Kian Terpuruk, Harga Lada di Koba Rp 39 Ribu per Kg

kasmirudin
Kian Terpuruk, Harga Lada di Koba Rp 39 Ribu per Kg
Harga lada di tingkat pengepul di Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah terus terpuruk. (Foto: Istimewa)

BANGKA TENGAH, BABELREVIEW CO.ID -- Harga lada semakin hari terus menurun tanpa ada perbaikan harga. Bahkan di Kota Koba Kabupaten Bangka Tengah, harga lada kian terpuruk di tingkat pengepul dengan kisaran Rp 39 ribu per kilogram.

Pantauan di lapangan, harga Rp 39 ribu ini sudah terjadi selama sepekan terakhir. Harga tersebut merupakan harga terendah dalam satu tahun terakhir ini.

Salah satu pengepul lada di Kota Koba yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, kalau kondisi harga lada di Kota Koba saat ini merupakan harga yang paling rendah dari sebelumnya.

“Saat ini harga lada yang kita terima hanya Rp 39.000 per kg dan kita jual kembali kepada pengepul di Pangkalpinang dengan harga Rp 39.500 per kg, selisih Rp 500 saja. Harga ini sudah terjadi dalam sepekan ini," ujarnya kepada Babel Review, Jumat (8/11/2019).

Ia menyampaikan, sebelum menyentuh harga Rp 39 ribu, harga lada sempat berada di kisaran Rp 46 ribu hingga Rp 48 ribu per kg.

"Kita tidak tahu apa penyebabnya, kita hanya menjual lada kita kepada pengepul yang di Pangkalpinang,” jelasnya.

Ia pun mengatakan, dengan kondisi harga lada yang terpuruk saat ini, membuat para petani enggan menjual ladanya. Sehingga tingkat penjualan lada di toko miliknya menurun dari sebelumnya.

Kini petani menjual ladanya sedikit paling cuma 5 hingga 10 kg saja, hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja,” ucapnya.

Ia menambahkan, sejak kondisi harga yang terus mengalami penurunan hingga senilai Rp 39 ribu per kg membuat petani yang menjual lada ke toko miliknya menurun drastis.

“Dulu masih diharga Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kg, masih banyak petani yang menjual hasil ladanya di toko kami yang mencapai 500 kg hingga satu ton per hari. Namun, kalau harga sekarang paling 5  hingga 50 kg per hari petani yang menjual lada di toko kami,” terangnya.

Ia mengungkapkan, dengan kondisi harga lada yang sangat memprihatinkan ini membuat para petani lebih memilih tidak menjual ladanya. Sehingga kondisi ini berdampak pada penjualan alat-alat pertanian di toko miliknya.

“Biasanya setiap hari Jum’at masyarakat banyak berbelanja. Namun, harga lada seperti ini membuat daya beli di tingkat masyarakat menurun. Kami sebagai pengepul dan pedagang pun kena imbasnya karena penjualan pupuk, racun rumput dan alat-alat pertanian tidak ada pembelinya,” pungkasnya. (BBR)


Penulis  : Faisal                                                             
Editor    : Kasmir
Sumber  :Babel Review