Andhara Early Berkaca Pada Pengalaman, Libatkan Anak Sebelum Putuskan Cerai dari Bugi Ramadhana

Andhara Early punya pendekatan sendiri agar anak-anaknya tidak terkejut dengan keputusan perceraian orang tua mereka. Alih-alih menyembunyikan masalah, Early memilih bersikap terbuka sejak awal proses perpisahan.

Andhara Early ingin memastikan buah hatinya paham betul mengenai kondisi yang sedang dihadapi orang tuanya. Ia justru tidak ingin anak baru mengetahui setelah putusan cerai dikeluarkan Pengadilan Agama Cibinong, Jawa Barat.

Bacaan Lainnya

“Pemahaman ke anak-anak malah justru anak-anak kita libatkan sebelum kita proses perceraian ya. Jadi bukan setelah kita sudah selesai baru anak-anak kita kasih tahu ‘Oh papa kamu sama mama kamu sudah tidak bersama lagi’, nggak,” kata Andhara Early di Kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).

“Tapi kita memang dari sebelum akhirnya kita memutuskan untuk kita berpisah itu memang kita sudah melibatkan anak-anak,” jelas Andhara Early.

Early tidak hanya memberi tahu, tetapi juga meminta pendapat dan memberikan gambaran mengenai perubahan hidup yang akan terjadi nantinya. Ia menyadari perpisahan ini akan mengubah rutinitas anak-anak, terutama tentang pembagian waktu bersama ayah dan ibu mereka.

“Aku juga sudah tanya pendapat anak-anak gimana kalau begini, karena akan ada hal-hal yang dulu biasanya ada ayahnya sekarang jarang, atau ada ibunya akan jarang. Jadi kondisi-kondisi itu sudah aku omongin ke anak-anak, dan mereka alhamdulillah menerima gitu,” tuturnya.

Keberanian Early melibatkan anak-anak muncul karena ia melihat generasi sekarang memiliki pola pikir yang lebih terbuka dan kritis. Ia merasa tidak adil jika mengabaikan perasaan anak-anak dalam pengambilan keputusan besar yang juga akan berdampak langsung pada hidup mereka.

“Karena ya alhamdulillah anak-anak zaman sekarang kan mereka cukup kritis ya, jadi memang harus aku libatkan. Kalau misalnya enggak aku libatkan rasanya nggak adil,” katanya.

Ternyata, sikap terbuka Early ini didasari oleh trauma masa lalu yang ia rasakan saat orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Kala itu, ia baru tahu setelah segala sesuatunya berakhir, yang justru memberikan beban mental yang lebih berat baginya.

“Karena aku pernah ada di posisi anak gitu ya, sebagai anak yang di mana orang tuanya berpisah dan aku tahunya setelah mereka berpisah. Di situ rasanya bebannya lebih lebih besar gitu. Tapi begitu dilibatkan ya akhirnya mereka paham kalau orang tua atau orang dewasa ada punya permasalahan yang seperti itu,” kenang Early.
Sumber : Liputan6.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *