Akselerasi Smart City Masa Pandemi

Kasmirudin
Akselerasi Smart City Masa Pandemi
Fahmi Prayoga

MESKIPUN ada banyak makna perihal apa yang dimaksud dengan smart city, inti dari konsepnya ialah terletak pada pemanfaatan teknologi digital untuk memperbaiki tata kehidupan warga melalui pelayanan publik yang lebih baik dan peningkatan efisiensi dalam sistem pemerintahan melalui interkoneksi data. Seiring dengan banyaknya jumlah penduduk yang pindah ke kota, adopsi dari adanya teknologi dan pendekatan untuk menjadi smart city juga meningkat di banyak kota lokal. Bahkan, di tingkat nasional, Rencana 100 Kota Cerdas telah diumumkan, yang bertujuan untuk menangani sejumlah masalah yang akan ditimbulkan oleh urbanisasi yang pesat ini seperti transportasi dan pengelolaan sampah.

Kota-kota seperti Bandung, Makassar, dan Jakarta telah membentuk ruang komando untuk mendapatkan solusi atas masalah perkotaan secara real-time seperti kemacetan lalu lintas melalui sistem pemantauan lalu lintas yang lebih tersinkronisasi. Contoh lainnya adalah Program Jakarta Smart City yang sudah diluncurkan sejak tahun 2014. Program tersebut memiliki tujuan untuk mempromosikan pemanfaatan teknologi digital, seperti aplikasi transportasi umum; (Trafi) dan juga portal keluhan warga; (Qlue).

Dengan munculnya pandemi COVID-19, rencana pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan kota pintar harus sedikit bergeser. Pandemi telah memberikan tekanan yang tak terduga pada pengelolaan negara dan menyebabkan berbagai sumber daya direalokasi untuk pengeluaran kesehatan dan rangsangan ekonomi untuk melawan penurunan pertumbuhan ekonomi yang juga terjadi.

Selain itu, dalam upaya untuk memperlambat penyebaran pandemi di seluruh negeri, pemerintah daerah saat ini telah menunjukkan gerak cepat dengan menggunakan kembali infrastruktur smart city yang dimiliki baik dalam upaya pemantauan penyakit maupun pemulihan. Penelitian baru oleh Future Cities Lab menunjukkan bahwa, command centers di seluruh negeri telah dengan cepat disulap menjadi "COVID-19 War Rooms" untuk menganalisis dan memantau hotspot COVID-19. COVID-19 telah memaksa orang dari semua lapisan masyarakat untuk merasa nyaman dengan teknologi yang memainkan peran krusial dalam kehidupan sehari-hari mereka karena mereka dipaksa untuk bekerja, belajar, dan berkolaborasi dari rumah. Transaksi nontunai menjadi semakin sering, pertemuan virtual sudah bukan merupakan hal yang aneh. Bahkan acara-acara festival dan acara yang harus melibatkan banyak orang pun telah berubah secara radikal untuk memungkinkan adanya aturan physical distancing.

Pada tingkat global, pandemi juga menyerukan peningkatan arus informasi lintas batas dan peningkatan kolaborasi. Sejalan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asita Tenggara untuk belajar dari pengalaman mereka, ASEAN Smart Cities Network merupakan platform yang dapat mempercepat pembangunan smart city di dalam negeri dengan meningkatkan kerja sama dalam berbagai bentuk.

Namun, meski ada urgensi dalam mengadopsi solusi teknis dan praktis untuk masalah yang dihadapi saat pandemi ini, negara harus menghindari sikap terburu-buru dalam menggunakan digital infrastructure yang belum matang. Karena tingkat respons yang didorong oleh kebutuhan penanganan pandemi sebagian besar pemerintah terpaksa menggunakan solusi cepat atas kondisi yang ada. Pandemi memang telah membantu pemerintah memahami pentingnya teknologi digital dalam tata kelola dan manfaatnya bagi pelayanan publik. Maka negara harus menyadari pentingnya kematangan digital infrastructure dan menghindari penerapan solusi yang terburu-buru tanpa infrastruktur yang tepat dan analisis lengkap tentang konsekuensinya. (BBR)


Penulis : Fahmi Prayoga (Analis Kebijakan Publik Peneliti di SmartID, Institute for Development and Governance Studies)

Editor   : Kasmir