Tanjungsiantu Geosite Tersembunyi Yang Belum Populer

Admin
Tanjungsiantu Geosite Tersembunyi Yang Belum Populer
Foto:Ichsan Husein

Pantai yang ini bukan granit biasa, seperti yang banyak ditemui di banyak pantai di Kepulauan Bangka Belitung. Ini adalah bebatuan yang berasal dari magma bawah laut. Bagaimana bisa?

SIJUK, BABEL REVIEW -- Belitung sedang panas-panasnya siang itu, Sabtu (15/6) saat BABEL REVIEW menyambangi Tanjungsiantu, tapi kabar baiknya adalah bahwa cara terbaik menikmati pesisir pantai Belitung justru saat cuaca sedang cerah dan terik.

Air laut akan tampak lebih biru dan begitu bening. Belum lagi pasir pantai yang berkilau karena pancaran sinar matahari. Kalau sudah begini, siapa yang tidak tergoda? Tanjungsiantu bisa dibilang salah-satu pantai paling unik di Belitung. Itu dikarenakan keberadaan lava bantal di sana. Batu-batu setinggi betis hingga lutut orang dewasa dengan warna merah kecoklatan terhampar di bibir pantai hingga menjorok ke laut.

Walau tampak bertekstur kasar, namun jika dipegang/ diraba, bebatuan ini terasa halus. Melalui proses alam, magma yang seketika mendingin tersebut keluar ke permukaan. Kini ia menghampar di bibir pantai, di Tanjungsiantu. Pemandangan tak biasa memang, mengingat pantai-pantai di Belitung didominasi bebatuan granit raksasa.

Kini Tanjungsiantu mulai menarik perhatian kembali setelah pemerintah concern terhadap keberadaan geosite. Geosite diarahkan menjadi destinasi wisata (geopark) unggulan di Belitung. Bagi Anda yang baru kali pertama ke Tanjungsiantu, panduan terbaik untuk menuju tempat ini adalah dengan bertanya kepada warga, atau meminta didampingi mereka yang sudah pernah ke sana.

Aplikasi peta online sendiri tampaknya belum memberikan titik yang tepat untuk Tanjungsiantu. Menyusuri jalanan tanah kuning dari Desa Sijuk akan menjadi rute Anda hingga bertemu sebuah sungai yang di atasnya berdiri jembatan kayu. Kendaraan roda empat hanya bisa sampai titik ini. Itu pun khusus untuk mobil-mobil jip (atau mobil sport lapangan lainnya) mengingat medan yang dilalui.

Setelah menyusuri jembatan kayu, praktis hanya kendaraan roda dua yang bisa melaluinya. Pada etape ini perjalanan Anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang menarik. Di sisi kirikanan, pepohonan kelapa tumbuh tinggi menjulang, sementara di bawahnya terhampar ilalang yang subur nan hijau.

Dengan rute yang cukup menantang itu, Tanjungsiantu juga biasanya menjadi pilihan track untuk mereka yang menekuni olahraga petualang mengendarai sepeda motor trail. Setelah menyelinap di antara jalanan ilalang dan pepohonan, sampailah Anda ke tempat yang dituju, pantai Tanjungsiantu.

 Pasir putih yang landai memanjang hingga kejauhan. Yang membuatnya sedikit terputus ya bebatuan lava bantal itu. Ada tiga onggok batu yang agak besar di antara bebatuan lava bantal yang relatif kecil. Di sebelahnya kontras pepohonan hijau dari hutan.

Jangan kaget jika LAVA bantal merupakan lava atau magma yang mengalir keluar ke permukaan bumi yang terjadi di dalam air dan kemudian menghasilkan lava berbentuk bantal/ guling (membundar/ memanjang), makanya kemudian ia disebut lava bantal (pillow lava). Dari papan informasi Geosite Tanjungsiantu, dijelaskan bagaimana proses munculnya lava bantal yang terbentuk pada punggungan tengah samudera, atau dapat juga dari lava gunung api bawah laut.

Lava bantal yang semula merupakan magma basal yang panas keluar di dalam laut dan seketika mendingin serta mengerut, juga retak dan meregang di tengahnya. Di Tanjungsiantu, ditemukan lava bantal yang kini posisinya sudah berada di daratan akibat pengangkatan oleh gaya tektonik.

Umurnya diperkirakan berusia 248 sampai 320 juta tahun yang lalu, namun apakah lava ini berasal dari punggungan tengah samudera atau gunung api bawah laut, masih memerlukan penelitian lebih lanjut. (BBR)


Penulis  : Ichsan
Editor    : Sanjay
Sumber : Babel Review