Antara Ada dan Tiada, Ini Jejak Akek Antak Di Pulau Bangka

Ahada
Antara Ada dan Tiada, Ini Jejak Akek Antak Di Pulau Bangka
Batu Caping yang terletak di Desa Permis Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan ini, salah satu yang diyakini masyarakat sebagai peninggalan Akek Antak. (Ist)

SIMPANGRIMBA, BABELREVIEW.CO.ID --Nama Akek Antak  sangat familiar ditelinga Penduduk asli  Bangka. Bahkan banyak orang luar Bangka juga mengenal nama ini. 

Akek Antak begitu tersohor di pulau Timah. Terutama bagi penikmat kisah masa lalu. Segala sepak terjang yang di lakukan Akek Antak, selalu menjadi buah bibir yang abadi sepanjang masa.

Kesaktiannya tak seorangpun yang meragukannya, dan jejaknya selalu menimbulkan tandatanya. 

Bahkan, Seorang penulis muda, Teungku Sayyid Deqy, sangat tertarik untuk mengabadikan sosok Akek Antak ini, yang akhirnya dituangkan dalam tulisan.

Deqy mengatakan bahwa Akek Antak itu tokoh yang benar-benar ada dan nyata.

"Akek Antak hidup di sekitar abad ke 10 Masehi. Akek Antak merupakan tokoh wali yang paling fenomenal, namun dianggap sebagai tokoh mitologi yang berhasil merebut semua komposisi lisan masyarakat Bangka," ujar Teungku Sayyid Deqy (Dalam bukunya Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka).

Kemungkinan benar apa yang dikatakan oleh Teungku Sayid Deqy tersebut, walau ada juga yang mengatakan bahwa ia hanya hadir  dalam sebuah legenda.

Jejak-jejak yang dikaitkan dengan kehidupan Akek Antak sangat membekas.

Seperti batu Telapak Kaki Akek Antak, Bandar Akek Antak, Tudung / Caping Akek Antak dan lain-lain.

Versi cerita telapak kaki Akek Antak ini memang beragam. Demikian juga lokasinya.

Yang di ketahui ada empat tempat, di Desa Puput Kecamatan Simpang Katis, Tanjung Samak yang berada di pesisir Pantai Tuing, di Pantai Sampur Pangkalpinang dan hutan Mangkak antara Desa Bakam dan Mabat.

Masing-masing wilayah mengakui bahwa telapak kaki tersebut adalah milik Akek Antak.

Selain kisah di atas,  menurut kisah yang kami dapat, setidaknya ada beberapa tempat persinggahan Akek Antak yang selalu di sebut-sebut orang, sementara tempat tinggal tetapnya ada di Kelekak Durian yang berada di gugusan Bukit Permisang di Kecamatan Simpang Rimba.

Tempat-tempat yang di maksud yaitu  Gunung Maras di Bangka Induk. Menurut kisah orang tua-tua, dari Kelekak Durian ke Gunung Maras, ia tempuh hanya dalam 7 langkah, hemmm....bayangkan, bagaimana besar dan tingginya tubuh Akek Antak ?

Tempat yang lain yaitu Bukit Pelawan Desa Paku Kabupaten Bangka Selatan.

Selanjutnya Gunung Pading di Desa Nadi Kabupaten Bangka Tengah. Juga Gunung Menumbing yang berada di Mentok Kabupaten Bangka Barat.

Konon masih ada tempat yang lain yang sering di kunjungi Akek Antak, yaitu di wilayah Belinyu. 

Selain tempat-tempat itu, ada lagi tempat khusus yang dikunjungi Akek Antak dikala ada yang harus dikerjakannya.

Bila Akek Antak mau membuat senjata tajam, maka ia membuat Arang di sebelah selatan Desa Gudang.

Hingga sekarang masyarakat menyebut bukit itu dengan nama Bukit Kayu Arang.

Ketika musim mengetam atau menuai  padi tiba, Akek Antak  menjemur padinya di Tanjung Tedung Bangka Tengah, dan yang menjaga jemuran padinya adalah Ular Tedung.

Di Desa Permis Kecamatan Simpang Rimba, pada  sebuah batu  di pinggir pantai Batu Bedaun, ada batu yang sangat mirip dengan Tudung /caping.

Dan Sejak dulu hingga sekarang, orang / masyarakat menyebutnya Tudung Akek Antak. 

"Sejak kami kecil, batu tudung Akek Antak itu sudah ada. Dan dulu kami dilarang untuk main di seputaran batu itu, karena menurut Abok Akek kami, kalau main di situ pasti demam," jelas Sep Amir Ibrahim, selaku Tokoh Masyarakat dan tokoh agama, saat kami temui beberapa tahun yang lalu, di Desa Permis, Bangka Selatan.

Bahkan di tambahkan oleh Sep Amir, katanya dulu pernah ada batu yang mirip dengan kampak, dan masyarakat menyebutnya Kampak Akek Antak. Namun sekarang kampak itu sudah tidak ada lagi.

Sekitar 2 meter di sebelah batu tudung Akek Antak, ada dua buah batu bulat memanjang, dan menurut kepercayaan  masyarakat, itu adalah bantal guling Akek Antak.

Ada kepercayaan dari masyarakat bahwa Akek Antak tidak meninggal dunia, tetapi ia hanya raib dan tidak menampakkan dirinya lagi hingga sekarang.

Percaya atau tidak, kembali kepada kita masing-masing. Mari kita peduli agar sejarah tetap lestari. (*/BBR)
Penulis : Kulul Sari