Kota Muntok Genap Berusia 285 Tahun

Admin
Kota Muntok Genap Berusia 285 Tahun
Foto:Buditio

 BANGKA BARAT, BABEL REVIEW -- Kota Muntok, ibukota Kabupaten Bangka Barat tahun ini telah berusia 285 tahun. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badarudin Jayawikrama (1721-1756 ), pada masa itu Kota Muntok ditetapkan sebagai tempat pusat pemerintahan. Pada saat itu Kota Muntok memegang peranan penting dalam urusan penambangan bijih timah di Pulau Bangka. Mengingat hasil penambangan yang menjanjikan, didatangkanlah pekerja dari Cina, Siam, Kamboja dan Siantan untuk dipekerjakan di tambang-tambang timah.

Pada saat masa penjajahan Belanda, perkembangan Muntok sebagai pusat kota tampak begitu jelas. Beberapa bangunan penting berdiri, diantaranya Kantor Penambangan Timah Bangka di Muntok yang dibangun pada tahun 1915. Awalnya gedung ini bernama Hoofdbureau Banka Tin Winning dan sekarang gedung ini telah menjadi Museum Timah Muntok.

Tahun ini, dalam perayaan peringatan Hari Ulang Tahun kota Muntok ke 285 beragam acara digelar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat, diantaranya Festival Jiran Nusantara, pawai budaya, pameran tanaman bonsai dan jalan sehat. Bahkan pada hari Senin (09/09) para pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat kompak mengenakan busana melayu.

Sekretaris Daerah Bangka Barat, H. Yunan Helmi mengatakan, busana melayu memang wajib dikenakan seluruh pegawai Pemkab Bangka Barat setiap tahun untuk memperingati Hari Ulang Tahun ( HUT ) Kota Muntok yang jatuh pada tanggal 7 September.

”Busana melayu dipakai setiap tanggal 7 September, cuma tanggal 7 September jatuh pada hari Sabtu kemarin, sehingga kita memakainya hari Senin. Surat edarannya sampai ke kecamatan, namun untuk tahap awal, kita lakukan di Pemkab dulu,” kata Yunan.

Pada moment peringatan HUT kota Muntok ke 285, Yunan mengharapkan partisipasi semua pihak untuk membangun Kota Muntok, bersama-sama membawa Kota Muntok ini menjadi lebih baik, menjadi kota penuh arti, kota sejarah, kota industri yang dapat memberikan dampak pembangunan.

”Kami mengharapkan partisipasi masyarakat, pihak swasta, pengusaha, dan pemerintah untuk bersinergi membangun kota Muntok menjadi kota yang berbudaya dan masyarakatnya sejahtera,”  ujarnya.

Sebagai rangkaian peringatan HUT Kota Muntok ke 285, pada hari Kamis (12/09) pagi diadakan seminar Jaringan Kota Pusaka Indonesia di Pesanggrahan Menumbing menghadirkan narasumber dari JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia) Asparinal dan Heru Mattaya.

Asparinal dalam presentasinya menyampaikan, agar program pengembangan wisata ruang kota Bangka Barat memanfaatkan sejarah, tradisi dan komunitas. Bangka Barat sendiri dipengaruhi budaya Melayu, China, Arab, Eropa dan nusantara yang dapat dimaksimalkan sebagai wisata budaya. Sementara Heru Mattaya menyampaikan ide untuk membuat festival budaya untuk mengenalkan kota Muntok. Festival dapat dilakukan sesama kota di Indonesia yang memiliki sejarah sebagai tempat pengasingan para founding father Indonesia.

 Di hari yang sama juga diadakan pawai budaya di sepanjang jalur utama Kota Muntok. Masyarakat tampak antusias menyaksikan pawai budaya tersebut. Sebanyak 30 regu peserta pawai budaya tampil dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah serta menyuguhkan beragam seni tarian tradisional. Tampak hadir di panggung utama Bupati Bangka Barat dan unsur Fokominda untuk menyaksikan meriahnya pawai budaya.

Adapun acara yang paling ditunggu dilaksanakan saat malam harinya. Acara seremoni HUT Kota Muntok ke 258 sekaligus Pembukaan Festival Jiran Nusantara, yang digelar di Lapangan Gelora Kota Muntok menampilkan hiburan berupa tarian tradisional dan juga panggung hiburan. Warga memenuhi Lapangan Gelora untuk menyaksikan acara tersebut. Selamat Hari Ulang Tahun Kota Muntok, semoga Kota Muntok dapat menjadi kota yang maju tanpa melupakan akar budaya yang ada. (BBR)


Penulis  : Buditio
Editor    : Atik
Sumber : Babel Review