Ban Sin Adalah Tradisi Sambut Tahun Baru Imlek, Cara Masyarakat Tionghoa Berucap Syukur

Ahada
Ban Sin Adalah Tradisi Sambut Tahun Baru Imlek, Cara Masyarakat Tionghoa Berucap Syukur
Untuk di kelenteng sendiri biasanya ‘ban sin’ dilakukan dengan membersihkan patung dan kegiatan lainnya yang biasa dimulai tanggal 15 Imlek atau bulan 12 menjelang Tahun Baru Imlek. (Foto:Pras)

SUNGAILIAT, BABEL REVIEW.CO.ID -- Budaya ‘ban sin’ merupakan tradisi kaum Tionghoa, khususnya Konghucu, di Pulau Bangka yang biasa dilakukan oleh para leluhur menjelang Tahun Baru Imlek (sin cia).

Bagi pengikut konfusius, tradisi ‘ban sin’ adalah bentuk pembayaran kepada tempat- tempat yang diyakini atau dianggap keramat karena percaya adanya roh yang mendiami atau menduduki suatu tempat. Kemudian setelah mereka berinteraksi melalui mediator, maka akan diketahui bahwa ada roh kakek/nenek. 

Seperti dikatakan Yusak, umat Konghucu warga Jalan Laut Sungailiat, bahwa budaya ‘ban sin’ lahir dari pencampuran budaya di Bangka untuk mengharapkan keberkahan.

Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun yang mesti dijalani setiap menjelang perayaan Tahun Baru Imlek untuk mendapatkan keberuntungan.

  “Ban sin ini artinya membayar niat secara tulus. Biasanya ‘ban sin’ ini dibayar pada akhir tahun (Imlek-red) dengan memberikan sesajen berupa buah-buahan serta hio atau ayam kuning dan kue serabi dan lainnya sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih atas hasil panen. Seperti juga nelayan yang sering melaut melakukan sembahyang secara adat dan juga melakukan ‘ban sin’ sebagai rasa syukurnya,” ujar Yusak.

Ia melanjutkan,  untuk di kelenteng sendiri biasanya ‘ban sin’ dilakukan dengan membersihkan patung dan kegiatan lainnya yang biasa dimulai tanggal 15 Imlek atau bulan 12 menjelang Tahun Baru Imlek. Membersihkan segala macam, terutama pada saat malam menjelang Tahun Baru Imlek.

Atau pada adat suku tertentu melakukan ziarah ke makam- makam, seperti di Jalan Laut Sungailiat ini ada Batu Menteri Keramat yang ada di Kampong Kualo, di mana para nelayan di sana banyak melakuan ritual sembahyang sebagai ujud syukur.

“Biasanya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek tak hanya membersihkan patung, tapi juga orang  melakukan doa bersama yang juga sudah menjadi tradisi selama berabad-abad atau ribuan tahun,”  terangnya. (BBR)

Penulis: Pras