Pentingnya Sustainibility Bagi Masa Depan Perusahaan  

Admin
Pentingnya Sustainibility Bagi Masa Depan Perusahaan   
Foto: IST

Dewasa ini bidang akuntansi bukan merupakan hal yang tabu lagi bagi masyarakat. Akuntansi yang memiliki banyak bidang banyak mencuri perhatian masyarakat luas dan perusahaan baik perusahaan swasta maupun BUMN. Akuntansi merupakan bahasa bisnis (Lavoie 1987) sebagai konstruk sosial (Hines 1988) yang terbentuk oleh realitas dunia (Hopwood 1994) dan menjadi bagian dari fungsi komunikasi. Salah satu yang menarik perhatian yaitu akuntansi sustainable.

Sustainable development atau pembangunan berkelanjutan merupakan konsep pembangunan yang menggabungkan perkembangan ekonomi,  kesejahteraan social, perlindungan lingkungan (WCED 1987). Konsep pembangunan ini merupakan realitas dunia yang tidak dapat dipisahkan dari dunia bisnis. Perusahaan saat ini dituntut memberikan sumbangsihnya terhadapa keberlanjutan bagi pembangunan dan masyarakat umum

Sustainable Development Goals (SDGs) rancangan PBB tahun 2015 lalu, berencana memasang 17 target ambisius untuk diraih pada tahun 2030. Seandainya semua capaian SDGs ini berhasil diraih, Bumi diharapkan menjadi tempat yang lebih baik bagi umat manusia. Namun target SDGs akan mustahil tercapai apabila hanya menjadi topik diskusi dalam seminar dan konferensi tingkat tinggi. Untuk mencapai SDGs, sektor swasta harus memasukkan SDG dalam strategi perusahaannya bersamaan dengan pemerintah yang memberikan insentif pada sektor swasta agar turut berperan aktif mencapai target SDGs.

Dibandingkan era Millenium Development Goals sebelumnya (2000-2015) sektor swasta sepertinya mulai memberikan perhatian yang lebih terhadap SDGs. Berdasarkan riset PBB pada 1000 lebih CEO dari lebih dari 100 negara disimpulkan bahwa sebanyak 89% dari CEO menyadari bahwa komitmen perusahaan terhadap SDG memberikan dampak terhadap industri mereka. Selanjutnya, 87% CEO percaya bahwa SDG membuka banyak kesempatan bagi perusahaan untuk memikirkan ulang pendekatan bisnis yang berfokus pada penciptaan nilai yang berkelanjutan  (UN, 2016).

sebanyak 62% perusahaan dunia telah menyebutkan SDGs dalam laporan mereka berdasarkan Laporan PWC (2017).  Survey yang dilakukan meliputi 470 perusahaan di 17 negara. Namun sangat disayangkan meskipun 62% perusahaan telah menyebutkan SDG dalam laporan perusahaan mereka akan tetapi hanya 37% saja yang serius memprioritas target SDG mana yang menjadi sasaran perusahaan mereka. Sementara itu 63% perusahaan lainnya tidak memberikan kaitan berarti antara SDG dengan target perusahaan. Dengan demikian banyak perusahaan yang masih memandang SDG sebagai suatu “jargon” yang terdengar keren di dalam laporan perusahaan namun tidak benar-benar mentautkan target-target perusahaan dengan SDG.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa aturan yang terkait dengan sustainable yaitu  Pencadangan Biaya Lingkungan dan PSAK 57 Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi, Perubahan Teknologi yang Cepat dan PSAK 48 Penurunan Nilai Aset, Manajemen Risiko dan pengungkapannya dalam PSAK 60 Instrumen Keuangan: Pengungkapan, Memperhitungkan Risiko Lingkungan dalam Model Penurunan Nilai PSAK 71 Instrumen Keuangan, Kesetaraan Jender dan PSAK 24 Imbalan Kerja, Beban Riset dan Pengembangan dan PSAK 19 Aset Takberwujud,

Akuntan memiliki peran penting dalam pencapaian SDGs (IFAC 2016; ACCA 2017; Makarenko & Plastun 2017). Akuntan memiliki andil menjadi “value reporter” yang memberikan laporan mengenai nilai-nilai perusahaan kepada stakeholders. Selain bertugas menyusun laporan, akuntan juga berperan sebagai “value keeper” dimana akuntan dituntut menjaga perusahaan tetap komitmen dalam mencapai nilai-nilai yang sudah dijadikan visi dan misi perusahaan. Tanpa akuntan, target-target SDG mungkin hanya sebuah slogan cantik dalam laporan perusahaan. Akuntan harus membangun kesadaran terhadap perusahaan dan sektor swasta seberapa penting SDGs dalam strategi perusahaan mereka. Bukan untuk ajang unjuk gigi namun hal tersebut akan menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang.

Karya : Melysa Volianti, Akuntansi 2016, Universitas Bangka Belitung