Menangguk Rupiah dari Berkebun Namlung

Admin
Menangguk Rupiah dari Berkebun Namlung
Foto:Buditio

BANGKA BARAT, BABEL REVIEW – Pulau Bangka selain terkenal sebagai daerah penghasil timah juga terkenal sebagai sentra penghasil buah durian yang berkualitas. Di Kabupaten Bangka Barat terdapat banyak varietas lokal yang memenuhi kriteria durian nasional. Salah satu dari jenis durian lokal itu adalah Durian Namlung. Durian ini berasal dari Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat.

Awalnya durian ini lebih dikenal masyarakat setempat dengan nama durian Chumasi (Durian Tai Babi) namun setelah itu namanya berubah menjadi Namlung yang diambil dari nama pemilik asli pohon induknya. Pada 2001, pemerintah Provinsi Bangka-Belitung bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Babel dan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), merilis durian chumasi sebagai varietas buah unggul nasional dengan nama Namlung Petaling.

Nama Namlung diambil dari nama pemilik pohon induk, sedangkan Petaling dari nama daerah dimana Kantor BPTP Babel berlokasi. Durian Namlung kemudian “dilepas” oleh Propinsi Bangka Belitung bekerjasama dengan BPTP Bangka Belitung dan Balitbu Tropika dan ditetapkan sebagai durian unggul nasional oleh berdasarkan SK Menteri Pertanian No.123/Kpts/ T.P.240/2.2001, pada 8 Februari 2001 yaitu varietas Durian Namlung Petaling-06.

Durian ini merupakan durian yang ekslusif karena tidak sembarang orang dapat menikmati buahnya. Walaupun buahnya hanya memiliki bobot 1,5 -2 kg, namun harga durian ini cukup fantastis. Rata-rata harga buah antara Rp 150.000 - Rp300.000/ buah. Harga tersebut cukup berimbang dengan rasa yang dimiliki oleh durian ini.

Dengan harga jual yang lumayan tinggi tersebut, durian Namlung dinilai mempunyai potensi dan peluang untuk meningkatkan perekonomian daerah sekaligus upaya menyejahterakan pekebun lokal dan memotivasi warga lainnya agar semakin mencintai pengembangan buah lokal Bangka Belitung ini. Salah satu pekebun durian yang telah menikmati lezatnya rupiah dari berkebun durian Namlung adalah Yudha Mahyudin dari Simpang Gong Bangka Barat.

Saat ditemui Babel Review Yudha mengatakan sudah tiga tahun dia menikmati hasil dari menjual buah durian lokal inii. Kebun durian miliknya berada di Dusun Puren antara Desa Simpang Gong dan Desa Mayang. Lokasi kebun durian sangat mudah dijangkau hanya berkisar 300 m dari jalan raya dan dapat dimasuki oleh kendaraan roda empat.

“Alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga saya dari hasil berkebun. Awalnya saya hanya menanam 10 batang durian jenis Namlung dan 50 batang dari jenis yang lain. Dalam perjalanan selama 3 tahun kebun pertama berbuah, saya menyimpulkan bahwa lebih baik saya menanam jenis Namlung di lokasi baru yang sudah dua tahun ini saya buka. Karena permintaan pasar yang tinggi saya tidak susah untuk menjualnya,”jelas Yudha.

Kebun dengan usia tanam  yang bervariasi ini memiliki beragam jenis durian. Ada durian unggul dari seputaran Kecamatan Muntok dan Simpang Teritip misalnya Menumbing, Super Tembaga, Si Botak, Rembulan, Putri Dewa, Si Kunyit serta durian Namlung yang kini menjadi incaran para penikmat buah berduri ini.Di kebun miliknya saat ini, satu batang pohon usia 8 tahun dapat menghasilkan kurang lebih 70 buah. Durian Namlung yang bentuknya sempurna dan layak jual dilepas dengan harga rata-rata Rp 200.000 per buah.

Tentu saja ini menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Karenanya Yudha semenjak dua tahun yang lalu membuka kebun durian di lokasi yang berbeda dan telah menanam 120 batang durian yang didominasi oleh jenis Namlung. Selain menanam durian dan tanaman lain, untuk mengisi waktu di masa perawatan kebun, Yudha juga menjual berbagai jenis bibit durian di lokasi kebunnya.

Berbekal pengalaman selama ini dia telah menjual ribuan bibit dengan harga mulai Rp 30.000,- sampai dengan Rp 75.000,- tergantung jenis dan usia bibit. “Awal mulanya saya belajar meyambung bibit untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri. Karena bibit yang tersedia di pasar harganya mahal dan terbatas. Saya juga takut akan keaslian bibit yang dijual.

Pelanpelan saya belajar menyambung bibit durian. Karena saya telah memiliki batang induk yang telah berbuah, jadi untuk batang atas sebagai bahan memperbanyak, saya tidak kesulitan. Dengan menyambung sendiri saya yakin dengan kualitas dan jenis yang saya tanam di lokasi yang baru tersebut,” urainya. Bibit hasil produksi Yudha sudah banyak tersebar di Pulau Bangka.

Rata-rata setiap tahun ia mampu menjual 1.500 batang  bibit durian dari beragam jenis. Pembeli yang datang mengetahui informasi mengenai bibit durian ini hanya dari mulut ke mulut. “Mudah-mudahan ke depannya saya dapat membuka kebun bibit dengan harga jual yang terjangkau agar banyak para pekebun juga merasakan manisnya rupiah dari buah lokal,” tutup Yudha. (BBR)


Penulis : Budi Tio
Editor   : Sanjay
Sumber :Babelreview