Atap Langit Lebarkan Sayap ke Riau, Ajak Siswa Baca 15 Menit Sebelum Belajar

kasmirudin
Atap Langit Lebarkan Sayap ke Riau, Ajak Siswa Baca 15 Menit Sebelum Belajar
workshop LKS Atap Langit Bangka Belitung untuk pendampingan Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. (ist)

TANJUNGPINANG, BABEL REVIEW -- LKS Atap Langit Bangka Belitung menggelar workshop pendampingan Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Sebagai penggiat literasi, pendampingan gerakan literasi tidak hanya dilakukan Atap Langit di Pulau Bangka dan Belitung saja, namun harus juga berdampak terhadap pulau-pulau  terdekat.

Saat ini LKS Atap Langit menyasar Pulau Bintan Provinsi Kepri, karena dari sinilah Literasi Nasional dimulai seperti yang kita kenal Gurindam 12. Workshop yang dilaksanakan selama sehari bertempat di ruang pertemuan SLB Negeri 1 Tanjungpinang ini, dihadiri oleh Satgas GLS Provinsi Kepulauan Riau, SLBN 1 Tanjungpinang, SLBN 2 Tanjung Pinang, SLBN Bintan, SLB Mutiara Tanjungpinang, SKH Citra Nugraha Bintan, SLB Karya Mandiri Kijang Bintan Timur. Workshop dibuka secara resmi oleh Kasi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Dr Elmie, MPd dihadapan seluruh peserta, Sabtu (5/1/2019) lalu.

Elmie menjelaskan praktek penguatan GLS mendorong para warga sekolah untuk meningkatkan minat baca. Mengingat kegiatan membaca sekarang ini sangat minim dan buku dikesampingkan tergeser oleh handphone dan televisi. Untuk menggairahkan dan menumbuhkan penyerapan informasi di sekolah, maka dibutuhkan kerja sama yang baik komponen pendidikan. Salah satunya adalah Tim satgas literasi yang ada di sekolah, agar gerakannya didukung oleh semua unsur.

“Kami mengajak kepada ibu dan bapak untuk menggairahkan gerakan literasi sekolah, terbiasa sehingga menjadi satu kebiasaan. Dan yang paling ringan adalah membaca buku. Semoga, kegiatan pembiasaan membaca 15 menit pada kegiatan awal sebelum KBM dimulai dapat dilanjutkan dengan kegiatan positif lainnya,”ungkap Elmie.

Penguatan GLS ini, lanjut Elmie membutuhkan dukungan antara lain sumber daya manusia (SDM) dengan memotivasi, agar suka membaca buku, sarana prasarana seperti buku bacaan dimana keberadaannya menjadi pusat perhatian. Koleksi buku di perpustakaan sekolah harus bervariatif dan jangan didominasi dengan buku mata pelajaran, sehingga dapat menarik minat siswa untuk datang ke perpustakaan.

“Kesan pertama yang kita lihat saat masuk perpustakaan adalah isinya buku paket dan kondisi ruangannya berdebu. Inilah yang kita harapkan, agar kepala sekolah merubah suasana yang tadinya membosankan menjadi menarik, menyediakan sarana prasarana yang nyaman di perpustakaan. Jadikan ruang perpustakaan ruang nyaman kedua bagi siswa setelah ruang kelas, sehingga mereka betah,”paparnya.

Selain itu, lanjut Elmie, kegiatan ini ingin membangkitkan motivasi siswa ke arah positif, menciptakan suasana sekolah nyaman dan ramah lingkungan sehingga dapat menekan efek negatif (kenakalan siswa bisa ditekan). Dengan membaca maka siswa akan menyerap ilmu sebagai bekal bagi dirinya mengatasi problema.

“Kami mengapresiasi, LKS Atap Langit Bangka Belitung yang sudah menggerakkan literasi di Negeri Gurindam dua belas ini,” ujarnya. (BBR)


Penulis : Kusuma    
Editor   : Kasmir
Sumber : Babelreview