Abok Tohir, Master Dambus  Dari Desa Gudang

Ahada
Abok Tohir, Master Dambus  Dari Desa Gudang
Abok Tohir, pemain Dambus asal Desa Gudang Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan. (Kulul/babelreview.co.id)
Abok Tohir
Abok Tohir

SIMPANG RIMBA, BABELREVIEW.CO.ID  Usianya memang sudah tidak muda lagi. Tetapi Ia tetap enerjik.

Bila tampil dalam permainan dambus, Ia masih mampu bertahan hingga tengah malam.

Abok Tohir atau Busu Tohir. Demikian biasanya orang menyapa laki-laki yang saat ini sudah berusia berkepala tujuh.

Abok Tohir tinggal di rumahnya di Desa Gudang Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan.

Sebelum corona ini merebak dan menjadi pandemi, Abok Tohir sering tampil bermain dambus diacara hajatan pernikahan dengan group dambusnya "Dambus Batin Tikal".

Jika sedang memegang dambus, tangannya bagaikan menari-nari saking lincahnya.

Ia pun tak lupa menyertai  pantun yang setia mengiringi permainan dambusnya.

"Kami belajar dambus ini sejak kecil, dan saat itu bapak kami dulu yang selalu mengajarkannya pada orang lain. Dan waktu saya kecil, bapak menyuruh saya belajar dambus, namun saya tidak mau latihan bersama orang lain. Maka ketika orang sudah bubar, saya ambil dambus itu dan memainkannya sendiri. Jadi saya hanya memperhatikan saja cara bermainnya ketika orang sedang latihan dambus", jelas Abok Tohir mengenang sejarah belajar Dambus.

Kayu medang kayu cempaka
Nanam padi dalam arung
Zaman Jepang sungguh sengsara
Makan ubi berselimut karung

Pantun ini mengiringi permainan dambus yang diperagakan oleh Abok Tohir saat media ini bersilaturrahmi ke rumahnya.

Menurut keterangan pimpinan dan pengasuh "Dambus Tradisional Batin Tikal", Abok Tohir, musik tradisional Dambus di Kampung Gudang sudah ada sejak masa kakeknya dulu. Dan bapaknya belajar dengan sang kakek.

Selain Dambus, di wilayah Kecamatan Simpang Rimba sejauh yang ia ketahui dulu ada beberapa musik tradisional yang ada di Kampung Gudang dan sekitarnya. Musik tradisional itu  antara lain Campak, Tigel dan Zikir.

Menurutnya,  campak lebih mudah dan bisa diiringi dengan  dambus. Sementara lagu-lagu Dambus agak sulit diiringi dengan irama campak.

Dambus dan Campak, dulu biasa dimainkan oleh masyarakat kampung Gudang dan Bangka Kota.

Sementara itu Tari Tigel menurut sepengetahuannya  hanya ada di Permis, Rajik dan Sebagin.

Bersama rekan-rekan yang tergabung dalam group  "Dambus Tradisional Batin Tikal",  Abok Tohir selalu tampil bila ada undangan dan pesta pernikahan, khususnya di Kampung Gudang dan sekitarnya.

Biasanya mereka tampil pada malam menjelang akad nikah atau sebelum pesta hajatan berlangsung.

Bahkan kadangkala mereka tampil hingga dua malam berturut-turut.

Selain manggung pada acara hajatan, pada event-event tertentu mereka selalu tampil dengan Group Dambus dan Qosiadah yang berada di kecamatan Simpang Rimba, terutama pada hajatan peringatan hari besar, misalnya malam Peringatan 17 agustus.

Ketika disinggung tentang bayarannya, Abok Tohir mengungkapkan bahwa tergantung pada jauh dekatnya, namun tidak mematok harga.

Bahkan katanya,  ada juga yang bayar ala kadarnya. Tergantung pada keikhlasan yang punya hajatan.

"Kami tidak mematok harga. Ada diterima, tidak ada ya minta bantuan transport kawan-kawan, makan dan minum serta rokoknya saja. Syukur-syukur kalau dibayar lebih dari itu", ujarnya

Pada peringatan HUT Bangka Selatan tahun  2017 lalu, Group Dambus yang ia pimpin  pernah menjadi juara dua musik tradiaional dalam ajang Festival Batin Tikal I (pertama) di Simpang Rimba.

Selain itu ada bebepa kegiatan yang mereka ikuti baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. (BBR)
Laporan: kululsari

Editor: @hada