H Maulan Aklil SIP Msi, Memastikan Cintanya untuk Kota Pangkalpinang

kasmirudin
H Maulan Aklil SIP Msi, Memastikan Cintanya untuk Kota Pangkalpinang
Bangdoi Ahada

 

Lagu Anji yang berjudul ‘DIA’ meluncur syahdu dari alunan suara Maulan Aklil SIP MSi. Lagu ini dilantunkan Molen – sapaan akrab Maulan Aklil -- pada suatu malam di sebuah café di Jalan Ahmad Yani Kota Pangkalpinang. Malam yang mulai beranjak kelam itu, Molen dan para sahabatnya mampir sejenak di Cheng Café, setelah bertemu dengan beberapa komunitas warga. Pertemuan ini bukan sekedar melepas canda dan tawa, tetapi Molen memastikan kepada warga yang ditemui, bahwa dirinya siap maju menjadi Calon Wali Kota Pangkalpinang periode 2018-2023.

Santai dan penuh canda, begitulah cara Molen mengajak para sahabatnya menjalani hidup. Sembari menikmati bait per bait dari syair DIA, saya melihat ada ketulusan cinta dari diri Molen. Cinta terhadap Kota Pangkalpinang. Cinta yang berbungkus cita-cita ingin memajukan Kota Pangkalpinang. Karenanya tidak heran, jika Ia berani melepaskan ruang nyaman sebagai seorang pejabat di Pemerintahan Provinsi Sumatera Selatan.

“Saya asli Pangkalpinang. Saya rasa sudah cukup belajar banyak di tanah rantau. Karena itu saya ingin mengabdi untuk kotaku Kota Pangkalpinang,” sebut Molen suatu ketika saya tanya motivasi dirinya mencalonkan diri menjadi wali kota Pangkalpinang.

Dalam bait lagu DIA ini, ada relung kebahagiaan yang bersemayam dalam hati. Lagu ini pas benar dengan cinta yang sedang dirajut Molen untuk Kota Pangkalpinang. Molen bercerita bahwa lima tahun sebelumnya yakni tahun 2013, Ia sudah sempat menawarkan cintanya bersama Bang Udin (Safarudin) untuk Kota Pangkalpinang. Namun sayang cinta mereka belum berbalas. Molen memang sempat terluka. Namun setelah luka itu sembuh, mantan Pejabat Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Provinsi Sumatera Selatan ini, kembali memastikan cintanya untuk Kota Pangkalpinang.

Pas benarlah lirik lagu DIA ini. Sepanjang lagu dilantunkan, Saya melihat ada bias semangat tergambarkan dari raut wajah Molen. “Begitu banyak cinta dari saudara, handai taulan, sahabat dan masyarakat Kota Pangkalpinang, telah memberikan energi positif kepada saya untuk meraih cinta yang sempat hilang tersebut,” ujar Molen, sembari melanjutkan lagu kedua dalam remang temaram lampu di Cheng Café. Ketika itu jam di tangan sudah menunjukan angka 00.30 WIB.

Mungkin karena sering bertemu dan berjalan bersama, saya melihat ada energi leadership dalam sikap Molen. Meski bercanda, namun ada ketegasan dalam ucapan dan gerak tubuh Molen. Dari sisi sosial dan kemasyarakatan, saya juga melihat ada sosok merakyat. Kalau Bahasa millennial sekarang, Molen ini sosok apa adanya, bukan ada apanya.

Warga Bilang Alung Molen

Untuk Kota Pangkalpinang yang luasnya hanya 11 km persegi ini, masih sedikit sekali kita menemukan pemimpin yang merakyat. Walaupun banyak dari mereka boleh dibilang sudah pernah menjadi pemimpin. Harapan memiliki pemimpin merakyat ini saya lihat ada pada Maulan Aklil SIP alias Molen. Dalam setiap kesempatan pertemuan dengan masyarakat Pangkalpinang, saya sering menyaksikan  betapa Molen mampu memposisikan diri. Sehingga, tidak ada rasa canggung dan jarak antara dirinya dengan masyarakat yang ditemui. Sosok seperti ini memberikan rasa nyaman bagi masyarakat. Berkat rasa nyaman itulah, maka komunikasi dan informasi menjadi tidak bersekat. Kondisi seperti ini menjadi investasi mahal bagi seorang pemimpin yang akan menjalani amanah menakhodai sebuah negeri.

Melalui komunikasi yang tidak berjarak dilakukan Molen, membuat masyarakat merasa terayomi. Sehingga setiap aspirasi, saran, keluhan maupun kritikan masyarakat bisa bebas berselancar dalam benak dan jiwa Molen. Hal ini sangat positi bagi Molen untuk memetakan persoalan dan kebutuhan masyarakat Kota Pangkalpinang.

Di tengah mayarakat, saya juga banyak mendapat masukan dalam obrolan sehari-hari mereka. Sebagian besar masyarakat yang sempat berinteraksi dengan saya, mereka merasa yakin Molen adalah pemimpin yang ditunggu masyarakat Pangkalpinang itu.

Setiap kali terjadi dialog dengan masyarakat Pangkalpinang, tertangkap  ada kerinduan warga terhadap sosok pemimpin yang merakyat, pemimpin yang tidak sungkan bertemu rakyat dan pemimpin yang selalu menyiapkan waktu untuk menyelesaikan persoalan rakyat.

Bagi Molen makna merakyat yang diharapkan warga adalah pemimipin yang memakai baju sama seperti baju yang dipakai rakyatnya. Ia makan makanan sebagaimana rakyatnya makan. Ia pergi ke tempat bekerja sebagaimana rakyatnya pergi berkerja. Ia memakai bahasa yang bisa difahami oleh rakyatnya. Ia mau mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia pun mampu memberikan solusi bagi permasalahan rakyatnya. Ia rela harus berlapar-lapar bersama rakyatnya. Ia pun ikut berjama’ah bersama rakyatnya.

Selalu tampil sederhana dan senyuman yang tak pernah lepas, membuat Molen sangat mudah berinteraksi dengan masyarakat Pangkalpinang. Bahasa yang santun dan penuh canda juga menjadi senjata ampuh Molen dalam bersilahturrahmi dengan masyarakat yang setiap kali Ia temui.

Sangat mudah bagi Molen untuk menyerap harapan, keinginan dan keluhan masyarakat. Dan sangat mudah pula bagi masyarakat untuk menerima setiap penjelasan dan solusi yang ia tawarkan untuk Pangkalpinang yang menang.

Sederhana dalam berbicara, sederhana dalam bersikap, namun luar biasa dalam mengambil keputusan menjadi karakter mumpuni dari sosok Molen. Banyak harapan masyarakat yang sudah disandingkan dalam pundak Molen, untuk memimpin Kota Pangkalpinang. Masyarakat sudah lelah menunggu pemimpin baru yang mampu menjadikan Pangkalpinang ini MENANG dalam segala hal. Menang pendidikan, Menang Ekonomi, Menang sosial dan Menang spriritual.

Pemimpin inilah yang ditunggu masyarakat Pangkalpinang. Dan terbukti bahwa investasi sosial yang diperankan Molen selama masa proses Pilkada Kota Pangkalpinang, akhirnya berakhir dengan senyuman pada 27 Juni 2018 lalu. Pemimpin yang ditunggu rakyat Pangkalpinang itu ternyata adalah Molen.

Senyum Itu Datang Juga

Pada Kamis tanggal 26 Juni 2018 malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pangkalpinang akhirnya menetapkan pasangan Maulan Aklil dan Muhammad Sopian sebagai Walikota dan Wakil Walikota Pangkalpinang periode 2018 -2023. Pasangan yang akrab dipanggil Molen dan Sopian ini unggul dengan jumlah suara terbanyak yaitu 31.792 suara atau 41.59 persen dari jumlah suara sah.

