Bagaimana Ketahanan Pangan Babel Di Masa Corona, Ini Jawaban Dosen Pertanian UBB

Ahada
Bagaimana Ketahanan Pangan Babel Di Masa Corona, Ini Jawaban Dosen Pertanian UBB
Dosen Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi UBB, Dr Endang Bidayani (kanan). (Ist)

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW.CO.ID – Wabah covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia memungkinkan terjadinya krisis pangan.

Tentu ini menjadi perhatian bagi Bangka Belitung yang merupakan pengimpor bahan pangan.

Apalagi moda transportasi yang masuk ke Bangka Belitung dibatasi.

Akademisi Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung Endang Bidayani menjelaskan, ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya.

Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan.

Tiga komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan.

“Menghadapi situasi pandemi covid 19, ketahanan pangan masyarakat di babel relatif baik. Tidak ada kepanikan warga yang berakibat aksi borong bahan pangan. Harga komoditi pangan juga tidak mengalami kenaikan. Sebagai contoh komoditi pangan yang stabil harganya adalah beras, minyak goreng, telur ayam, daging ayam, cabe rawit, cabe merah, bawang putih, bawang kerah dan gula,” ungkap Endang.

Dijelaskan Endang, saat ini sebagian besar komoditi sudah berhasil dikembangkan di Bangka Belitung, seperti padi, bawang, cabe, daging ayam dan telur ayam.

Ini merupakan bukti bahwa keberhasilan pertanian di Babel dan potensinya cukup menjanjikan.

Kendati sebagian juga masih diimpor dari luar pulau, tidak lain untuk mencukupi kebutuhan dan menjaga stabilitas harga.

“Untuk komoditi pangan lainnya masih juga didatangkan dari luar pulau, karena belum ada pabriknya disini,” katanya.

Mengenai apakah sudah ideal antara luas lahan pertanian dengan kebutuhan konsumsi pangan, Endang mengatakan, sektor pertanian masih berpotensi untuk dikembangkan.

Babel memiliki potensi lahan tidur, lahan eks tambang dan pekarangan rumah yang bisa dioptimalkan untuk ketahanan pangan.

“Bahan pangan yang masih rentan ketersediaannya adalah bahan pangan yg masih didatangkan dari luar karena belum diproduksi di Babel," katanya.

Endang mengatakan, terkait masalah covid-19 ada tiga komponen yang menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni ketahanan pangan, ketahanan sosial dan ketahanan ekonomi. Tiga komponen tersebut dinilai Endang sudah cukup baik.

“Beberapa program mendukung upaya tersebut, seperti jaminan pangan yang cukup dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerjasama dengan perbankan,” ujarnya.

Agar produksi pangan Babel meningkat, pemerintah perlu memperbanyak program yang dapat mendorong gairah petani untuk mengembangkan usaha.

Stimulus pupuk, bibit, jaminan pasar dan akses permodalan akan meningkatkan optimisme petani kita.

Pelatihan cara budidaya pertanian yang baik, akan mempercepat meningkatkan kemampuan produktivitas petani.

“Saya kira apa yang sudah dilakukan pemerintah saat ini untuk menjamin ketahanan pangan masyarakat di babel sudah cukup baik. Namun, di sektor perikanan khususnya budidaya ikan yang saya lihat cukup terpukul dengan kondisi ini. Pembudidaya ikan konsumsi mengeluhkan panen yang tidak maksimal terserap pasar. Hal ini menyebabkan kerugian karena pembudidaya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pakan,” katanya.

Setelah pandemi ini, Endang mengatakan, pemerintah perlu melakukan refocusing dan realokasi anggaran. 

Pemerintah sudah seyogyanya mencari alternatif pendapatan lain untuk membiayai prioritas pembangunan tahun 2021. (BBR)
Laporan: Irwan AR