UMKM Babel Masih Berkembang

Admin
UMKM Babel Masih Berkembang
Foto:Pras

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW – Kepala Koperasi dan UMKM Bangka Belitung Elfiyena mengatakan belum ada pelaku UMKM yang menyampaikan informasi bahwa terjadi penurunan omset atau kesulitan bahan baku olahan makanan laut. Elfiyena juga memiliki grup di media sosial yang beranggotakan para pelaku UMKM, baik produsen makanan olahan laut maupun jenis usaha lainnya.

“Sampai saat ini para pelaku UMKM sama kali belum ada yang menyampaikan ke kami. Berarti masih baik-baik saja dan produktifitas mereka tetap berjalan kalau di Pulau Bangka. Kalau di Belitung beberapa waktu lalu memang merasakan dampak kenaikan harga tiket pesawat tapi sekarang sudah berangsur membaik. Tapi itu juga tidak membuat usaha mereka drop tetap masih bisa berusaha tidak sampai ada yang gulung tikar,” ungkap Elfi.

Elfi mengatakan ia selalu berkomunikasi dengan baik dengan para pelaku UMKM dan Koperasi melalui media sosial. Ia pun selalu mendapat informasi bila ada perkembangan terbaru dan belum ada yang menyebut terjadi penurunan omset penjualan dalam beberapa bulan terakhir. Apalagi pemerintah daerah melalui semua instansi giat membawa event nasional maupun internasional dilaksanakan di Bangka Belitung yang menjadi wadah bagi para pelaku UMKM melakukan gelar produk.

“Walaupun setiap event itu beda-beda tamu yang datang, artinya relatif. Ada yang datang ke Babel membawa duit lebih, ada yang cuma bawa ongkos saja, jadi kita harap mereka meninggalkan duitnya disini. Saya tetap optimis pelaku UMKM tetap berjalan dan pemerintah juga berusaha berbuat untuk memajukan UMKM,” ujarnya.

Dikatakan Elfi, Bangka Belitung memiliki galeri UMKM di Gedung Smesco Jakarta dengan lokasi yang strategis di lantai 1. Dari penjualan di galeri tersebut produk makanan olahan laut paling banyak diminati dan selalu terjual. Ini juga menandakan bahwa kondisi UMKM di Bangka Belitung baik.

“Kalau dulu tempanya (galeri) itu kalau kata orang menyebutnya buangan tetapi saya berusaha bagaimana pun galeri UMKM Babel harus di lantai 1 dan sekarang pindah ke lantai 1 dekat dengan kasir juga, jadi orang banyak yang berbelanja dan harganya pun sama dengan yg dijual di Bangka,” katanya.

Yang menjadi tantangan pelaku UMKM saat ini adalah terus berinovasi dalam menciptakan produk. Elfi mengatakan sudah seharusnya pelaku UMKM mengamati kebutuhan dan karakter pembeli. Ia mencontohkan kebanyakan pembali dari luar daerah enggan membeli produk sirup karena susah dibawa maka tantangannya adalah bagaimana merubah produk sirup menjadi bubuk yang mudah dibawa.

Upaya pemerintah juga mendorong para pelaku UMKM berkelompok membentuk atau bergabung dengan koperasi. Pemerintah sekarang sudah mereformasi total koperasi, yang tadinya hanya dikenal sebagai simpan pinjam tetapi kini menjadi koperasi usaha. Para anggota dapat mengembangkan usaha melalui koperasi dengan skala yang lebih besar.

“Sekarang kita mendorong para pelaku UMKM itu untuk berkoperasi bagaimana dia bersama-sama untuk memajukan usaha dan ada badan hukumnya. Keuntungannya banyak terutama kalau koperasi itu berbadan hukum berarti sudah bisa ikut pengadaan barang dan jasa,” ujarnya.

 

Elfi juga merubah pola pelatihan bagi UMKM. Kalau sebelumnya peserta pelatihan diambil dari masing-masing kabupaten/kota. Namun sekarang peserta pelatihan diambil dari desa-desa yang berada dalam satu kecamatan. Hal tersebut agar gerakan ekonomi masyarakat dalam sebuah kecamatan dapat terfokus dan didorong untuk berkoperasi agar lebih cepat berkembang.

“Sekarang saya mengadakan pelatihan pesertanya dari satu kecamatan ada 3 atau 4 desa. Saya mau menggerakan ekonomi masyarakat seperti di  Sungaiselan ada 30 orang dilatih dan 10 orang mulai berusaha berarti ekonomi di Sungaiselan sudah mulai bergerak yang selama ini dia hanya jual di depan rumah kita latih juga belajar menjual melalui online,” ujarnya. (BBR)