Saat ditetapkan menjadi wali kota terpilih, maka perjalanan cinta dan cita-cita Molen dimulai. Meski belum dilantik, namun Molen mulai menyusun program maupun strategi membangun Kota Pangkalpinang. Slogan Kota Beribu Senyuman menjadi akar dari setiap program yang dirangkai oleh Molen bersama Sopian.

Sebagai representasi  dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Molen paham bahwa kenyaman, kerapian, ketertiban, kebersihan  dan keramahan Kota Pangkalpinang menjadi titik awal masuk dan tumbuhnya semua kebaikan.

Setelah menunggu lima bulan, akhirnya pada Kamis 15 November 2018, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman secara resmi melantik Maulan Akil sebagai Walikota Pangkalpinang dan Muhammad Sopian sebagai Wakil Walikota Pangkalpinang periode 2018-2023. Pelantikan wali kota dan wakil wali kota terpilih hasil pemilihan Kepala Daerah Kota Pangkalpinang yang dilaksanakan pada 27 Juni 2018, dilaksanakan di Ruang Pasir Padi Kantor Gubernur Babel.

Pesan Gubernur Babel Erzaldi Rosman tidak banyak kepada wali kota dan wakil wali kota Pangkalpinang, segeralah bekerja dan membenahi permasalahan yang ada di Kota Pangkalpinang. Gubernur minta Molen dan Sopian menyelesaikan tiga permasalahan, antara lain banjir, tata kota, dan sampah.

Bagaikan pantun bersahut, pesan dan permintaan gubernur Babel ini langsung disambut oleh Molen. Bersama Sopian, ia  bertekad menyelesaikan persoalan yang disampaikan gubernur dalam paket 100 hari kerja. Memang tidak bisa langsung membereskan seluruh persoalan secara tuntas, namun dalam 100 hari kerja, Molen siap meletakkan akar solusi dari persoalan tersebut.

Agar persoalan yang merenda Kota Pangkalpinang bisa segera terurai, Molen menyatakan bahwa dirinya fokus menguatkan internal. Agar bisa menyamakan visi dan misi untuk membangun Pangkalpinang.

"Saya bukan Superman, untuk itu saya perlu super tim. Saya tidak peduli dia dari mana dan apa latar belakangnya, yang penting dia punya integritas, terobosan, loyalitas dan pintar," begitulah Molen memberikan arahan dan semangat kepada seluruh ASN di jajaran Pemkot Pangkalpinang, usai ia dilantik gubernur Babel.

Molen sadar betul, sebagus dan sehebat apapun program, kebijakan dan rancangan yang ia buat, tetapi jika tidak dieksekusi dan diterapkan secara cepat dan tepat oleh pimpinan lembaga, instansi dan dinas di jajajaran Pemkot Pangkalpinang, maka seluruh kebijakan tersebut hanyalah catatan dalam lembaran kertas saja. Tentu cita-cita mewujudkan Kota Pangkalpinang yang berkemajuan, berkeadilan dan bermartabat akan sulit tercapai.

Momentum 100 Hari Kerja

Dalam tradisi politik kita, momen 100 hari kerja biasanya digunakan sebagai observasi awal suatu pemerintahan bisa dikatakan berhasil atau tidak. Memang belum bisa dijadikan sebuah ukuran, namun pada momen 100 hari kerja biasanya indikasi itu sudah tampak.

"Mulai hari ini kami langsung kerja untuk memenuhi apa yang menjadi janji-janji politik. Dan kami mulai melayani masyarakat Pangkalpinang mewujudkan Kota Beribu Senyuman. Karena ini adalah  target saya,”  ujar Molen seusai dilantik menjadi Wali Kota Pangkalpinang periode 2018-2023.

