Habis Tanggapan Masyarakat Terbitlah Solusi Alternatif Tepat: Selamatkan Pantai Pasir Padi dari Sampah

kasmirudin
Habis Tanggapan Masyarakat Terbitlah Solusi Alternatif Tepat: Selamatkan Pantai Pasir Padi dari Sampah
Eka Sari, S.Si., M.Si. (Foto: Istimewa)

SAMPAH sudah menjadi primadona perbincangan yang belum punya titik simpulnya, khususnya terkait sampah pesisir di Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang. Dampak dari sampah ini sejatinya sudah menjadi rahasia umum, terutama bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Selain itu, juga akan merusak pemandangan di pantai serta mengganggu kenyamanan bagi para pengunjung.

Baru-baru ini telah dilakukan survei terhadap pengunjung Pantai Pasir Padi Kota Pangkalpinang, mengenai tanggapan mereka terhadap sampah di pesisir pantai.  Metode yang digunakan dengan penyebaran kuisioner kepada 100 orang pengunjung dengan skala Likert, yaitu: 0 (tidak ada jawaban), 1 (sangat tidak setuju), 2 (tidak setuju), 3 (cukup setuju), 4 (setuju), 5 (sangat setuju).

Mereka beranggapan bahwa sampah sampah laut merupakan masalah penting dan menjadi ancaman pesisir di masa depan sementara beberapa orang tidak merasa peduli dengan kondisi seperti itu. Pengunjung juga mengetahui bahwa sampah laut dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem laut. Pengunjung juga menilai kondisi keadaan, fasilitas, sarana dan prasarana Pantai Pasir Padi.

Tanggapan masyarakat terhadap sarana prasarana, jenis sampah, faktor penyebab dan aksi mengurangi sampah di Pantai Pasir Padi

Pengunjung banyak memberikan nilai angka 3 yang artinya “cukup setuju” untuk keadaan, sarana dan prasarana pantai. Berikut ini hasil rekapitulasi nilai tertinggi dari kuisioner, yaitu: pemandangan alam Pantai Pasir Pasi sudah menarik dan baik (setuju 44%), air laut bersih, nyaman dan aman (cukup setuju 34%), pasir pantai menarik dan bersih (cukup setuju 41%), tumbuhan pesisir menarik dan bersih (cukup setuju 45%), biota laut menarik dan bersih (setuju 30%), wahana permainan (Pasir Padi Bay) menarik, baik, bersih dan nyaman (setuju 37%), tempat makan menarik, baik, bersih dan nyaman (setuju 43%), kondisi fisik tempat sampah baik dan bersih (cukup setuju 37%), kondisi fisik musola baik, bersih dan nyaman (setuju 41%), kondisi fisik toilet sudah baik, bersih dan nyaman (tidak setuju 29%), kondisi pondok baik, bersih dan nyaman (cukup setuju 38%), sarana dan prasarana sudah mencukupi (cukup setuju 38%), pembangunan sarana dan prasarana sudah baik (cukup setuju 43%), pemerintah sudah menjaga dan mengelola lingkungan pantai dengan baik (setuju 41%), dan Pantai Pasir Padi adalah salah satu objek ԝisata yang layak dipromosikan ke tingkat nasional hingga internasional (setuju 38%).

Secara umum, tanggapan masyarakat terhadap kondisi keadaan, sarana dan prasarana Pantai Pasir Padi adalah cukup positif. Namun dengan persentase yang dapat dikatakan cukup rendah mengindikasikan bahwa kondisi tersebut belum dalam level yang aman sehingga perlu ditingkatkan lagi. Kecuali pada kondisi toilet di Pantai Pasir Padi yang dinilai tidak bersih oleh masyarakat. Kondisi tersebut sangat memperihatinkan dan sebenarnya merupakan tamparan keras untuk diri kita sendiri, agar meningkatkan kesadaran diri dalam menggunakan fasilitas umum dengan baik dan bersih.

Jenis sampah yang banyak ditemui dari kaca mata pengunjung adalah pipet plastik (83%), plastik bungkus permen (82%), plastik asoy (81%), plastik bungkus makanan ringan (80%), dan botol plastik (77%). Sumber sampah tersebut biasanya berasal dari aktivitas pengunjung, pedagang dan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pantai.

Masyarakat setuju bahwa ada beberapa faktor penyebab banyaknya sampah di Pantai Pasir Padi, di antaranya tempat sampah di sekitar pantai tidak ada (42%), peraturan tegas terkait sampah pesisir tidak ada (39%), masyarakat mempunyai kebiasaan membuang sampah sembarangan (32%), dan penggunaan bahan plastik yang berlebihan (32%). Pemerintah setempat pada prinsipnya sudah menyiapkan tempat pembuangan sampah, namun kemungkinan masyarakat merasakanan bahwa jumlahnya masih terbatas sehingga banyak sampah yang dibuang sembarangan.

