Wajah UMKM Babel Pada Literasi Digital 4.0

kasmirudin
Wajah UMKM Babel Pada Literasi Digital 4.0
Kristin Natalia Saragih (Mahasiswi Falkutas Ekonomi Universitas Bangka Belitung).

KONTRIBUSI Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap pertumbuhan ekonomi sangatlah signifikan. Bahkan, Indonesia mencapai 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Secara realita, pelaku UMKM pada tahun 2019 mau tidak mau atau suka tidak suka, akan menghadapi pesta demokrasi politk dan persaingan ekonomi global. Dari kondisi tersebut dapat dipastikan akan menjadi tantangan besar sekaligus peluang bagi UMKM, dalam upaya meningkatkan serta memberdayakan usaha ekonominya. Sehingga mampu berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri berbasiskan perkembangan teknologi 4.0 saat ini.

Di samping itu, UMKM juga akan menghadapi perdagangan bebas pada tahun 2020 mendatang yang dimana pada tahun tersebut, telah disepakati untuk melaksanakan perdagangan bebas bagi ekonomi yang masih berkembang termasuk Indonesia dan Bangka Belitung sendiri.

Dalam hal ini, wajah UMKM yang pantas dan layak ditampilkan untuk menghadapi strategi dalam mengisi keperluan dan kebutuhan pesta demokrasi politik serta mmapu bersaing dalam pasar global, yaitu UMKM yang memiliki strategi entrepreneurship yang berbasiskan kearifan lokal dan perkembangan teknologi.

Seperti di Bangka Belitung sendiri di awal timah digembar gemborkan sebagai pendapatan utama masyarakat, namun pada akhirnya SDA tersebut semakin hari semakin menipis dan bahkan akan habis nantinya. Dari hal tersebut berdampak pada perekonomian masyarakat Bangka Belitung dan menjadi permasalahan panjang dan berkelanjutan. Salah satu solusi yang tepat ialah UMKM dipacu dengan kreatifitas dan perkembangan teknologi masyarakat tidak harus bergantung pada sektor timah semata, yang sewaktu-waktu akan habis dan tidak dapat perbaharui. UMKM dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru yang akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan angka kesejahteraan masyarakat.

Memang di satu sisi usaha ini tidak dapat dengan mudah dikembangkan, namun harus step by step yang berkelanjutan dan berkesinambungan, masyarakat Babel melalui UMKM dapat berkembang dan mampu mendorong perkembangan perekonomian Provinsi Bangka Belitung secara umum menjadi lebih baik lagi dan mampu bersaing di era digitalisasi 4.0.

Saya sendiri menilai kenapa wisatawan lebih banyak datang ke Yogyakarta, daripada ke Bangka Belitung? Padahal menurut saya sendiri dari segi keindahan pariwisatanya lebih unggul Babel. Itu lebih dikarenakan biaya hidup di Yogja murah. Di Yogja uang Rp 100 ribu bisa untuk mencukupi biaya hidup selama tiga hari atau bahkan lebih, sedangkan di Babel yang 100 ribu hanya bisa mencukupi biaya hidup satu hari.  Hal inilah yang akan menjadi PR bagi pemerintah setempat dan juga masyarakat, bagaiamana mengatasi permasalahan daerah yang urgent? Jika tidak diatasi akan menjadi kerangkeng besi yang menghambat dan mengurung kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung itu sendiri. Nah, mungkin UMKM dapat menjadi salah satu solusi mengatasi masalah perekonomian d Bangka Belitung. (BBR)


 

Penulis : Kristin Natalia Saragih (Mahasiswi Falkutas Ekonomi Universitas Bangka Belitung)

Editor   : Kasmir

Sumber : Babel Review