Pusuk Desa Berjuta Potensi

Admin
Pusuk Desa Berjuta Potensi
Foto:Faisal

BANGKA BARAT, BABEL REVIEW -- Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat Provinsi Bangka Belitung berkomitmen menjaga tradisinya sebagai  desa penghasil beras merah yang melimpah setiap tahun. Desa dengan luas 3.720 Ha tersebut hampir seluruhnya didominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan. Data yang dihimpun Babel Review, 99 persen lahan di Desa Pusuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan yakni perkebunan seluas 3.282,60 Ha, tanah hutan 341,20 Ha dan ladang sawah 80 Ha, sisanya 16 Ha diisi oleh pemukiman warga dan fasilitas umum.

Besarnya potensi pertanian tersebut membuat Pemerintah Desa Pusuk ingin mengotimalkan pengembangan komoditi beras merah yang sudah turun-temurun dihasilkan oleh desa ini. Kepala Desa Pusuk, Lizan, mengatakan dalam pengembangan komoditi beras merah pihaknya menyediakan ladang seluas 80 Ha untuk dimanfaatkan oleh 8 kelompok tani (poktan).

“Saat ini, 80 Ha ladang sawah padi merah sudah dikelola oleh 8 kelompok tani, belum ditambah warga desa yang memanfaatkan lahan pribadinya untuk menanam padi merah,” ujar Lizan, kamis (12/9). Dirinya menuturkan, dari 1 Ha ladang yang dikelola poktan bisa menghasilkan 1,8 ton beras merah, yang jika dikalkulasikan dalam 80 Ha bisa menghasilkan 144 ton sekali panen.“Untuk saat ini kita melaksanakan panen sekali dalam setahun yakni setiap bulan Februari saja. Namun ke depan kita akan buat waktu panen menjadi dua kali dalam setahun yakni setiap bulan ketiga dan ketujuh,” jelasnya.

Wujud tekad Kades Lizan dalam pengembangan tersebut, dirinya akan rutin menggelar pemberdayaan masyarakat dengan memberikan pelatihan tentang pertanian kepada kelompok-kelompok tani. “Kita akan rutinkan pemberian bimbingan dan pelatihan serta melakukan kerja sama dengan dinas terkait baik kabupaten maupun provinsi untuk penyediaan bibit unggul,”ucapnya. Lizan menjelaskan, saat ini poktan masih menggunakan cara manual.

Untuk itu dirinya akan mengajukan pengadaan mesin perontok ke dinas terkait agar pengolahan bisa berjalan cepat hingga bisa mencapai target panen dua kali dalam setahun. “Dengan adanya pengembangan ini, saya berharap bisa meningkatkan hasil produksi pertanian sehingga ada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (BBR)

Potensi Laut Yang Menjanjikan

DENGAN letak geografis di ujung barat Pulau Bangka, ditambah letak yang berdekatan dengan teluk, membuat Desa Pusuk sebagai desa pesisir yang memiliki potensi kelautan yang cukup melimpah. Dengan besarnya potensi tersebut, tercatat ada peningkatan jumlah warga yang beralih pekerjaan dari bertani menjadi nelayan setiap tahunnya. Data yang didapat Babel Review rentang 2018 dan 2019 ada peningkatan jumlah nelayan hampir seratus persen.

“Jumlah nelayan di Desa Pusuk pada tahun 2018 berjumlah 107 orang, namun jumlah tersebut naik signifikan pada tahun 2019 hingga mencapai 200 lebih nelayan,” ujar Lizan, Kades Pusuk. Kades menjelaskan, banyaknya warga yang beralih pekerjaan menjadi nelayan dikarenakan tangkapan hasil laut yang sangat

menguntungkan dan menjanjikan. “Hasil tangkapan nelayan di Teluk Kelabat Desa Pusuk sangat beragam dan menjanjikan seperti ikan selanget, belanak, kitang, pari, mayong, kerapu, kepiting item, putuh, kerang bambu, siput isep serta udang lipan,” tuturnya. Ia menerangkan, bahkan ikan selanget dan belanak sudah banyak dipesan oleh para pengepul. Harga udang lipan yang bisa mencapai Rp 120 ribu/ekor membuat warga banyak beralih menjadi nelayan.

“Potensi sektor kelautan adalah masuk skala prioritas kami setelah pertanian. Oleh sebab itu kita juga rutin memberikan bantuan berupa jaring pukat dari dana desa (ADD) kepada para nelayan terutama yang kurang mampu,” jelasnya. (BBR)

Kelola Mangrove Jadi Destinasi Wisata

TELUK Kelabat Desa Pusuk yang didominasi oleh hutan mangrove membuat pemdes berencana mengubahnya menjadi destinasi wisata mangrove. Rencana tersebut sudah dimasukkan dalam agenda desa yang penggarapannya akan mulai dilaksanakan pada bulan Oktober tahun ini dan diestimasikan selesai lada tahun 2020. “Semua sudah kita anggarkan menggunakan dana desa (ADD). 

Insya Allah bulan depan kita sudah mulai penggarapan pengembangan destinasi wisata mangrove Teluk Kelabat,” ujar Kades. Di dalam desainnya, dirinya akan mengadopsi gaya wisata mangrove Desa Kurau dengan membuat trek jalan kaki sepanjang 200 meter dan akan diisi gazebo di

setiap 30 meternya. “Di setiap gazebo nanti akan kita sediakan penjualan makanan serba laut hasil tangkapan langsung nelayan Desa Pusuk. Kemudian di beberapa titik juga akan kita buat spot selfi untuk memanjakan para wisatawan lokal,” terangnya.

Dirinya berharap, destinasi wisata yang direncanakan selesai pada tahun 2020 tersebut bisa memarik minat wisatawan serta mendongkrak perekonomian warga. “Nanti setelah selesai, pengelolaanya akan kita serahkan kepada warga sehingga diharapkan ada pertumbuhan ekonomi sehingga mendongkrak kesejahteraan warga,” tukasnya. (BBR)

Desa Beragam Buah

LUASNYA lahan perkebunan membuat Desa Pusuk memiliki potensi tanaman buahbuahan yang sangat beragam hingga menjadi tujuan para pengepul dari berbagai daerah. Kades Pusuk, Lizan, mengatakan ada sekitar enam jenis tanaman buah yang menjadi incaran para pengepul yakni buah durian, duku, mangga, salak, strawberry, dan jambu.

 “Jika dihitung, ada ribuan batang durian di Desa Pusuk yang terkenal akan rasanya yang manis dan legit dan rencananya akan kembali panen pada bulan Januari 2020 nanti,” ucapnya. Saat ini, sambung Lizan, tanaman yang sudah mendekati masa panen adalah buah manga yang merupakan hasil program penanaman dari bantuan gunernur yang sudah dilaksanakan tiga tahun lalu.

“Untuk tanaman mangga, sudah kita lakukan sejak tahun 2015 dengan membagikan bibit mangga unggul untuk ditanam di setiap halaman rumah warga dan sekarang sudah dua kali panen,” jelasnya. Ia mengungkapkan, banyak penjual buah dari Pangkalpinang rela datang jauhjauh hanya untuk membeli buah-buahan dari Desa Pusuk. “Hasil buah-buahan Desa Pusuk terkenal akan kualitasnya yang baik dan manis sehingga menjadi tujuan para penjual buah dari berbagai daerah,” katanya.  (BBR)