Usai dilantik, Molen tidak istirahat apalagi sempat tidur siang. Molen langsung bekerja. Wali kota Pangkalpinang ini untuk pertama kali  menghadiri acara sinergi Kementerian KUKM dan Kementerian Perdagangan dengan Dewan Kerajinan Nasional dan TP PKK, di Novotel Bangka Tengah. Acara ini menjadi agenda kerja pertama Molen mewakili Pangkalpinang. Setelah usai menghadiri acara tersebut, Molen juga tidak sempat berisitrahat, ia justru langsung memimpin rapat bersama para kepala OPD dan camat di lingkungan Pemkot Pangkalpinang. Rapat berlangsung di Ruang Rapat Sekda Pangkalpinang. Pada rapat itu, Molen dan para kepala OPD saling memperkenalkan diri satu per satu. Di rapat perdana inilah Molen  menyampaikan bahwa ia membutuhkan super tim. Kalimat ini sama persis ketika Ia ditanya awak media usai dilantik gubernur Bangka Belitung. Bagi Molen ada tiga kriteria ASN yang ia harapkan, yaitu pintar, punya terobosan, dan loyal.

Perlahan namun bergerak, seperti itulah cara Molen menjalankan roda pemerintahan Kota Pangkalpinang. Telinga dan mata selalu dipasang. Komunikasi dengan masyarakat dijalin dengan baik, sehingga belum sampai satu bulan memimpin Kota Pangkalpinang, Molen sudah banyak mendapatkan masukan, dan laporan terhadap pelayanan publik di Kota Pangkalpinang. Salah satu yang membuat berang Molen adalah laporan masyarakat tentang sikap pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah.

Pelayanan di rumah sakit plat merah tertua di Bangka Belitung ini dinilai tidak mencerminkan Kota Beribu Senyuman. Tidak tahan menerima banyaknya laporan dari masyarakat terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah, membuat wali kota Pangkalpinang  ini langsung bertindak, menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke RSUD Depati Hamzah. Molen ingin mengetahui langsung kebenaran laporan masyarakat tersebut. Ternyata benar, di ruangan bagian Kebidanan, Molen mendapatkan kenyataan bahwa dokter belum datang dan mengakibatkan masyarakat yang ingin berobat harus menunggu lama.

Di hadapan masyarakat, Molen sempat marah lantaran hingga siang dokter jaga belum juga datang, sedangkan masyarakat yang datang sudah banyak dan sudah lama menunggu. Menyikapi hasil temuan tersebut, Molen berjanji di hadapan masyarakat yang antri berobat di RSUD Depati Hamzah, bahwa dirinya akan langsung mengambil tindakan tegas demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat.

Begitulah salah satu cara Molen menyelesaikan persoalan masyarakat. Masih banyak lagi sikap cepat Molen yang Ia kerjakan usai dilantik. Misalnya, Molen mengajak seluruh OPD untuk melakukan gerak kerbersihan pasar maupun lokasi-lokasi pelayanan publik. Molen ingin fasilitas publik menjadi rapi, indah dan tertib.

Persoalan pasar tradisonal yang dimiliki Kota Pangkalpinang saat ini juga tidak lepas dari perhatian Molen. Tata letak lapak dan kios yang terkesan semrawut dengan perparkiran yang juga tidak teratur menjadi prioritas perhatian Molen. Kondisi inilah yang sekarang  menjadi kajian serius yang sedang dipetakan Molen bersama jajarannya.

Kegiatan bertajuk Bersih-Bersih Pasar Bersama Wali Kota menjadi salah satu cara Molen mengurai persoalan pasar. Kegiatan seperti ini merupakan bukti komitmen Molen untuk mewujudkan pasar yang tertib, bersih dan rapi di tahun 2019. Molen merasa kesal melihat kondisi Pasar Pagi Pangkalpinang yang kotor dan semrawut. Padahal Pasar Pagi Kota Pangkalpinang pernah menjadi ikon pasar se-Bangka Belitung.

Bersih-bersih pasar ini dilakukan setiap Jum’at sampai bagian atas Pasar Pagi bersih dan layak ditempati para pedagang, serta pembeli nyaman untuk naik ke bagian atas. Bahkan di hadapan para pedagang, Molen sempat berujar untuk jangka panjang dia ingin ada eskalator, AC, blower dan petak-petak berjualan terbuka.

Persoalan banjir juga menjadi pekerjaan rumah bagi Molen. Persoalan Sungai Rangkui yang sudah terkontaminasi limbah cair maupun padat, serta kondisi volume air yang sudah tidak stabil lagi, juga menjadi perhatian serius Molen. Untuk mengatasi nasib Sungai Rangkui yang membelah Kota Pangkalpinang tersebut, Molen sudah meloby Dirjen Sumber Daya Air di Kementerian PUPR untuk membantu menyelesaikan persoalan Sungai Rangkui. Restorasi Sungai Rangkui, begitulah cita-cita dan harapan Molen yang sudah disampaikan ke SDA di pusat.

Persoalan persampahan juga tidak luput dari perhatian Molen. Lokasi tempat pembuangan akhir TPA di Parit Enam yang sudah tidak layak lagi, sedang dicarikan jalan keluarnya. Perkara keterbatasan lahan kosong di Kota Pangkalpinang, membuat Molen harus pandai bersilahturrahmi dengan tiga kabupaten penyanggah Kota Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka, Bangka Tengah dan Bangka Barat. Dalam waktu secepatnya Molen harus mendapatkan lahan sebagai pengganti TPA Parit Enam, agar puluhan ton sampah yang dihasilkan setiap hari dari Kota Pangkalpinang bisa segera terselesaikan di TPA yang representatif.

Dari semua perhatian terhadap pekerjaan rumah yang sempat disampaikan oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman saat pelantikan wali kota dan wakil wali kota Pangkalpinang, Molen berusaha merangkai semua akar persoalan tersebut dalam sebuah gerakan, yakni TERSENYUM. Molen yakin, jika semua persoalan dihadapi dengan senyuman, tidak ada persoalan yang sulit diselesaikan. Namun tersenyum bukan hanya berarti menggerakan bibir saja, tetapi menggerakan seluruh panca indra. Tersenyum artinya bersedia merubah semua keburukan menjadi kebaikkan bersama.

Seperti yang telah menjadi janji Molen sejak ia memastikan mencalonkan diri sebagai calon wali kota Pangkalpinang berpasangan dengan Calon Wakil Walikota Pangkalpinang M Sopian, bahwa mereka akan mengusung slogan ‘Kota Beribu Senyuman’. Seakan tidak mau tertinggal oleh momentum, setelah sebulan dilantik, Molen secara resmi melaunching (meluncurkan) program Kota Beribu Senyuman. Acara ini  diiringi dengan tiga kegiatan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).

Kegiatan tersebut diawali dengan "Nganten Massal" yang diikuti 61 pasang pengantin yang salah satu pasangan pengantinnya adalah wali kota Pangkalpinang sendiri. Para pengantin ini berjalan mulai dari halaman rumah dinas wali kota Pangkalpinang menuju Alun-Alun Taman Merdeka (ATM).

Kemeriahan festival Kota Beribu Senyuman ini menjadi sejarah pertama, dimana dalam waktu satu hari Kota Pangkalpinang mampu mencetak tiga rekor Muri, yakni 1.200 orang Penari Tari Sambut, 52.999 buah Sajian Otak-Otak, dan 32.000 Swafoto Selfi Senyum.

Acara yang dimulai dari Jumat, 21 Desember 2018 hingga malam puncak pada Sabtu, 22 Desember 2018 banyak menyedot animo masyarakat. Bahkan, bukan hanya masyarakat Kota Pangkalpinang saja, akan tetapi masyarakat dari luar  daerah. Kegiatan yang menjadi pembuktian dari janji slogan Beribu Senyuman ini bukan hanya sebagai acara seremonial belaka, akan tetapi kegiatan ini banyak mengandung pesan-pesan tentang budaya dan moral dalam meningkatkan kualitas adat istiadat budaya di Kota Pangkalpinang. Ini adalah salah satu cara Pemkot Pangkalpinang dalam mengenalkan budaya, tradisi dan pariwisatanya.