Masyarakat juga beranggapan, bahwa ada beberapa aksi yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah pesisir, seperti membuang sampah pada tempatnya, mendukung kebijakan pemerintah terkait sampah dan pengelolaan sampah, membakar sampah, membeli ԝadah yang dapat digunakan berkali kali dari pada hanya sekali aksi bersih pantai, memanfaatkan sampah agar lebih berguna, dan mengambil sampah yang berisiko terbaԝa masuk ke laut

Solusi Alternatif untuk kebersihan lingkungan pantai

Beberapa negara sudah memberlakukan sanksi yang tegas kepada oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan berupa denda. Denda yang diberikan bervariasi dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, seperti di Jepang (150 ribu rupiah), Jerman (500 ribu rupiah), Inggris (3 juta rupiah) dan Singapura (5 juta rupiah). Terus pertanyaanya, bagaiamana dengan Indonesia. Sebenarnya Indonesia juga sudah mempunyai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang di dalamnya menjelaskan peraturan bagi pelanggaran berupa pidana kurungan atau denda sampai ratusan juta rupiah. Tetapi permasalahannya adalah peraturan hanya sebatas peraturan dan tidak diterapkan dalam daerah masing-masing.

Dalam menyikapi permasalahan ini, pemerintah daerah harus tegas dan ketat khusunya terhadap pelanggaran tentan pembuangan sampah di daerah masing-masing sehingga menimbulkan efek jera kepada oknum masyarakat.

Jepang merupakah salah satu negara yang sangat bagus untuk ditiru mengenai kebersihan lingkungannya, karena Jepang diberikan gelar negara dengan tingkat kebersihan terbaik di dunia. Petugas kebersihan dan tempat sampah jarang ditemukan di sekitar jalan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Karena kesadaran mereka akan kebersihan lingkungan sudah ditanam sejak kecil.

Sekolah di Jepang dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas merupakan elemen yang penting dalam menumbuhkan kesadaran dan kecintaan mereka dengan lingkungan. Karena itu termasuk ke dalam kurikulum dan kegiatan bersih-bersih yang dilakukan rutin setiap harinya. Tidak kalah pentingnya, di dalam lingkungan keluarga mereka. Ajaran agama mereka, Shinto, juga mengganggap bahwa kebersihan merupakan cara mendekatkan diri pada Tuhan. Sehingga mereka termotivasi menjaga kebersihan sebagai suatu budaya agar dapat dekat dengan Tuhan.

Nah, bagaimana dengan kita di Indonesia yang mayoritasnya umat muslim? Apakah tidak ada ajaran seperti itu? Sebenarnya di Alqur’an dan beberapa hadist juga sudah menjelaskan yang intinya Allah sangat menyukai orang-orang yang menjaga kebersihan. Namun, banyak yang tidak dapat memaknai secara mendalam hal tersebut. Sehingga tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengelolaan sampah di Jepang memang sudah maju dibandingkan dengan Indonesia. Jepang sudah mulai tidak menggratiskan kantong plastik lagi dan menggantikan kantong plastik belanjaan dengan istilah ecobag dan mybag untuk mengurangi sampah plastik.

 Peraturan pembuangan sampah di Jepang dengan penerapan Reduce, Reuse, Recycle. Sampah dibuang sesuai dengan kategori-kategorinya untuk memudahkan daur ulang. Perlakuan masyarakat Jepang terhadap sampah juga sangat telaten. Mereka mencuci sampah terlebih dahulu sebelum dibuang dan harus dalam kondisi rapi menyesuaikan dengan waktu pembuangan sampah berdasarkan jenis sampah.

Di Jepang memang sudah mempunyai pabrik dengan teknologi canggih yang siap untuk mendaur ulang sampah, khususnya sampah anorganik, seperti plastik, botol plastik, kaca dan sebagainya. Di samping itu, sampah organik rumah tangga seperti dari sayuran dan sisa-sisa makanan sudah dapat mereka olah sendiri menjadi pupuk organik dalam skala rumah tangga. Selain diolah sebagai pupuk organik, sampah organik juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan kebersihan lingkungan di Pulau Bangka khususnya, semua elemen harus turut andil, baik dari masyarakat biasa, pemerintah bahkan tempat pendidikan formal maupun non formal. Edukasi terkait kebersihan lingkungan harus ditanamkan sejak dini dan ini menuntut peran keluarga yang harus disiplin menanamkan nilai tersebut kepada anaknya.

Selain itu, di sekolah-sekolah juga harus ada kurikulum terkait kegiatan kebersihan. Sehingga dapat memunculkan kesadaran diri terhadap kebersihan dan kecintaan terhadap lingkungan. Pemerintah daerah juga harus mempunyai sanksi tegas terkait pelanggaran pembuangan sampah sembarangan dan harus diterapkan di daerahnya masing-masing. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kegiatan yang mulia. Mari bersama kita benahi diri untuk mewujudkan lingkungan yang bersih di Pulau Bangka dan bersama-sama kita jaga objek wisata pantai dari sampah sehingga aman dan nyaman bagi wisatawan lainnya. (BBR)


Penulis  : Eka Sari, S.Si., M.Si. (Mahasiswi Pascasarjana S3 Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada)
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review