Bangka Belitung Menuju Desa Wisata Berbasis Ecotourism, Budaya dan Digitalisasi

Ahada
Bangka Belitung Menuju Desa Wisata Berbasis Ecotourism, Budaya dan Digitalisasi
Webinar ke 2 Masata Babel, mengusung tema

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Bangka Belitung (Babel) sukses menggelar Webinar Pariwisata ke 2 tahun 2020.

Webinar yang telah dilaksanakan Sabtu (28/11/2020) ini mengusung tema  Otimalisasi Desa Wisata Berbasis Ecotourism, Budaya dan Digitalisasi".

Webinar kedua Masata Babel ini menghadirkan tiga narasumber yang sangat berkompeten dibidang masing-masing.

Narasumber pertama adalah Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dr Rofiko Mukmin MTP, menyampaikan materi "Pentingnya Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ecotourism, Budaya dan Digitalisasi.

Sedangkan narasumber kedua seorang Dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) Henri SSi MSi.

Peneliti dan Pakar Ekowisata Bangka Belitung ini mengusung materi "Ecotourism Sebagai Wujud Pariwisata Berkelanjutan Melalui Perkembangan Wisata Desa.

Sementara itu narasumber ketiga adalah GM Witel Bangka Belitung Susila Shane Bona Paska Sihombing ST MM.

GM Telkom Babel ini menyampaikan materi "Pentingnya Digitalisasi Dalam Pembangunan Desa Wisata".

Dalam paparanya GM Witel Babel Susila Shane Bona Paska Sihombing menyampaikan secara umum pemanfaatan digitalisasi pariwisata di desa-desa se Bangka Belitung.

Ia juga memberikan arahan dan masukan terkait pentingnya pelaku wisata di desa untuk melengkapi sistem digitalisasi dalam pengelolaan dan pemasaran destinasi wisata yang dikelolah masyarakat desa.

Webinar diikuti peserta hampir 100 orang, yang terdiri dari Kepala OPD Provinsi Bangka Belitung, Pelaku Pariwisata, Pelaku UMKM, Mahasiswa, Pokdarwis dan para perangkat desa, serta pemerhati pariwisata di Bangka Belitung.

Dalam sambutannya mewakili Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman, Asisten III Setda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Darlan menjelaska bahwa Provinsi Kepulauan Babel terus bergerak mengembangakan sektor pariwisata.

Diyakini bahwa sektor pariwisata akan mampu menggantikan sektor pertambangan yang saat ini masih menjadi penopang perekonomian Bangka Belitung.

Namun seriring waktu dan perkembangan era digitaliasi ini, Darlan meyakinkan masyarakat, bahwa sektor masa depan Bangka Belitung adalah pariwisata.

"Salah satu yang terus kita dorong pertumbuhan dan perkembangannya adalah Desa Wisata. Kita sangat yakin potensi sumber daya alam, kebudayaan dan keunikan yang kita miliki ini, akan mampu menarik wisatawan luar untuk berkunjung ke Bangka Belitung," ujar Darlan, sebelum membuka secara resmi Webinar ke 2 Masata Babel.

Webinar yang berlangsung tiga jam ini berhasil menyimpulkan tentang pentingnya pengembangan sektor wisata desa yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan berteknologi tinggi sesuai perkembangan zaman.

"Sudah saatnya pariwisata Bangka Belitung terus bergerak dan menjadikan desa wisata sebagai pelengkap dan pengikat sektor pariwisata di Babel yang telah ada selama ini," ujar Kepala Dinas Pariwisata Babel, Dr Rofiko Mukmin MTP.

Saat ini diakui Rofiko, guna menunjang pertumbuhan dan peningkatan kuantitas serta kualitas Pariwisata Bangka Belitung, pihaknya sedang membuat Rancangan Perda Pariwisata.

"Sebentar lagi kita akan memiliki Perda Pariwisata. Dengan adanya perda ini, maka para pelaku wisata termasuk Desa Wisata memiliki payung hukum dalam mengelolah destinasi wisata mereka. Kita ingin dengan adanya Perda Pariwisata ini juga akan menjadi aturan kita dalam meningkatkan PAD serta pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung dari sektor pariwisata," ungkap Rofiko.

Sementara itu Ketua DPD Masata Bangka Belitung Syawaludin, menyatakan pariwisata desa seharusnya bisa menjadi gerbang ekowisata Provinsi Bangka Belitung, dengan memberdayakan peran serta Desa Wisata untuk turut berpartisipasi mewujudkan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

"Dengan menjadikan masyarakat desa sebagai komponen utama pembangunan pariwisata di desanya masing-masing, melalui sajian aktivitas keseharian masyarakat desa dan produk hasil tani atau kebun, serta aktivitas seni budaya masyarakat desa setempat yang memiliki keaslian budaya, serta potensi desa lainnya yang dapat memberi nilai lebih bagi masyarakat," ujar Syawaludin, saat memberikan sambutan pembukaan pada Webinar ke 2 Masata Babel.

Pembangunan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) saat ini harusnya mulai menjadi kiblat utama pembangunan pariwisata di Bangka Belitung.

"Destinasi Ekowisata merupakan wujud destinasi wisata dengan konsep Sustainable Tourism (ecotourism) yang berkelanjutan, mengoptimalkan potensi pariwisata yang otentik dan mengedepankan orisinalitas, kekayaan alam, dan budaya lokal masyarakat desa," ujar Henri SSi MSi, Dosen dan Peneliti Ekowisata Universitas Bangka Belitung.

Hadirnya desa wisata pada akhirnya perlu ditopang oleh kemudahan akses informasi mengenai potensi wisata desa itu sendiri, yang dalam penyajiannya paling mungkin dilakukan dengan memaksimalkan penggunaan teknologi digital sebagai saluran informasi desa wisata yang dikelola oleh desa sendiri secara mandiri.

"Saat ini masih ada sekitar 130 desa yang belum terkoneksi internet. Kita akan terus berupaya melayani kebutuhan masyarakat akan akses internet ini. Sehingga kedepan, para pelaku Desa Wisata mampu memanfaatkan era digitalisasi ini sebagai basis peningkatan kualitas pelayanan mereka kepada para wisatawan," ujar Susila Shane Bona Paska Sihombing, GM Witel Bangka Belitung.

Pemerintah desa memang sudah saatnya memperkuat destinasi wisata khususnya desa wisata berbasis digital, dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai saluran informasi dan komunikasi.

Dengan begitu informasi terkait potensi wisata desa makin mudah diakses oleh wisatawan. Masyarakat desa wisata juga secara mandiri dapat melakukan pemberdayaan ekonomi desanya, sehingga desa menjadi berkembang dan putaran ekonomi juga akan ikut meningkat. (BBR)
Laporan: @hada