Bahas PT BAA, Komisi IV DPR RI Gelar Rapat Dengar Pendapat

Irwan
Bahas PT BAA, Komisi IV DPR RI Gelar Rapat Dengar Pendapat
RDPU Komisi IV DPR RI

JAKARTA, BABELREVIEW.CO.ID – Komisi IV DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI dengan perwakilan dari PT Bangka Asindo Agri (PT BAA), PT. Lintang Sembilan Nusantara, Pamong Kecamatan Sungailiat Bangka serta perwakilan Masyarakat Kelurahan Kenanga, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Dalam RDPU tersebut, Owner PT BAA Fidriyanto menjelaskan profil perusahaan yang berdiri pada 2017. Dikatakannya, ia memilih berinvestasi di Bangka karena merupakan putera daerah yang ingin mengembangkan industri singkong, walaupun diketahui bahwa Bangka bukan daerah berbasis tanaman singkong.

Namun dengan pengalaman yang dimilikinya selama 25 tahun pada industri pengolahan singkong di Lampung, maka Fidriyanto memutuskan berinvestasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Sehubungan dengan pasca timah dari Pemkab Bangka mengajak kebetulan dari Pemkab Bangka sampai kunjungan ke Lampung mengundang kita untuk mencoba men-develop yang saat itu Pemerintah daerah sedang kembangkan ubi kayu," ujar Fidriyanto.

Berbeda dengan pabrik tapioka di Lampung yang berada di tengah-tangah pemukiman, maka PT BAA berdiri dengan jarak 1 kilometer dari pemukiman di Kelurahan Kenanga, Sungailiat, Kabupaten Bangka. Hal tersebut tak lain sebagai bentuk kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar agar tetap terjaga.

"PT BAA bukan seperti pabrik tapioca di Lampung pada umumnya namun kita mengadopsi sistem industri tapioka yang sudah terintegrasi. Kita sudah lengkapi dengan biogas dan sebagainya. Memang saat sudah awal berjalan dikala biogas belum aktif dan dikala bakteri pengurai limbahnya masih belum aktif disitu ada jeda waktu ada bau sampai pemukiman tapi itu cerita lama yang berjalan di 2017, 2018 dan 2019 praktis sudah hilang sama sekali," jelasnya.

Dikatakannya, seluruh proses limbah PT BAA parameternya sudah memenuhi baku mutu, bahkan ini satu-satunya pabrik tapioka yang air limbahnya menjadi recycle process water, yang artinya balik lagi ke pabrik.

Selanjutnya Fidriyanto memaparkan proses, mulai dari petani yang mendapatkan kesejahteraan dengan berdirinya pabrik tapioka, para sopir truk yang mengangkut ubi kasesa, pabrik yang terintegrasi, pengolahan limbah, hingga produk hilir.

Sementara itu, Direktur PT Lintang Sembilan Nusantara Jafar Siddik selaku mitra PT BAA menyampaikan saat pandemi melanda dan ekonomi mulai terpuruk, maka memjalin kemitraan dengan PT BAA menjadi peluang yang kemudian menghidupkan ekonomi umat.

"Sampai dengan hari ini yang kita Kerjasamakan dengan PT BAA adalah Sagoo Mee yang dipasarkan di pesantren-pesantren di Indonesia sampai hari ini. Yang mau saya sampaikan bahwa kerjasama kami dengan PT BAA membawa banyak manfaat kepada para petani, yang nama dahulu banyak ke sektor tambang dan sekarang ke sektor ubi atau singkong yang Alhamdulillah sudah cukup banyak manfaatnya," jelasnya.

Hal senada pun dikatakan Pamong Kelurahan Kenanga, petani dan masyarakat yang menyampaikan pendapat dalam rapat tersebut. Mereka menilai keberadaan PT BAA sangat membantu penyerapan tenaga kerja masyarakat sekitar, membantu pelaku UMKM, membantu para petani dengan program binaan, dan beberapa program CSR yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. (BBR)

Penulis: Irwan