Turunan dari peluncuran Kota Beribu Senyuman, segera ditindaklanjuti oleh Molen dengan meluncurkan program Jumat Bahagia. Wali kota Pangkalpinang  ini menyatakan, bahwa program Jum’at Bahagia yang digelar setiap hari Jum’at dari pagi hingga sore hari bukan sekedar pencitraan.

Program Jum’at Bahagia adalah program mendengarkan keluhan langsung dari masyarakat. Keluhan ini ditampung Molen bersama OPD atau jajaran Dinas Kota Pangkalpinang. Seluruh keluhan dan persoalan yang disampaikan, bisa saja segera diselesaikan. Namun untuk persoalan yang cukup besar, perlu perencanaan dan penganggaran untuk diselesaikan pada tahun berikutnya.

Hari pertama peluncuran Jumat Bahagia, Molen banyak menerima keluhan dari masyarakat, antara lain persoalan sampah, persoalan lampu jalan dan persoalan banjir yang masih menghantui sebagian masyarakat Kota Pangkalpinang.

Mendapat masukan dan keluhan seperti ini, Molen sigap menjawab harapan masyarakat. Misalnya, untuk mengatasi masalah sampah, Molen menyatakan bahwa pada tahun 2019 ini  setiap kelurahan akan dibantu satu kontainer sampah, satu mobil sampah dan ada lima orang tenaga yang khusus menangani sampah dengan cara menjemput sampah di setiap rumah.

Untuk masalah lampu jalan, Molen menyebutkan pada tahun 2020, Dia menargetkan tidak ada lagi masalah lampu jalan. Kota Pangkalpinang mendapatkan bantuan dari Program Jokowi, setiap satu tahun Pangkalpinang mendapat program gratis 1.000 titik lampu jalan selama tiga tahun.

Untuk mengatasi masalah banjir, Molen memiliki program jangka sekarang, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka  sekarang mengajak masyarakat bergotong royong menyelesaikan got-got buntu. Kepada RT, RW, Lurah dan Camat, Molen meminta bersinergi dalam menyelesaikan persoalan got dan selokan yang buntu dan menghambat aliran air.

Tiga persoalan ini menjadi contoh bahwa Molen cepat bereaksi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Kota Pangkalpinang. Memang belum banyak yang bisa kita dokumentasikan aksi dan reaksi Molen dalam 100 hari kerja ini. Namun yang pasti, Molen sudah bergerak menguraikan setiap benang kusut yang membingkai kehidupan sosial, budaya dan  ekonomi masyarakat Kota Pangkalpinang.

Sesuai slogan yang sudah dirajut sejak Molen memastikan diri maju sebagai calon wali kota Pangkalpinang berpasangan dengan Calon Wakil Walikota Pangkalpinang, M Sopian, maka slogan Kota Beribu Senyuman kini menjadi harapan baru masyarakat Kota Pangkalpinang yang beradab, bermartabat dan bekermajuan secara social, budaya dan ekonomi.

Melalui gerakan Kota Beribu Senyuman, ini Molen  membangkitkan semua potensi kekayaan yang ada di Pangkalpinang, yang tujuannya untuk menjadikan Kota Pangkalpinang ini  ramah kunjungan wisata, ramah investasi, ramah kepedulian, ramah kesejahteraan dan ramah turunnya rahmat Allah SWT. Satu senyuman saja bisa membangkitkan kebaikan, apalagi 1.000 senyuman. Semoga lewat senyuman Walikota dan warganya, maka Kota Pangkalpinang akan mendapatkan BAROKAH Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamiin. (BBR)


Penulis  : Bangdoi Ahada, (Pimred Babel Review)                                                    
Editor    :  Kasmir
Sumber  : Babel Review