupa melaksanakan tugas-tugas pokok seorang anak dan mempelajari kebu kebudayaan serta bertukar informasi. Awalnya orang tua dan keluarganya tidak menyetujui keputusannya mengikuti program ini, terlebih di negara Jerman yang terkenal keras.

Namun dengan berbagai pertimbangan serta tekad yang kuat akhirnya Sardha Fadhilla memperoleh izin dan restu dari keluarga. Gadis yang akrab disapa Sardha ini juga merupakan Duta Favorit dalam pemilihan Duta Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2016.

Sebagai seorang Duta Bahasa yang mengikuti program ini ia benar-benar merasakan slogan “Utamakan Bahasa Indonesia. Lestarikan Bahasa Daerah. Kuasai Bahasa Asing.” Tidak hanya sebatas slogan. Bahasa menjadi alat komunikasi yang wajib dipelajari dan kuasai. Di samping itu ia memiliki segudang prestasi di bidang kesenian seperti seni tari dan seni suara.

Selama berada di Jerman, Sardha sering mengenalkan kepada lingkungan terdekatnya alam dan wisata yang ada di Bangka Belitung, kesenian, tradisi serta makanan khas Bangka Belitung.

 Diakuinya, adaptasi merupakan proses yang sulit dikarenakan banyaknya perbedaan dari keseharian seperti etika, norma-norma sosial dan sopan santun. Namun, sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan ritme dan pola hidup masyarakat Jerman.

Ia mengaku sering homesick terlebih menjelang Bulan Ramadhan. Menjadi seorang muslim minoritas di negara orang membuatnya merasa rindu akan suasana bulan puasa dan lebaran di Bangka Belitung. Memasak makanan khas Bangka Belitung sedikit mengobati kerinduannya.

Video call dengan keluarga merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan baginya. “Kepada pemuda Bangka Belitung yang ingin menginjakkan kaki di negara orang, jangan takut, jangan gengsi. Tidak ada yang tidak mungkin selagi niat kita baik, pasti jalan kita dimudahkan.

Dengan kemauan yang kuat selalu akan ada jalan”, tuturnya. Lulusan Departemen Pendidikan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini ingin melanjutkan studi S2 di Universitat zu Koln atau Justus-Liebig Universitat Giessen Jerman.

Ia juga berharap untuk dapat melanjutkan perjalanan ke negara-negara lainnya. Meskipun berasal dari Bangka Belitung yang notabene adalah pulau kecil, ia berharap cita-cita pemuda Bangka Belitung lebih besar dan pola pikirnya harus lebih berkembang. (BBR)



Penulis :Tamara D
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview