AIK MUNJANG AWAL PELARIAN KE LINGGA

Ahada
AIK MUNJANG AWAL PELARIAN KE LINGGA
Peta peninggalan Belanda. (Ist)
Peta peninggalan Belanda. (Ist)
Peta peninggalan Belanda. (Ist)
Aik Munjang. (Ist)
Aik Munjang. (Ist)

AIK MUNJANG

AWAL PELARIAN KE LINGGA

 

Akhmad Elvian 

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung

Penerima Anugerah Kebudayaan 

 

BABELREVIEW.CO.ID -- Karena dikejar dan dikepung, pada tanggal 15 Februari 1851, datang kabar dari administratur Koba kepada saya (komandan tentara ekspedisi militer Belanda), bahwa Batin Tikal, Awang dan Boedjang Singkip termasuk Delapan pengikut (bersenjata dengan 8 geweren dan 3 buksen), kemarin petang telah ditangkap. 

Pada tanggal 16 Februari 1851, mereka datang kemari (ke Sungaiselan), dengan pengecualian Awang, Boedjang Singkip yang berhasil melarikan diri di Air Munjang atau Aik Munjang, sementara Oemar, lari dari kampung Singkap (mungkin Sungkap), akan tetapi kemudian Awang berhasil ditangkap.

Dalam surat Administratur Muntok kepada Residen Bangka, Muntok Tanggal 27 Maret 1851 Nomor 86 (ANRI:Bt.22 April 1851 Nomor 21) disebutkan bahwa: …”Pada tanggal 25 Maret 1851, telah dibawa kemari pemberontak Awang, setelah ditemukan barisan pasukan Belanda pada tanggal 23 Maret 1851 yang tampak di ladang Bale Tempok dimana Ia sedang makan, oleh petugas polisi Groe, Awang ditangkap, selanjutnya dikirim ke Mentok untuk dipenjara”.

Dalam surat dari Residen Batavia kepada Menteri Negara Gubernur Jenderal di Batavia Nomor 1003, tertanggal, Batavia, 15 Maret 1851, Saya (residen Batavia) beritahukan kepada Anda yang terhormat, kedatangan dari Bangka dengan kapal api Batavia membawa perusuh orang Bangka, bernama Awang, “orang nomor satu dari pemberontakan Amir”. Sambil menunggu perintah Anda, ia mendapat jaminan penahanan di rumah penjara.

Batin Tikal, dan selebihnya (orang-orang pribumi kuli dari Batin Tikal yang menjadi pengikut Boedjang Singkip dan Ribut yaitu Bujil, Mat, Toha, Lahie, Sindong, Akop, Mail, Sawal dan Arif, 4 wanita, 6 anak-anak), kemudian dipenjara di sini (markas militer Belanda di Sungaiselan).

Boedjang Singkip dan Oemar, dalam perjalanan dari distrik Koba menuju Sungaiselan yang melarikan diri, berdasarkan surat Administratur Muntok kepada Residen Bangka, Muntok Tanggal 27 Maret 1851 Nomor 86, dikabarkan lebih lanjut, bahwa Boedjang Singkip dan Oemar rupa-rupanya tempat perlindungannya telah dicari pada tanggal 21 dan 23 Maret 1851, Boedjang Singkip dan pengikutnya oleh barisan tentara telah diketemukan di Muras (Muras sungai/ Paya-paya) di wilayah Sungai Kabal.

Pada pertemuan pertama pemberontak lari dengan meninggalkan senjata 1 geweren, 24 patroon, 43 kogel, pada pertemuan kedua pemberontak melarikan diri meninggalkan padi, beras, parang dan beberapa potong baju”.

Tampaknya pengejaran, pengepungan dan penangkapan terhadap pengikut setia pemberontak Amir terus berlanjut, sejak tanggal 21 Februari 1851, telah datang kabar dari Haji Muhamad Seman, ada beberapa barisan yang dikirim mencari para pemberontak.

Sekali lagi dikabarkan, Tujuh dari mereka akan datang menyerahkan diri (ditangkap) dan termasuk Kie-Assang (saudaranya Amir ?). Sekarang mereka hanya tinggal dibawa kemari (maksudnya Sungaiselan).

Sekarang, semua kepala pemberontak kecuali Boedjang Singkip telah di tangan kami (Belanda). Sekarang hanya tinggal 7 atau 8 orang yang membangkang, lainnya termasuk 2 putra Batin Tikal (Ribut dan Mamut). Untuk dipercayai, tidak lama lagi mereka akan datang menyerahkan diri.

Bujang Singkip dan Oemar, bekas panglima perang Depati Amir yang berlindung ke BatinTikal di Penyampar, tidak tahu persis melarikan diri kemana, kabar selanjutnya dari administratur di Koba, Boedjang Singkip dengan Oemar ada di hutan dekat Rangouw (?).

Barisan pasukan militer segera dikirim untuk menemukan mereka. Pasukan militer Belanda dari beberapa spionase kemudian menduga, bahwa Dua orang pemberontak terakhir dari Bangka, panglima perang Depati Amir ini melarikan diri ke Riau Lingga. 

Dalam Besluit 25 Maret 1851, Nomor 13, dinyatakan … d. van 11 Februari 1851 no. 360, naar aanleiding van Riouw by brief van den algemeenen secretaris van 24 Februarij 1951 no. 48 is aangeschreven, dat hy zich gemagtigd behoort te bezchouwen, om mierwy de zuschenkomst van den Sulthan van Linga en den onderkoningvan Riouw onteroepe, tot opvatting van de Bankasche muitelingen door Oemar en Boedjang Singkep, en dien het dezen gelukken mogt naar Lingasch grond gebied te ontslugten. Maksudnya: … d.

Surat tanggal 11 Februari 1851, Nomor 360 disebabkan oleh karena Residen Riau mendapat surat dari sekretaris pemerintah tanggal 24 Februari 1851 Nomor 487, memerintahkan Residen Riau diizinkan menyeru kepada Sultan Lingga dan Raja Riau untuk menangkap pemberontak Oemar dan Boedjang Singkip yang berhasil melarikan diri ke Lingga. 

 

  9 Maret, Depati Amir Dibuang Keresidenan Timor

Berdasarkan surat dari Residen Batavia tanggal 22 Januari 1851 Nomor 241, diberitahukan, bahwa telah datang di Batavia kapal Api Onrust dari Bangka, yang membawa Amir dan beberapa pengikutnya yang dihukum.

Selanjutnya berdasarkan surat dari Residen Batavia kepada Menteri Negara Gubernur Jenderal, Batavia tanggal 10 Maret 1851 Nomor 850, pada Lampiran 1 dinyatakan, bahwa kemarin (maksudnya tanggal 9 Maret 1851) Amir dan beberapa pengikutnya yang dihukum, dikirim dengan kapal api “Argo” ke Surabaya dan akhirnya dari sana dengan kapal api “Banda” dikirim ke keresidenan Timor. (*)

Akhmad Elvian

Sejarawan Bangka Belitung

Penerima Anugerah Kebudayaan