PT. BAA Harus Lebih Serius Tangani Bau Limbah

kasmirudin
PT. BAA Harus Lebih Serius Tangani Bau Limbah
Bupati Bangka Mulkan S.H, Bersama sejumlah pejabat melakukan tinjauan ke pabrik PT. BAA untuk melihat kondisi yang menyebabkan timbul bau tidak sedap di kalangan masyarakat Desa Kenangan, Senin (19/11/2019). (Foto: Ibnu)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID -- Menanggapi aspirasi masyarakat Desa Kenanga terkait dengan bau tidak sedap yang disebabkan oleh limbah pabrik PT. Bangka Asindo Agri (BAA), Pemerintah Kabupaten Bangka langsung merespon dengan mendatangi pabrik untuk melihat kondisi di lapangan, Senin (18/11/2019).

Bupati Bangka Mulkan S.H,M.H dalam melakukan tinjauan ke pabrik PT. BAA didampingi oleh Wakil Bupati Bangka, Wakil DPRD Kabupaten Bangka, Kejari Sungailiat, Kapolres Bangka, kepala Dinas Lingkungan Hidup Bangka, camat Sungailiat, lurah Kenanga dan sejumlah OPD lainnya.

Bupati Bangka Mulkan mengatakan, mereka datang ke pabrik guna melakukan tinjauan langsung ke bak pengolahan limbah, guna memastikan pihak pabrik dalam melakukan upaya menghilangkan bau yang tidak sedap.

Dalam permasalahan ini, pihaknya mencoba melakukan tindakan persuasif kepada pihak perusahaan. Supaya pihak perusahaan lebih serius dalam menangani limbah, supaya tidak menimbulkan keluhan di masyarakat.

"Saya mohon dan mengimbau kepada masyarakat kenanga untuk bersabar, percayakan penyelesaian masalah ini dengan pemerintah. Jangan berbuat anarkis, karena permasalahan ini sedang kita tindak lanjuti dan jagalah keamanan di daerah ini," pintanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka, Meina Lina mengatakan, bahwa bau tidak sedap itu diduga disebabkan karena meningkatnya volume produksi pengolahan tapioka. Sementara itu, kapasitas IPAL tidak mampu menampung limbah yang dihasilkan dari sistem produksi.

“Perusahaan seharusnya mematuhi dokumen yang sudah dibuat, seperti jumlah produksi tercantum 100 ton per hari. Jika melebihi kapasitas itu maka jumlah limbah yang dihasilkan juga akan bertambah," jelasnya.

Sementara itu Kabid Pengendalian Lingkungan Hidup DLH, Insyirah Subagia menerangkan jika pihaknya sudah sering mengingatkan pihak pabrik, agar setiap produksinya selalu menyesuaikan dengan IPAL yang berlaku. Sehingga hal tersebut dapat meminimalisir terjadinya bau yang tidak sedap.

"Sepertinya beberapa bulan ini banyak masyarakat yang menjual ubi kasesa ke pihak perusahaan, sehingga perusahaan tidak dapat menolak masyarakat yang ingin menjual hasil panennya. Saya menduga pihak perusahaan telah melakukan produsi yang banyak, sehingga sistem IPAL yang ada tidak dapat menampung hasil limbah yang dihasilkan. Membuat kejadian itu yang menyebabkan bau tidak sedap, dan menimbulkan keluhan masyarakat Desa Kenanga," ungkapnya.

Ia mengharapkan kepada pihak perusahaan supaya dapat melakukan tindakan, agar bau yang dikeluhkan warga Desa Kenanga dapat diatasi. (BBR)


Penulis  : Ibnu                                   
Editor    : Kasmir
Sumber  :Babel Review