Mengunjungi Muesum Kata "Andrea Hirata" di Beltim

Admin
Mengunjungi Muesum Kata
Foto:Vera Vlesia

GANTUNG, BABEL REVIEW -- Kabupaten Belitung Timur (Beltim) menyimpan banyak objek wisata menarik. Sejak terkenalnya film ‘Laskar Pelangi’, Pulau Belitung semakin populer dikenal masyarakat. Berbagai obyek wisata dikunjungi wisatawan, salah satunya Museum Kata Andrea Hirata di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

Museum Kata Andrea Hirata adalah salahsatu museum sastra di Indonesia yang didirikan oleh Andrea Hirata yang merupakan penulis novel Laskar Pelangi itu. Ketika baru dibangun hingga saat ini museum itu ramai dikunjungi wisatawan.

Dikatakan Sandi selaku pengelola museum tersebut, rata-rata wisatawan yang datang bertujuan adalah untuk melihat perjuangan dan kegigihan sepuluh putra daerah Belitong (Lintang, Ikal, Mahar, Kucai, Trapani, A Kiong, Sahara, Syahdan, Harun, dan Samson) yang memiliki impian dan cita-cita ke depan “Para wisatawan yang datang menyampaikan bahwa mereka ingin melihat potret kehidupan dalam film tersebut karena itu merupakan suatu semangat, mimpi, cita-cita dan perjuangan hidup,” ujar Sandi saat ditemui di museum itu.

Dalam konsep pembangunan museum, kata Sandi, penulis membangun museum dari bekas rumah pejabat timah lama yang di renovasi dengan mengusung model literatur musik, film, anak, seni, hingga literatur arsitektur. Di tiap ruangan museum pengunjung dapat melihat foto-foto tokoh Lintang dan anak-anak dalam film itu,termasuk foto sang penulis dengan kalimat-kalimat inspiratif dan foto-foto dalam film Laskar pelangi.  Museum Kata Andrea Hirata ini letaknya tidak berjauhan dengan lokasi SD Laskar Pelangi .

Museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 10.00WIB hingga 17.00 WIB.Setiap pengunjung yang masuk ke dalam museum akan dikenakan biaya Rp 50.000/orang dan akan mendapatkan satu buku saku tentang Laskar Pelangi.

Tina, wisatawan asal Bangka yang bertandang di Museum Kata Andrea Hirata kepada Babel Review mengaku terkesan dengan keberadaan museum tersebut. Sebagai penikmat karya sastra, keberadaan museum tersebut diapresiasi Tina secara positif. “Luar biasa. Bagi kami penikmat karya sastra, museum ini inspiratif. Di museum ini ada pesan moral, spirit dan karya seni yang melebur menjadi satu “ujar tina(BBR)