Zonasi Sebagai Hantu Pendidikan

kasmirudin
Zonasi Sebagai Hantu Pendidikan
Eqi Fitri Marehan (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka).

DUNIA PENDIDIKAN kita lagi-lagi mengalami persoalan rumit dan krusial. Sistem pendidikan nasional yang menjadi salah satu landasan utama untuk mendidik manusia-manusia Indonesia berkualitas di masa depan, telah tercoreng dengan adanya siasat miskinisasi para orang tua murid untuk ‘mengakali’ sistem zonasi proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020.

Sistem zonasi memang telah diberlakukan sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada penerimaan siswa baru.

Seperti diketahui, kasus-kasus siasat miskinisasi untuk mengelabui sistem zonasi itu telah terjadi di sejumlah daerah lainnya yang luput dari ekspos media massa. Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata, pembuatan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalam tahun ajaran 2019/2020 ini melesat tinggi. Bahkan, ada sebuah sekolah yang seluruh pendaftarnya merupakan siswa SKTM.

Lemahnya sistem zonasi yang pada akhirnya memunculkan siasat miskinisasi ini terjadi, akibat tingginya nilai siswa yang berada di luar sistem zonasi, dibandingkan dengan siswa yang nilainya rendah, tetapi berada dalam sistem zonasi yang dilengkapi dengan SKTM.

Sistem zonasi menjadi semakin rumit karena siswa yang memiliki nilai tinggi di dalam zonasi juga harus mengalah dan memberi kesempatan kepada siswa yang berstatus SKTM, walaupun prestasi akademisnya rendah.

Akibatnya, muncul istilah ‘nilai tinggi bukan lagi jadi jaminan bagi seorang siswa untuk masuk sekolah favorit, baik yang berada dalam sistem zonasi maupun di luar sistem zonasi’.

Ada satu hal penting yang wajib menjadi perhatian pemerintah yaitu siasat miskinisasi ini banyak digunakan para orang tua untuk menutupi rendahnya nilai akademis siswa.

Buruknya mental sejumlah orang tua siswa dengan mengatasnamakan kemiskinan, tentu bisa merusak sistem pendidikan nasional secara menyeluruh, sekaligus memunculkan opsi miskin lebih penting dari prestasi untuk bisa masuk sekolah favorit. Apakah hal ini yang menjadi target sistem pendidikan nasional?

Melecehkan hak siswa berprestasi untuk masuk sekolah favorit dengan siasat miskinisasi, jelas merupakan perbuatan yang tidak edukatif dan merusak moral dan mental siswa berprestasi.

 

Halaman selanjutnya


Penulis  : Eqi Fitri Marehan  (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka)
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review