Menyusuri Tempat Wisata Ikonik Pangkalpinang

Admin
Menyusuri Tempat Wisata Ikonik Pangkalpinang
foto:ilustrasi/net

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW – Sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dalam beberapa tahun terakhir Kota Pangkalpinang mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Lalu lintas yang semakin padat, hadirnya pasar-pasar modern, tumbuhnya usahausaha baru, dan beberapa indikator lainnya menunjukkan bahwa kota ini sedang bertumbuh. Secara administratif  Kota Pangkalpinang ditetapkan sebagai ibukota Povinsi Bangka Belitung pada tanggal 9 Februari 2001. Kota yang terletak di bagian timur Pulau Bangka ini terbagi dalam tujuh kecamatan yaitu Taman Sari, Rangkui, Pangkalbalam,

Gabek, Bukit Intan, Girimaya dan Gerunggang. Memiliki wilayah seluas 118,408 km2 dan jumlah penduduk berdasarkan Sensus Penduduk 2010 sebanyak 328,167 jiwa dengan kepadatan 1.955 jiwa/km2. Populasi Kota Pangkalpinang kebanyakan dibentuk oleh etnis Melayu dan Tionghoa suku Hakka yang datang dari Guangzhou ditambah sejumlah suku pendatang. Selain wisata kulinernya yang terkenal enak, Pangkalpinang memiliki pesona lain yang tak kalah menarik. Terdapat beberapa tempat wisata ikonik yang sayang untuk dilewatkan bila Anda sedang berkunjung ke Kota Pangkal Kemenangan ini.

 

Museum Timah Indonesia

Musium Teknologi Pertimahan atau lebih dikenal dengan Museum Timah Indonesia yang beralamat di Jalan A Yani no 179 Pangkalpinang ini tercatat sebagai satu-satunya di Asia. Dulunya bangunan ini adalah rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW). Rumah ini memiliki nilai sejarah tinggi bagi kemerdekaan Republik Indonesia. Museum ini menyimpan catatan perjalanan panjang sejarah pertimahan di Bangka Belitung khususnya dan dunia pada umumnya. Museum Timah Indonesia didirikan

pada tahun 1958 dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung dan memperkenalkannya pada masyarakat luas. Pendirian museum ini berawal tahun 50-an ketika saat itu dalam kegiatan penambangan banyak ditemukan benda-benda tradisional yang digunakan oleh penambang zaman dahulu, utamanya zaman Belanda. Museum Timah baru resmi dibuka sekaligus diresmikan pada 2 Agustus 1997. Bangka Belitung, perkembangan teknologi pertambangan sejak zaman Belanda hingga masa kini.

 

Masjid Jamik

Masjid Jamik merupakan salah satu masjid terbesar di Pangkalpinang, dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1936 M. Pada awal didirikannya, masjid ini berupa bangunan semi permanen berdinding kayu dan lantai semen. Masjid tersebut dibangun oleh warga Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tuatunu yang baru masuk ke wilayah Pangkalpinang. Mesjid ini sudah beberapa kali mengalami renovasi. Salah satu keunikan masjid Jamik adalah antara tangga depan (berbentuk setengah lingkaran) dengan atapnya

dihiasi oleh tiang penyangga kecil sebanyak 6 tiang (3 tiang di sebelah kanan dan 3 tiang di sebelah kiri) dapat diartikan sebagai Rukun Iman. Masjid memiliki 4 tiang utama sesuai jumlah khalifaturrasyidin, memiliki 5 pintu masuk, 3 di depan dan 1 disamping kiri dan 1 di samping kanan serta terdiri atas 3 undakan atau tingkatan dengan 1 kubah. Masjid Jamik adalah salah satu Cagar Budaya Kota Pangkalpinang (Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.13/PW.007/MKP/2010, tanggal 8 Januari 2010 dan dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 

Taman Sari

Taman Sari atau Wilhelmina Park dirancang oleh Van Ben Benzenhorn, merupakan fasilitas pendukung dari rumah Residen yang berfungsi sebagai taman, konservasi tanaman, tempat berolahraga ringan dan tempat beranginangin (zich onspannen) dengan luas areal 3.780 m².  Pada salah satu sisi taman dibangun Tugu Pergerakan Kemerdekaan yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Drs. Mohammad Hatta pada bulan Agustus 1949. Tugu tersebut dibangun dengan arsitektur unik. Pada bagian bawah

berbentuk punden berundak-undak berbentuk segi delapan dengan undakan sebanyak 17 undakan, yang memiliki makna, tanggal 17 saat diresmikannya Tugu Pergerakan Kemerdekaan. Undakundak bersegi delapan diartikan sebagai bulan delapan atau bulan Agustus saat diresmikannya Tugu Pergerakan Kemerdekaan. Jumlah undak-undak dikalikan panjangnya tiap-tiap lingkar segi delapan berjumlah 49 meter, dapat diartikan Tugu Perjuangan Kemerdekaan dibuat pada tahun 1949. (BBR/net)