Babel Diserang Covid19, Aktivitas Ekonomi Melambat, Simak Analisa BI Babel Ini

Ahada
Babel Diserang Covid19, Aktivitas Ekonomi Melambat, Simak Analisa BI Babel Ini
Suasana di Pasar Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Firly/babelreview.co.id)

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW.CO.ID – Pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya diperkirakan akan kembali pulih pada tahun 2020, tertahan dengan adanya wabah virus corona yang merebak di berbagai negara sehingga akan menurunkan permintaan dan harga komoditas dunia pada 2020.

Eskalasi penyebaran COVID-19 berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi global, tercatat IMF telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia negatif sebesar -3,0 persen.

Kondisi perekonomian global tersebut memberikan pengaruh terhadap perekonomian nasional pada tahun 2020 yang diprakirakan mengalami tekanan akibat meluasnya COVID-19 menuju 2,3 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 5,02 persen.

Dampak COVID-19 ke perekonomian Indonesia melalui jalur permintaan, penawaran, dan keyakinan pelaku ekonomi. Ekspor dan kunjungan wisatawan asing diperkirakan akan turun di tahun 2020.

Investasi diperkirakan melambat akibat menurunnya prospek ekspor dan terganggunya rantai produksi. Indeks keyakinan konsumen juga menurun sehingga dapat menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Dari sisi nilai tukar, pada 13 April 2020, Rupiah secara point to point menguat 4,35 persen (Rp 15.840) dibandingkan dengan akhir Maret 2020, meskipun masih tercatat depresiasi sekitar 11,18 persen dibandingkan akhir 2019.

Sementara itu, realisasi inflasi Nasional bulan Maret 2020 yang rendah sebesar 0,10 persen (mtm) atau 2,96 persen (yoy), diakibatkan melemahnya permintaan, tercukupinya pasokan barang termasuk pangan serta tetap lancarnya jalur distribusi.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi global dan nasional, menyebabkan terganggunya kinerja sektor unggulan Babel, yakni industri pengolahan logam timah, CPO, perikanan tangkap, serta pariwisata.

Oleh sebab itu, pada tahun 2020 PDRB Babel diperkirakan tumbuh pada rentang 1.65 hingga 2.15 persen (yoy). Angka perkiraan ini dapat berubah sejalan dengan penyelesaian pandemik covid-19.

Pada tahun 2021 pasca pemulihan Covid-19, perekonomian Bangka Belitung diperkirakan mampu tumbuh sebesar 4,45 persen - 4,95 persen.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih dapat tumbuh positif pada triwulan I 2020 didukung oleh masih terjaganya keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian meskipun dibayangi adanya tekanan perlambatan akibat mewabahnya virus COVID-19 yang dapat mempengaruhi pendapatan masyarakat karena menurunnya aktivitas ekonomi.

Tertahannya konsumsi rumah tangga sudah terlihat dengan adanya perlambatan pada kredit konsumsi dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan untuk nasabah perorangan pada posisi Februari 2020.

“Pada triwulan I 2020 diperkirakan investasi masih akan tertahan sejalan dengan kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian akibat mewabahnya COVID-19. Hal ini terkonfirmasi dengan kontraksi yang lebih dalam terhadap kredit investasi di Bangka Belitung dan dari hasil liaison menunjukkan bahwa preferensi pelaku usaha untuk melakukan investasi menurun di triwulan I 2020. Purchasing Manager Index (PMI) negara mitra ekspor Babel masih menunjukkan tren yang menurun hingga Maret 2020,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung Tantan Heroika melalui video conference kepada media, Kamis (16/04/2020).

Anggaran pendapatan maupun belanja dari Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota mengalami penurunan pada tahun 2020, sehingga akan membatasi laju pertumbuhan konsumsi pemerintah di Bangka Belitung.

Oleh karena itu, stimulus fiskal yang dilakukan oleh pemerintah pusat diharapkan dapat lebih mendorong konsumsi masyarakat Bangka Belitung.

Dari sisi ekspor, secara kumulatif, pada Jan-Feb 2020 masih tumbuh menguat ditopang oleh meningkatnya ekspor CPO seiring dengan adanya kenaikan harga di awal tahun dan permintaan yang masih tinggi terutama dari India.

Namun demikian, pergerakan harga komoditas global menunjukkan tren yang menurun pada Maret 2020 sehingga beresiko terhadap tertahannya laju pertumbuhan ekspor dari Bangka Belitung.

Penurunan harga komoditas global merupakan dampak dari menurunnya permintaan global akibat dari adanya wabah COVID-19 sehingga banyak korporasi yang sementara waktu menghentikan operasionalnya.

Selanjutnya perlambatan ekonomi juga tercermin dari indikator terkini sektor keuangan, yaitu aset perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2020 mengalami penurunan.

Sementara kredit perbankan pada Februari 2020 tumbuh melambat sebesar 4,46 persen (yoy) dibandingkan pada 2019 yang mencapai 16,21 persen (yoy).

Perlambatan ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit pertambangan dan terkontraksinya pertumbuhan kredit industri pengolahan.

Risiko kredit bermasalah di Babel hingga Februari 2020 mengalami peningkatan dengan nilai Non Performing Loan (NPL) sebesar 5,26 persen.

Kenaikan NPL ini didorong oleh adanya peningkatan NPL pada sektor industri pengolahan.

Sementara itu, fungsi intermediasi perbankan masih tinggi dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 129,53 persen. 

“Untuk kredit UMKM di Bangka Belitung, pada posisi Februari 2020, kredit UMKM tumbuh sebesar 13,59 persen (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan pada akhir tahun 2019 sebesar 15,24 persen (yoy). Rasio penyaluran kredit UMKM terhadap total kredit mencapai 23,14 persen dan masih didominasi untuk kegiatan perdagangan. NPL Kredit UMKM mengalami kenaikan yang signifikan hingga Februari 2020 sebesar 8,42 persen,” jelas Tantan.

Sementara itu, tekanan inflasi Bangka Belitung hingga Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 1,82 persen (yoy), dibandingkan pada Desember tahun 2019 yaitu sebesar 2,62 persen (yoy).

Penurunan tekanan inflasi pada bulan Maret 2020 disumbang oleh angkutan udara, bumbu-bumbuan, daging ayam ras dan komoditas ikan segar.

Inflasi Bangka Belitung pada Tahun 2020 diproyeksikan masih berada pada rentang target inflasi Nasional 3,0 ± 1 persen dengan tekanan yang cenderung menurun dari 2019.

Menurunnya tekanan inflasi disebabkan oleh melemahnya permintaan sebagai dampak adanya wabah COVID-19, tercukupinya pasokan barang termasuk pangan, dan tetap lancarnya jalur distribusi.

Pada tahun 2021, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat dari tahun 2020 sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca COVID-19 di tahun 2020.

Dalam menghadapi tantangan dalam 2020, telah dilakukan sinergi yang kuat antara Pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan LPS yang lebih menekankan kepada kesehatan, jaring pengaman sosial, stimulus pajak dan KUR serta program pemulihan ekonomi nasional.

kebijakan tersebut ditempuh melalui stimulus fiskal dalam pelonggaran kebijakan defisit fiskal, pelonggaran likuiditas perekonomian, dan relaksasi/restrukturisasi kredit.

Pemerintah Daerah Provinsi, Kota dan Kabupaten juga telah melakukan upaya penangan dampak Covid-19 berupa realokasi anggaran untuk memperkuat kesiapan medis dalam penanganan covid-19, menyiapkan jaring pengaman sosial, dan mendorong pemulihan ekonomi Babel melalui optimalisasi pemanfaatan KUR. 

“Dengan upaya tersebut diharapkan dapat menahan laju perlambatan pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung di tahun 2020 dan mampu mendorong pertumbuhan yang lebih baik pada tahun 2021,” harapnya. (BBR)

Laporan: Irwan Aulia Rachman