Upaya Mempercantik Wajah Belitung

Admin
Upaya Mempercantik Wajah Belitung
Bundaran Batu Satam Tanjung PandanFoto:Ichsan Husein

Tugu Batu Satam sudah lama menjadi salah satu ikon Tanjungpandan, namun rasanya selama ini masih ada yang kurang dari spot tersebut. Mestinya ia bisa jauh lebih cantik dan memukau.

TANJUNGPANDAN, BABEL REVIEW -- Sebagai pintu gerbang pariwisata Negeri Laskar Pelangi, Pemerintah Daerah Belitung sadar betul pentingnya mempercantik wajah Kota Tanjungpandan. Harapannya, muncul kesan pertama yang menyenangkan ketika wisatawan untuk kali pertama menginjakkan kaki di Belitung, serta kemudian semakin betah untuk menghabiskan waktunya di sini.

Setiap potensi yang dimiliki itu memang harus digarap secara maksimal. Termasuk taman dan sudut kota yang memang tidak sekadar mempercantik dan pemanis saja, melainkan juga menjadi daya tarik tersendiri untuk didatangi atau disaksikan wisatawan. Lebih dari itu, sebuah tempat yang berkarakter kuat diharapkan bisa menjadi ikon yang mudah diingat orang.

Bundaran Batu Satam merupakan salah-satu jalan utama yang paling ramai dilintasi di Tanjungpandan. Maklum, ia menjadi titik temu dari enam jalan yaitu Jalan Sriwijaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Merdeka, Jalan Endek, Jalan Gegedek, dan Jalan Veteran. Kenapa disebut Bundaran Batu Satam, karena di sana terdapat tugu replika batu satam yang berukuran besar.

Batu Satam sendiri merupakan sebuah batu yang identik dengan Belitung sehingga memang cocok untuk menjadi salah satu ikon daerah. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung berupaya menguatkan kembali identitas itu dengan cara rebranding Tugu Batu Satam dengan nama Satam Square. Tulisan Satam Square berukuran besar (jain letter) terpampang pada tiang penyangga replika batu satam.

Tulisan ini menghadap ke arah timur sehingga terlihat jelas saat Anda datang dari arah Jalan Jenderal Sudirman atau Jalan Sriwijaya. Dengan warna merah muda yang mencolok, Tugu Batu Satam pun terlihat meriah dan menarik saat malam hari.

Tak cuma itu, air mancur yang mengelilinginya juga dibuat semenarik mungkin dengan menambahkan efek cahaya lampu dengan warna yang bisa berubahubah. Kesan segar terasa dari penempatan air mancur yang pas. Melengkapi kemeriahan Satam Square, lampu LED strip dipasang di sisi trotoar yang melingkar mengelilingi bundaran Satam Square.

Untuk mengedukasi masyarakat (atau wisatawan) yang mendatangi Satam Square, terdapat informasi tentang Batu Satam. Narasi itu dibuat dengan menggunakan keramik berukuran 120 cm x 60 cm yang berada di bagian bawah replika batu satam raksasa tersebut. Dengan judul The Satam/ Billitonite, dijelaskan salah satunya bahwa Batu Satam dulu juga dikenal sebagai Berlian Hitam.

Masyarakat pun memberikan respon positif atas kehadiran Satam Square. “Namanya bagus, modern, enak didenger”, ungkap Fery, warga Pangkallalang. Menurut pria 32 tahun itu, dengan nama yang terkesan modern tersebut dapat menunjukkan kesiapan Belitung untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. (BBR)