Ketika Garuda “Mempercantik Diri”

kasmirudin
Ketika Garuda “Mempercantik Diri”
Sumiyati, S.E., M.Sc Dosen Tetap Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung.

KASUS Garuda yang mencuat belum lama ini cukup menyita perhatian publik. Tidak hanya pemegang sahamnya, masyarakat awam pun pada akhirnya membicarakan kasus Garuda dengan lancar. Kasus ini berawal ketika Garuda mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang biasa diselenggarakan oleh sebuah perusahaan terutama yang sudah go-public untuk menyampaikan hasil kinerja manajemen baik dari sisi finansial maupun perkembangan usahanya. Dalam RUPS tersebut, dua komisaris Garuda menolak laporan keuangan. Dua komisaris tersebut merupakan pengusaha terkenal di Indonesia dan tentunya sudah berpengalaman dengan laporan keuangan perusahaan.

Laporan keuangan Garuda sejak September 2017 mencatatkan rugi sebesar USD $ 204 miliar dan rugi per September 2018 USD $ 127 miliar. Rugi sedemikian besar seketika menghilang di akhir periode pelaporan keuangan menjadi laba sekitar USD $ 800 ribu. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan besar bagi sebagian orang yang mengetahui. Diduga Garuda melakukan “window dressing” atau dalam istilah lumrahnya mempercantik diri. Window dressing dilakukan dengan cara melakukan pengakuan pendapatan kontrak jangka panjang dari Mahata Aero. Meskipun dinilai salah, perusahaan bersikukuh apa yang dilakukan mereka benar dan secara akuntansi tidak ada yang salah. Karena berdasarkan hasil audit mereka menyelenggarakan pelaporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia. Benarkah demikian?

Dalam akuntansi, sistem pencatatan dibedakan menjadi dua macam yakni cash basic dan accrual basic. Cash basic mencatat transaksi-transaksi tunai, sedangkan accrual basic merupakan cara mencatat transaksi-transaksi non tunai. Pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh Garuda bisa jadi tidak ada masalah. Karena pendapatan kontrak jangka panjang merupakan salah satu akun akrual. Seperti yang disebutkan dalam PSAK 23 bahwa pendapatan merupakan arus masuk bruto dari manfaat ekonomik yang timbul dari aktivitas utama perusahaan yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal (SAK 2018). Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan dapat diakui jika berasal dari ‘core business’ normal perusahaan dan dapat menambah laba perusahaan.

Meskipun demikian jika Garuda melakukan pengakuan pendapatan yang diperoleh melalui pendapatan kontrak jangka panjang, maka PSAK 34 paragraf 22 menyatakan bahwa jika hasil kontrak konstruksi dapat diestimasi secara andal, maka pendapatan kontrak dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak tersebut diakui sebagai pendapatan dan beban dengan memperhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal akhir periode pelaporan. Maksudnya adalah pendapatan kontrak jangka panjang seharusnya diakui sebesar pendapatan sesuai dengan persentase penyelesaian kontrak. Misalnya, perusahaan memiliki kontrak jangka panjang untuk penyediaan alat navigasi selama 10 tahun. Apabila nilai kontrak 1 miliar dengan biaya 350 juta di tahun pertama, maka persentase penyelesaiannya kontrak baru 35 %, sehingga pendapatan yang dapat diakui hanya sebesar nilai tersebut dan seterusnya hingga proyek selesai 100 %.

Window dressing bukan hal baru dilakukan oleh perusahaan dan merupakan salah satu bentuk manajemen laba. Manajemen laba atau earnings management berakar dari teori agensi (Agency Theory) yang dikemukan oleh Jensen dan Meckling (1976) dalam seminal paper berjudul “The Theory of Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure”. Dalam teori ini diasumsikan bahwa adanya asimetri informasi antara prinsipal dan agen. Prinsipal adalah pengguna laporan keuangan seperti pemilik atau investor di mana prinsipal memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai kegiatan perusahaan, sementara agen merupakan pihak manajemen perusahaan yang melaksanakan seluruh aktivitas perusahaan. Agen memanfaatkan keterbatasan ini untuk melakukan manajemen laba dengan berbagai tujuan, bisa dengan cara meningkatkan jumlah laba dalam upaya meningkatkan bonus manajer atau kepentingan jangka panjang perusahaan.

Jones (1991) berpendapat bahwa manajemen laba dilakukan oleh perusahaan dengan memanfaatkan transaksi terkait dengan akun akrual karena sulit dideteksi. Perlu pengetahuan khusus untuk mengetahui bahwa perusahaan melakukan manajemen laba dengan melakukan manipulasi akrual. Seperti yang dilakukan oleh Garuda yakni mengakui seluruh pendapatan kontrak jangka panjang dari Mahata Aero. Ciri yang paling terlihat adanya manajemen laba dengan melihat beberapa transaksi akrual yang cenderung meningkat tidak seperti biasanya.

Manajemen laba tidak selamanya buruk karena beberapa tujuan manajemen laba sebenarnya adalah “menata” laba dengan menggunakan pertimbangan pengakuan transaksi yang sesuai dengan standar akuntansi. Misalnya ketika manajer berusaha “menarik” beberapa transaksi akrual seperti pendapatan yang seharusnya diakui setelah tanggal neraca (lead) dan menunda pengakuan biaya agar laba tahun pelaporan lebih tinggi. Tujuannya agar perusahaan dapat menaikkan nilai perusahaan (harga saham) sehingga banyak investor tertarik menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

Namun manajemen laba yang dilakukan terus menerus tanpa memperbaiki kinerja maka perusahaan akan dihadapkan berbagai resiko termasuk kebangkrutan. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa manajemen laba yang dilakukan tanpa pertimbangan rasional dan peningkatan kinerja pada akhirnya menghadapi kepailitin.

Kasus Enron dan WorldCom yang merupakan perusahaan raksasa Amerika Serikat adalah contoh skandal akuntansi perusahaan terbesar sepanjang sejarah ekonomi Negara Paman Sam tersebut akibat manajemen laba. Kasus ini mengakibatkan Enron dan WorldCom terpaksa mengajukan kepailitan dan juga memaksa pemerintah AS turut campur dalam penyelesaian masalahnya. Peristiwa ini juga yang melatarbelakangi terbitnya Sarbanes – Oxley Act 2002 (SOX) yang menjadi hukum federal bagi manajemen perusahaan dan perusahaan akuntan publik. Selain dinyatakan bangkrut, perusahaan akuntan publik yakni Arthur Andersen yang menyediakan jasa audit bagi perusahaan tersebut juga tidak diperbolehkan melakukan jasa akuntan selamanya. Ini merupakan skandal paling memalukan dalam dunia akuntansi. Kasusnya bertahun-tahun hingga sekarang masih dibahas oleh pakar dan akademisi.

Pembelajaran penting dari kasus Garuda adalah “mempercantik diri” boleh saja dilakukan demi sebuah performa yang diharapkan, namun hendaknya diiringi dengan usaha untuk “memperbaiki diri”. “Berdandan berlebihan dan tidak pada tempatnya akan mengakibatkan kerugian di masa mendatang”. (BBR)


Penulis  : Sumiyati, S.E., M.Sc (Dosen Tetap Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung)
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review