Oleh-Oleh Babel Makin Terjepit  

Admin
Oleh-Oleh Babel  Makin Terjepit   

 

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW – Pelaku usaha olahan makanan ringan khas Bangka Belitung atau oleh-oleh, seperti getas, kericu dan kempalang beberapa bulan terakhir ini mulai merasakan penurunan permintaan atau omset. Walaupun belum signifikan, namun jika penurunan terjadi berkepanjangan dan tidak ada solusi maka akan berakibat buruk bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang didominasi usaha olahan pangan.

Penjualan buah tangan ini bergantung pada pembeli yang umumnya adalah tamu dari luar daerah. Sejak diberlakukannya bagasi pesawat berbayar pada sejumlah maskapai, penumpang memilih untuk tidak membawa barang berlebihan termasuk membawa oleh-oleh. Ini yang menjadi tantangan Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan. Transportasi yang menunjang kemudahan aksesbilitas maupun jasa pengiriman barang menjadi penentu.

Disisi lain, usaha olahan makanan juga bergantung pada ketersediaan bahan baku. Namun hasil laut atau perikanan sebagai bahan baku sering tak menentu. Selain karena faktor musin dan cuaca, nelayan lokal juga masih bergantung pada tengkulak yang mengendalikan harga dan distribusi.

Desa Kurau, Kecamatan Koba, Bangka Tengah menjadi sentra olahan makanan khas Babel berbahan baku ikan dan sotong terkena dampaknya. Salah satunya adalah Ani (38), pelaku usaha getas dengan nama merek R3 Maknyos ini dalam beberapa bulan terakhir terpaksa harus mengurangi produksi. Hal ini lantaran permintaan dan penjualan getas terus menurun. Ditambah lagi harga bahan baku ikan segar tak menentu akibat musim dan hasil tangkapan nelayan berkurang.

“Sekarang ikan mahal apalagi susah karena angin kencang. Mungkin nanti tanggal 11 dan 12 agak murah. Yang saya beli biasanya ikan kepitek sama ikan ciw, biasanya per kilo harganya Rp7-8 ribu sekarang harganya Rp 15 ribu,” ujar Ani.

Menurut Ani, selain karena bagasi pesawat berbayar, penurunan penjualan juga disebabkan oleh faktor ekonomi masyarakat yang menurun sehingga daya beli masyarakat pun menurun. Dikatakan Ani, banyak masyarakat yang mengeluh karena harga jual komoditi pertanian dan tangkapan nelayan menurun. Apalagi saat musim kemarau banyak penambang timah yang berhenti beroperasi karena sumber air untuk menyemprot kering.

“Kalau sekarang sepi karena banyak orang yang penghasilannya tidak tetap. Orang berenti TI musim kemarau begini air kering. Sahang, karet harganya juga jatuh. Jadi uangnya buat hidup sehari-hari aja udah syukur,” ujar Ani.

Agar usahanya bisa tetap berjalan, Ani terpaksa mengurangi produksi. Biasanya setiap kali produksi membuat getas membutuhkan sedikitnya 20 kilogram ikan segar. Namun sekarang setiap kali produksi hanya 10 kilogram ikan. Walaupun harga ikan segar naik, namun ia berusaha tidak menaikan harga getas untuk menjaga daya saing dan pelanggannya.

“Harapannya pemerintah bisa membantu supaya harga ikan stabil dan perekonomian masyarakat kembali meningkat. Semoga usaha kita tetap lancar, syukur-syukur kalau usaha kita maju, sukses,” harapnya.

Ani sudah menjalani usaha getas sejak 3 tahun ini. Dalam seminggu Ani memproduksi getas empat kali atau empat hari. Bila mendekati hari raya permintaan meningkat bisa memproduksi setiap hari dengan jumlah yang lebih banyak. Produk getasnya sudah dipasarkan ke wilayah Koba dan Pangkalpinang. Ani menjual getas dengan berbagai kemasan, mulai dari kemasan 250 gram dijual Rp 25 ribu, kemasan 500 gram Rp 50 ribu dan kemasan 1 kilogram Rp 100 ribu.

“Kalau sekarang masih titip ke toko-toko oleh-oleh, toko-toko besar. Harapannya bisa punya toko sendiri dan buat kemplang, kericu juga,” ujarnya. (BBR)