Meski Daerah Kepulauan, Ikan Jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi di Babel

kasmirudin
Meski Daerah Kepulauan, Ikan Jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi di Babel
Ikan Jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi di Babel. (Foto: Istimewa)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung merilis catatan inflasi pada Oktober 2019. Dalam catatan BI, Babel mengalami inflasi sebesar 0,01 persen (mtm). Secara tahunan Bangka Belitung mengalami inflasi sebesar 4,28 persen (yoy) dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,88 persen (ytd).

Inflasi didorong oleh inflasi kelompok kesehatan sebesar 0,30 persen (mtm), kelompok makanan jadi sebesar 0,22 persen (mtm) dan kelompok bahan makanan sebesar 0,14 persen (mtm) terutama karena meningkatnya harga sub kelompok jasa kesehatan, seb kelompok perawatan jasmani/ kosmetika dan sub kelompok ikan segar.

“Di lain pihak, kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi dengan kondisi nasional yang mengalami inflasi tahunan sebesar 3,13 persen (yoy),” jelas Kepala Kantor Perwakilan BI Bangka Belitung Tantan Herioka dalam rilisnya, Kamis (7/11/2019).

Secara umum, kelompok bahan makanan tercatat mengalami inflasi pada bulan Oktober 2019 sebesar 0,14 (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Secara tahunan inflasi bahan makanan tercatat cukup tinggi yaitu sebesar 6,17 persen (yoy).

Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh inflasi pada komoditas ikan-ikanan. Ikan cumi-cumi merupakan penyumbang andil inflasi terbesar yaitu 0,099 persen. Ikan tongkol, ikan kerisi dan udang basah turut menyumbang inflasi masing-masing sebesar 0,088 persen, 0,042 persen dan 0,019 persen.

Berbeda dengan komoditas ikan-ikanan, komoditas daging ayam ras mengalami deflasi pada Oktober sebesar 0,009 persen. Cabai merah juga tercatat mengalami deflasi pada Oktober dengan andil sebesar 0,058 persen.

“Tercatat bahwa delapan dari sepuluh komoditas penyumbang inflasi terbesar di Bangka Belitung merupakan komoditas ikan-ikanan. Beberapa ikan yang perlu diperhatikan antara lain, ikan kembung, cumi-cumi, kerisi, tongkol, singkur, tenggiri dan hapau,” jelas Tantan.

Secara spasial, Pangkalpinang mengalami deflasi sementara Tanjungpandan mengalami inflasi. Pangkalpinang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,02 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 4,68 persen (yoy).

Salah satu penyumbang deflasi terbesar Pangkalpinang adalah komoditas tarif angkutan udara dengan andil sebesar 0,06 persen. Sedangkan Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 0,08 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 3,55 persen (yoy). Kelompok bahan makanan menyumbang inflasi terbesar di Tanjungpandan dengan andil sebesar 0,13 persen. (BBR)


Penulis  : Irwan
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review