Mimpi Museum Maritim Belum Padam

Ahada
Mimpi Museum Maritim Belum Padam
Fakhruddin Halim
Dr Yulian Fahrurrozi (tengah)
Dr Yulian Fahrurrozi (tengah)

 

Penulis: Fakhruddin Halim

BABELREVIEW.CO.ID -- Siang itu Kamis (8/1/2020) kami mengunjungi sahabat lama, seorang ahli Etnobiologi dan Perikanan Kelautan DR Yulian Fahrurrozi.

Ia adalah sosok ilmuan langka.  Bukan saja karena idialisme dan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan sehingga totalitas dalam pengabdian kepada masyarakat. 

Tapi kejujuran membuat dia tidak takut bersikap dan bersuara.  Makanya dia lebih memilih tidak menjadi apa-apa ketimbang menjadi apa-apa tapi tersandera oleh pragmatisme dan orang lain.

Dia mencemaskan kondisi lingkungan Kepualauan Bangka Belitung. Gagasan penyelamatan lingkungan haruslah berbasis masyarakat dan bersifat independen.

Sejumlah gagasannya mengenai hutan, perikanan,  kelautan, lingkungan dan Etnobiologi kini terus dimatangkan. Kini dia menjadi motor pengelolaan geopark (taman bumi).

Wilayah terpadu yang terdepan dalam perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan, dan mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

"Ketika masih mengajar, kelas saya di hutan, pantai,  kampung nelayan. Mahasiswa saya bawa ke sana," katanya, tersenyum. 

Sempat menjadi salah satu tokoh penting di salah satu universitas negeri di Pulau Bangka. Rencana awal,  Fakultas Perikanan Kelautan tempat dia mengajar berada di Pulau Belitung,  tapi gagal terwujud. 

Dia masih berharap sekolah pariwisata yang menjadi bagian integral dari kampus induk dapat terwujud di Belitung. Sayangnya bernasib sama.

Dia akhirnya lebih memilih "menyepi" di Pulau Belitung tanah kelahirannya, dengan segala persoalannya. Yulian masih memendam harapan Museum Maritim yang ideal atau lengkap dapat terwujud di Pulau Belitung.

"Sebagai daerah kepulauan Museum Maritim sangat relevan,  penting dan strategis." Sebagai pelindung benda cagar budaya, tempat pembentukan ideologi, disiplin, dan pengembangan pengetahuan bagi publik.

Budaya maritim yang begitu kaya membutuhkan ruang untuk terus lestari dan berkembang. Kekayaan dan keberagaman budaya maritim akan hilang apabila tidak dikomunikasikan kepada khalayak dan diberi ruang untuk terus hidup.

Menurutnya museum memiliki tanggung jawab dan fungsi untuk melestarikan, membina, sekaligus mengembangkan budaya maritim baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud.

Melalui pesan-pesan yang dirangkai lewat display dan ruang pameran, museum  berfungsi sebagai sarana komunikasi dan jembatan penghubung yang dapat memicu kesadaran dan pengetahuan bagi masyarakat.

Dari data yang ditelusuri di Indonesia hanya ada empat Museum Maritim,  yakni Jakarta,  Jawa Timur,  Magelang dan Jogjakarta.

"Sudah seharusnya Museum Maritim yang ideal,  lengkap dibangun di Pulau Belitung. Harapan itu sampai sekarang tidak padam," katanya.

Lahir dari keluarga terpandang.  Pamannya salah satu tokoh besar Indonesia. Seorang  paman lainnya adalah pejabat utama Beltim.

Tapi,  dia lebih memilih tidak menjadi apa-apa dan tidak memanfaatkan jaringan apa dan siapa. Hidup dengan kesederhanaan dan dengan segala kesahajaannya adalah pilihan terbaik.(*)

Penulis: Fakhruddin Halim