Sebuah Kontribusi Pendidikan Tiada Henti

kasmirudin
Sebuah Kontribusi Pendidikan Tiada Henti
Lala Miami Prameswari. (Foto: Lala)

BERWAJAH sebuah negeri kepulauan, Bangka Belitung dianugerahi sumber daya alam yang melimpah. Bukan saja sebagai penghasil timah, tapi juga beragam wisata bahari nan indah. Lantas berbicara dari aspek sosial ekonomi, tingkat kemiskinan di Babel tergolong rendah dibandingkan provinsi lain di Nusantara. Lalu bagaimana dengan Sumber Daya Manusia di Babel? Sudahlah tentu berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diperoleh masyarakatnya.

Lebih jauh mengulas soal pendidikan, ada potret eksistensi proses belajar mengajar pada dua dusun di Kabupaten Bangka tengah, yang menarik untuk dideskripsikan. Yakni bagaimana gelora menggapai cita diwujudkan melalui pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan dan pendidikan lanjutan tingkat pertama di Sekolah Menengah Pertama 3 Satu Atap Sungaiselan.

Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan merupakan institusi pendidikan tunggal yang berada di Dusun Pulau Nangka. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam untuk menjangkaunya melalui moda transportasi laut dari Desa Sungaiselan atau melalui Dusun Tanjung Tedung Kecamatan Sungaiselan kurang lebih 20 menit. Tidak ada alternatif lain selain memakai perahu dayung atau perahu motor cepat, untuk menunjang mobilitas warga setempat.

Kesulitan aksesibilitas juga harus dilalui untuk sampai di Sekolah Menengah Pertama 3 Satu Atap Sungaiselan yang berlokasi di Dusun Pangkalraya. Dusun Pangkalraya terletak di bantaran sungai di Kecamatan Sungaiselan. Dua jalur berbeda ditempuh dengan kendaraan yang berbeda pula. Penggunaan perahu melalui Desa Sungaiselan membutuhkan waktu sekira 35 menit dan 10 menit lebih lama, apabila menggunakan kendaraan bermotor melalui Desa Lampur, Kecamatan Sungaiselan.

Mengingat alamat kedua sekolah tersebut berada di kawasan pinggiran, mudah rasanya menebak fasilitas apa saja yang sekira dipunyai keduanya. Secara umum dari segi infrastruktur yaitu bangunan sekolah yang telah usang seiring zaman. Ketiadaan air bersih dan kondisi kamar kecil yang sepatutnya sudah tak layak, menjadi problematis bagi para guru maupun siswa. Sampai-sampai yang terjadi, siswa harus membawa 2 liter air setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya.

Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan berdiri pada tahun 1983, dengan gedung sekolah yang sederhana. Meski ada penambahan pembangunan ruang kelas oleh pemerintah, namun belum mengakomodir kebutuhan secara total. Sebagian besar atap bangunan bahkan banyak hancur. Laut yang membentang memisahkan daratan Pulau Bangka dan Pulau Nangka,  menjadi salah satu penyebab susah sinyal telepon komunikasi dan internet. Dusun Pulau Nangka berpenduduk sebanyak 300 jiwa. 13,3% atau sejumlah 40 orang tercatat sebagai murid di Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan, dengan pembagian rombongan belajar 6 kelas. Jumlah guru PNS 6 orang ditambah 3 guru honor dan 2 tenaga pendidikan. Berdasarkan hitungan kuantitas memang sedikit tapi secara kualitas cukup impresif. Latar belakang pendidikan semua guru lulusan Strata 1 (S1) dengan 4 orang guru sudah bersertifikasi pendidik serta menggunakan sistem pengajaran kurikulum 2013 (K13).

Sedangkan keberadaan Sekolah Menengah Pertama 3 Satu Atap Sungaiselan, berusia lebih muda bila dibandingkan dengan Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan. Akan tetapi ironisnya sejak berdiri 12 tahun lalu tepatnya pada tahun 2007, seringkali terkena banjir akibat limpahan air pasang laut. Di dalam ruang guru yang sempit semua urusan dikerjakan. Ruang tersebut memiliki multifungsi, bisa menjadi ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, dan ruang guru memulai aktifitasnya. 1 dari 4 ruang kelas dimanfaatkan sebagai lab komputer. Adanya fasilitas lab komputer ini amat disyukuri guna menunjang terselenggaranya Ujian Nasional Berbasis Komputer. Jumlah siswa pada tahun ajaran 2018/2019 sebanyak 40 orang. Jumlah guru 5 orang, 1 kepala sekolah dan 2 tenaga pendidikan. Kenyataan bahwa kondisi jalan menuju sekolah terbilang belum memadai, mampu menggerakkan solidaritas masyarakat setempat untuk gotong royong memperbaiki jalan. Aksi ini adalah bentuk bagian dari dukungan masyarakat yang mempercayakan anaknya menimba ilmu di Sekolah Menengah Pertama 3 Satu Atap Sungaiselan.

Dari gambaran di atas, jelas bahwa keterbatasan sarana prasarana pendidikan adalah tantangan yang harus dihadapi dari hari ke hari. Kesulitan dalam mendapatkan akses pendidikan terkini, tak ada perpustakaan dan kerusakan bangunan sekolah yang tak kunjung direnovasi justru menjadi saksi keberhasilan alumni. Banyak alumni berprestasi melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi hingga kini menyandang berbagai profesi. Ada salah satu alumni yang berhasil menjadi seorang guru dan mendedikasikan ilmu pengetahuannya untuk mengajar di Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan. Selain itu, ada pula salah satu alumni yang mengabdi sebagai tenaga pendidikan di Sekolah Menengah Pertama 3 Satu Atap Sungaiselan. Bidan setempat pun merupakan alumni dari Sekolah Dasar Negeri 3 Sungaiselan.

Bagi pendidik yang mengajar, nilai bukan segalanya. Tetapi semangat peserta didik untuk bersekolah merupakan kebanggaan yang luar biasa. Semangat yang selalu ditularkan para pendidiklah yang membuat sekolah ini tetap ada. Pengabdian tanpa pamrih adalah hal besar yang telah mereka lakukan. Bahwa bekerja tidak semata untuk mendapatkan uang, melainkan yang utama adalah mengabdi penuh dedikasi. (BBR)


Penulis  : Lala Miami Prameswari
Editor    : Kasmir
Sumber  :Babel Review