100 Relawan PMI Babel Belajar Jurnalistik, Abdul Fatah: Seni Mengajak Warga Itu Adalah Jurnalistik

kasmirudin
100 Relawan PMI Babel Belajar Jurnalistik, Abdul Fatah: Seni Mengajak Warga Itu Adalah Jurnalistik
Pelatihan Jurnalistik Bagi Relawan PMI Babel, di Mahligai Serumpun Sebalai (Rumah Dinas) Gubernur Babel, Kamis (26/9/2019). (Foto: Ahada)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Mengapa relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Bangka Belitung (Babel) perlu belajar jurnalistik? Pertanyaan ini sempat dilontarkan Ketua PMI Babel, Drs Abdul Fatah MSi, saat membuka Pelatihan Jurnalistik Bagi Relawan PMI Babel, di Mahligai Serumpun Sebalai (Rumah Dinas)  Gubernur Babel, Kamis (26/9/2019).

Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Ketua PMI Babel yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Babel Abdul Fatah. Menutut Fatah, sebagai relawan PMI, tugas mulia yang perlu dilakukan tidak hanya membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan secara ikhlas. Lebih dari itu bahwa tugas relawan juga adalah mengajak sebanyak mungkin relawan Babel untuk mendukung dan membantu masyarakat sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing.

"Relevansi kegiatah ini dengan tugas relawan adalah bagaimana kita mampu mengajak sebanyak mungkin orang untuk peduli dan terlibat dalan kegiatan-kegiatan PMI Babel," ujar Fatah.

Ia mencontohkan, dalam kegiatan donor darah yang dilakukan PMI,  tentu diperlukan dukungan dari masyarakat secara luas agar target dan hasil donor darah bisa lebih maksimal.

"Seninya adalah bagaimana kita mengajak, memotivasi, menginspirasi dan menggugah orang lain agar bersedia ikut donor darah. Disinilah kita memerlukan cara dan strategi memasarkan kegiatan kita. Salah satunya adalah dengan menulis," ungkap Fatah.

Karena itu, Ketua PMI Babel ini berpesan kepada peserta jurnalistik para relawan PMI untuk serius mengikuti pelatihan jurnalistik, sehingga memiliki bekal menulis untuk mengajak atau mempengaruhi masyarakat agar perduli dan mendukung kegiatan dan program PMI Babel.

"Melalui tulisan yang dibagikan baik ke media utama atau media sosial, kita harapkan keberadaan PMI Babel akan lebih dikenal masyarakat Bangka Belitung," tukas Fatah.

Jumlah relawan yang ikut pelatihan jurnaslitik satu hari ini sebanyak 100 peserta yang terdiri dari beberapa komunitas relawan PMI. Selain itu ikut juga beberapa instansi dan komunitas relawan seperti Kompas UBB, Tagana Babel, Basarnas, Satpol PP Provinsi Babel, BPBD dan sejumlah perwakilan mahasiswa dan pelajar.

Pelatihan jurnalistik yang mengusung tema "Dengan Menulis, Membentuk Relawan PMI yang Tangguh" ini menghadirkan nara sumber Pemimpin Redaksi Babel Review Dodi Hendriyanto dan Ayu Paraswati Content Development and social Media Manager Pusat PMI.

Hadir juga saat pembukaan acara antara lain Ketua BPBD Provinsi Babel Mikron Antariksa, Pengurus PMI Babel antara lain Arbian dan Aswandi, serta Kepala Markas PMI Babel merangkap Sekretaris PMI Babel Mardani.

"Kegiatan ini untuk meningkatkan kompetensi dan pengembangan minat bakat para relawan dalam dunia jurnalistik. Kita ingin membentuk sebuah wadah PMI  dan relawan dalam bidang jurnalistik. Kita ingin mengenalkan tentang dunia jurnalistik dan memberikan pengetahuan dan wawasan kepada relawan tentang jurnalistik," jelas Ketua Panitia Pelatihan Jurnalistik, Achmad Siradjudin.

Sementara itu dalam materinya, Dodi Hendriyanto mengajak seluruh peserta jurnalistik untuk mau dan mampu perduli terhadap lingkungan sekitar. Pasalnya, bekal seorang jurnalistik adalah perduli terhadap yang dilihat, didengar dan dirasakan dalam tatanan kehidupan masyarakat.

"Saya yakin seluruh peserta bisa menulis, hanya saja mau tidak kita melihat kondisi sekitar dan menceritakan dan metangkai dalam sebuah tulisan.l," ujar Dodi saat memaparkan dasar-dasar jurnalistik kepada 100 peserta.

Selain belajar singkat menulis berita, para peserta juga banyak menanyakan berbagai persoalan yang sekarang jadi hangat di tengah masyarakat. Bahkan ada peserta yang menanyakan netralitas para jurnalis sekarang ini. Mereka melihat kondisi di lapangan adanga keberpihakan media terhadap pihak-pihak tertentu.

Selain itu ada juga yang bertanya bagaimana mencari angle berita yang menarik, sehingga bisa menarik perhatian publik untuk membaca berita yang dibuat.

"Untuk mendapatkan angle berita yang menarik adalah wartawannya harus turun ke lapangan, melihat langsung peristiwa yang terjadi. Dengan begitu kita bisa menemukan angle berita yang menarik," pesan Dodi.

Pada kesempatan yang sama Dodi juga meminta para peserta untuk berani dan mau menulis setiap peristiwa atau kegiatan yang mereka lakukan.

"Jika kalian bekerja secara ikhlas maka kalian hanya dapat satu pahala. Tetapi jika kalian menulis dan menyebarkan kebaikkan dari pekerjaan tersebut, maka kalian bisa mendapat dua pahala, yakni pahala mengajak orang lain untuk ikut berbuat baik," tukas Dodi. (BBR)


 

Penulis  : Ahada
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review