Zonasi Sebagai Hantu Pendidikan (2)

kasmirudin
Zonasi Sebagai Hantu Pendidikan (2)
Eqi Fitri Marehan (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka).

Masuk sekolah favorit dengan nilai rendah hanya karena berada dalam sistem zonasi dengan embel-embel SKTM, bukanlah solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas sistem dunia pendidikan nasional.

Sementara itu, sejumlah sekolah di beberapa daerah lain tampaknya belum mau menerapkan sistem zonasi karena sistem ini dinilai bisa menghancurkan mental dan moral siswa berprestasi.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbid) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa sistem zonasi ini tujuannya untuk merevitalisasi pelaksanaan penerimaan peserta didik baru pada satuan pendidikan formal agar berlangsung lebih objektif, akuntabel, transparan, nondiskriminatif, dan berkeadilan. Sehingga dapat meningkatkan akses layanan pendidikan.

Langkah yang dilakukan Mendikbud, terutama dalam penerapan sistem zonasi ini tujuannya memang baik. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak kendala. Untuk itu, sistem zonasi ini perlu dikaji ulang secara menyeluruh.

Adanya label sekolah favorit dan tidak favorit dalam dunia pendidikan nasional juga harus segera ditinjau ulang, agar semua sekolah memiliki daya tarik yang sama rata dan sama rasa, sekaligus tidak menimbulkan kecemburuan sosial para orang tua siswa dalam mengakses dunia pendidikan.

Peningkatan kualitas para pendidik alias guru dan sarana serta prasarana sekolah juga menjadi faktor penting bagi sekolah untuk menarik siswa, tanpa harus diberi label favorit atau tidak favorit.

Sistem zonasi bisa berjalan sempurna, bila kuota 20 persen untuk siswa yang benar-benar miskin (bukan siasat miskinisasi orang tua) diterapkan dengan tegas. Kalau aturan 20 persen ini diterapkan, maka sangat kecil kemungkinan munculnya SKTM atau siasat miskinisasi.

Pihak pemerintah juga harus segera mengantisipasi kemungkinan adanya pelanggaran pihak sekolah saat menerapkan sistem zonasi yang berujung kepada adanya kemungkinan ‘suap-menyuap’ dalam penerimaan siswa baru.(BBR)

 

Halaman sebelumnya


Penulis  : Eqi Fitri Marehan  (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka)
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review