Tren pemberian pakan anjing kategori “premium” yang mengandalkan daging kualitas utama ternyata memicu peningkatan emisi gas rumah kaca. Sebuah riset terbaru memperingatkan bahwa diet hewan kesayangan tersebut memiliki dampak iklim yang jauh lebih besar daripada dugaan sebelumnya.
Tim peneliti dari Universitas Edinburgh dan Universitas Exeter baru-baru ini menghitung jejak karbon dari 996 jenis makanan anjing yang dipasarkan oleh salah satu peritel besar di Inggris. Sampel yang diuji mencakup berbagai varian, mulai dari pakan kering, basah, mentah, hingga opsi bebas biji-bijian dan berbasis tumbuhan.
Mengutip laporan EuroNews, Minggu, (18/1/2026), hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Cleaner Production itu mengungkap fakta mengejutkan, produksi bahan pakan anjing di Inggris menyumbang sekitar 0,9 hingga 1,3 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional. Angka tersebut bahkan mencapai 3,7 persen dari total emisi sistem pangan di negara itu.
Dalam skala global, para ahli memperkirakan jika seluruh anjing di dunia mengonsumsi bahan-bahan tersebut, polusi yang dihasilkan akan setara dengan lebih dari separuh emisi pembakaran bahan bakar jet untuk penerbangan komersial setiap tahunnya.
Para ilmuwan menemukan kesenjangan signifikan terkait dampak lingkungan di antara berbagai produk pakan komersial. Produk dengan dampak tertinggi tercatat menghasilkan emisi hingga 65 kali lipat lebih besar dibandingkan opsi dengan peringkat terendah.
Lonjakan emisi tersebut terutama didorong oleh penggunaan berkualitas tinggi (daging terbaik, yang sebenarnya bisa dikonsumsi manusia) dalam jumlah besar. Sebaliknya, pemanfaatan bagian sisa daging yang kurang diminati pasar justru membantu membatasi dampak lingkungan.
Temuan lain dari studi itu menyoroti bahwa pakan yang tidak dilabeli sebagai “bebas biji-bijian” cenderung menghasilkan emisi jauh lebih rendah daripada opsi makanan basah, mentah, atau tanpa biji-bijian.
Sementara itu, pakan anjing berbasis tumbuhan terbukti mampu mengurangi emisi. Namun, tim peneliti memberikan catatan bahwa hanya sebagian kecil, yakni 12 jenis dari kategori pakan tersebut yang tersedia untuk pengujian saat riset berlangsung.
John Harvey dari Royal School of Veterinary Studies, Universitas Edinburgh, menyoroti situasi dilematis yang sering dihadapi para pemilik hewan. Mereka kerap terpecah antara idealisme bahwa anjing adalah “serigala” pemakan daging dan keinginan untuk tetap ramah lingkungan.
Harvey menekankan pentingnya pemahaman pemilik terkait konsekuensi dari pilihan pakan hewan peliharaan mereka.
“Penting bagi pemilik untuk mengetahui bahwa memilih makanan bebas biji-bijian, basah, atau mentah dapat berdampak lebih tinggi dibandingkan makanan kering standar,” ujar Harvey.
Ia lantas mendesak pelaku industri untuk mengambil peran aktif dalam menanggulangi masalah lingkungan tersebut tanpa mengabaikan kesehatan hewan.
“Industri makanan hewan harus memastikan potongan daging yang digunakan adalah jenis yang biasanya tidak dimakan manusia, dan pelabelannya jelas. Langkah-langkah tersebut dapat membantu kita memiliki anjing yang sehat dan kenyang dengan jejak kaki yang lebih kecil di planet ini,” tambahnya.
Laporan ilmiah itu menyimpulkan bahwa upaya meredam dampak ekstrem perubahan iklim akan mengurangi penderitaan bagi manusia maupun hewan peliharaan. Dokumen tersebut menegaskan bahwa anjing turut merasakan konsekuensi bencana yang dipicu iklim, seperti cuaca ekstrem, bencana alam, perpindahan populasi, hingga kesenjangan yang kian melebar.
Sumber : Liputan6.com












