UBB Terima Aset BIG, Alat Ini Untuk Menghasilkan Data Base Spasial

Ahada
UBB Terima Aset BIG, Alat Ini Untuk Menghasilkan Data Base Spasial
MENCEK --  Ketua Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial (PPIDS) Universitas Bangka Belitung (UBB) Wahri Sunanda (kanan) didampingi pengurus PPIDS UBB Ghiri Basuki (Ketua TIK) UBB mencek sejumlah peralatan PPIDS yang dihibahkan Badan Informasi Geospasial (BIG) di ruang Teknologi Informasi dan Komunikasi UBB, Rabu (15/01/2020). (Foto: dok UBB)

 

BANGKA,  BABELREVIEW.CO.ID -- Pada 22 Juli 2017, merupakan hari  bersejarah bagi UBB dan Provinsi Kepulauan Babel.  

Pasalnya pada hari itu 16 item peralatan penting untuk mendukung operasional PPIDS (Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial) UBB tiba di Kampus Terpadu UBB, Balunijuk, Merawang.

Peralatan itu -- antara lain berupa  dua unit yang merupakan bagian penting dari keseriusan pemerintah dalam membuat peta informasi geospasial tematik (IGT),  guna mendukung Kebijakan Satu Peta (KSP) Indonesia.

Ketika menerima peralatan dari BIG, Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (Waktu itu sebagai Wakil Rektor UBB), mengemukakan,” Dengan tiba dan dipasangnya ke 16 item peralatan itu,  maka PPIDS  UBB, yang merupakan perpanjangan tangan BIG,  sudah bisa menghasilkan data base spasial, data satelit dan vektor.  Hal ini saya nilai  merupakan lompatan milenial bagi UBB!”.

Medio September 2019, Sekretaris Utama Badan Informasi Geospasial (BIG) Ir Muhtadi Ganda Sutrisna ME bersama Rektor Universitas Bangka Belitung Dr Ir Muh Yusuf M.Si menandatangani berita acara serah terima aset sebagai bentuk kerjasama UBB dan BIG.

Aset yang diserahkan BIG kepada UBB berupa Perangkat Teknologi Informasi yaitu server, personal computer dan software yang telah terpasang pada tahun 2018 di ruang server Unit Pelaksana Teknis Teknologi, Informasi dan Komunikasi (UPT TIK) UBB.

BIG  adalah lembaga pemerintah nonkementerian Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang informasi geospasial.

BIG berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden dan dipimpin oleh seorang kepala yang dijabat oleh Prof Dr  Ir Hasanuddin Z Abidin MSc.

Geospasial adalah semua informasi dan berbagai jenis data mengenai kenampakan bumi. Informasi tersebut biasa dikenal dengan istilah Informasi Geospasial (IG).

Ada berbagai macam IG antara lain peta dasar yang meliputi peta tematik datar, peta tutupan lahan, peta risiko bencana, peta zonasi wilayah, dan peta sosial-ekonomi.

Pemerintah telah memberi   kepercayaan penuh kepada Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk mengoperasikan alat-alat geospasial  sekaligus  membuat peta geospasial di Bangka Belitung. 

Ketika menandatangani dokumen aset pemerintah  -- berupa  seperangkat server dan data  basis geospasial --,  yang  disaksikan langsung  Ketua BIG Prof Dr Hasanuddin Z  Abidin, Prof Agus  mengemukakan kepercayaan ini merupakan kebanggaan bagi UBB.

"Meskipun usia masih sangat muda,   bagi UBB kepercayaan ini boleh ditamsilkan sebagai lompatan milenial.  Sebab, kini dan  terlebih lagi di masa  depan,   kehadiran peta geospasial itu  sangat  penting dan strategis,” ujar Agus Hartoko.

Agus Hartoko menegaskan  peta data geospasial itu harus  ada sebelum  sebuah lembaga di bawah pemerintah daerah membuat , atau menyusun rencana pembangunan.  

Peta geospasial  menjadi basis agar  rencana pembangunan terintegrasi satu sama lainnya.

:PPIDS UBB yang bekerjasama dengan instansi lain akan membuat peta geospasial tanaman lada. Juga bisa peta geospasial terhadap  unsur-unsur pendukung geopark Bangka Belitung dan pariwisata dan sebagainya,” tukas Agus Hartoko.

Sementara itu, Badan Informasi Geospasial (BIG) merupakan lembaga nonkementerian,  namun berada di bawah pengawasan  langsung Presiden RI, memberi kepercayaan kepada UBB untuk membuat peta informasi geospasial tematik (IGT) guna mendukung Kebijakan Satu Peta (KSP) Indonesia.

“PPIDS UBB merupakan mitra strategis Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk membuat peta geospasial tematik. Misalnya Babel ingin mengembangan lada putih, gahru, pariwisata dan sebagainya, itu semua  harus ada peta geospasialnya,” tegas Prof Hasanuddin Z  Abidin.

Peta geospasial, menurut dosen ITB itu sangat penting.  Bahkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas), ia mencontohkan,   tidak akan menyetujui apapun  bentuk usulan dari pemerintah daerah apabila tidak dilengkapi dengan  peta lokus spasial -- peta lokasi (spasial) atas proyek yang diusulkan tersebut.

Terhadap peta geospasial di Bangka Belitung, Hasanuddin mengemukakan pihaknya sebelum ke UBB telah bertemu dengan Pemrov Babel. Dalam pertemuan itu ia menyarankan melalui peta geospasial tematik maka akan dapat di ‘zoom’ lokasi tanaman lada, pariwisata, pulau-pulau kecil dan distribusi kemiskinan.

PPIDS UBB  lanjut Ketua BIG itu  merupakan perpanjangan tangan BIG di daerah.  Keberadaan PPIDS hanya ada  di perguruan tinggi, dan sejauh ini (waktu itu)  sudah terbentuk 18 dari 35 target PPIDS di seluruh Indonesia.

Pada bagian lain kuliah umumnya, Hasanuddin mengemukakan jumlah pulau di Bangka Belitung yang telah dibakukan BIG hingga tahun 2012 sebanyak 468 pulau. Lalu, lima tahun kemudian (2017), BIG telah melakukan survei validasi dan verifikasi pulau.

“Jumlah pulau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bertambah sebanyak 87 pulau,” ujar Hasanuddin, yang menambahkan Indonesia menargetkan 85 peta tematik dalam konteks Kebijakan Satu Peta (KSP) yang berakhir tahun 2019.

Ia juga mendorong UBB untuk membuat program studi atau strata D1 dan D3 yang mencetak alumni berprofesi sebagai surveyor geospasial.

“Perlu dicatat, profesi surveyor adalah salah satu profesi yang bebas mencari kerja di semua negara ASEAN, atau Komunitas Ekonomi ASEAN. Jangan sampai karena keterbatasan  tersedia tenaga surveyor,  untuk Bangka Belitung dan daerah lainnya di Indonesia,  surveyornya berasal dari negara jiran,” ujar Hasanuddin. (BBR)

Penulis: Eddy Jajang JA (SM)