Banyak Pelaku UMKM di Babel Terkapar, Tukang Pangkas Rambut Ini Justru Bersyukur

Ahada
Banyak Pelaku UMKM di Babel Terkapar, Tukang Pangkas Rambut Ini Justru Bersyukur
Jupri, Pangkas Rambut asal Madura ini sudah lebih 5 tahun membuka kios pangkas rambut Sura Madu di Air Itam. (Ahada/babelreview)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Teror Corona yang belum juga berlalu hingga pekan kedua bulan April 2020 ini, telah banyak membuat pelaku usaha kecil terkapar alias mati suri. 

Kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah terkait social distancing, physical distancing dan #DirumahSaja sebulan terakhir, praktis telah mempengaruhi para pelaku usaha.   

Bagaimana tidak, sekarang ini warga lebih banyak berdiam di rumah, dan kalaupun melakukan aktivitas di luar, itupun dilakukan dalam waktu yang tidak lama.

Pelaku usaha kuliner, jasa transportasi, jasa parkir, usaha kebutuhan skunder praktis mengalami penurunan konsumen.

Tentu kondisi ini berimbas terhadap pendapatan para pelaku usaha ataupun warga penjual jasa di Bangka Belitung ini.
Namun beruntung bagi Jupri.

Pria asal Madura Jawa Timur ini mengaku lebih beruntung dari teman-temannya yang sesama merantau ke Pulau Bangka.

Jupri yang menggeluti usaha pangkas rambut ini, mengaku tidak terlalu berimbas dari kondisi sekarang ini.

"Sehari Alhamdulillah masih bisalah 15 konsumen yang datang ke kios pangkas rambut saya ini," ujar Supri, yang memiliki usaha Pangkas Rambut Sura Madu.

Lokasi kios di Jalan Raya Depati Hamzah (Air Itam) ini, memang cukup strategis bagi Jupri.

Kebanyakan pelanggan Jupri berasal dari Semabung dan Air Itam, dan para PNS Pemprov Bangka Belitung.

Kios Pangkas Rambut Sura Madu ini buka setiap hari, Senin hingga Minggu.

"Jika sedang kurang sehat saja saya biasanya tutup. Ya namanya cari rezeki dirantau tentu saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin," tukas Jupri.

Sebelum kondisi pandemi corona ini, Jupri bisa mendapatkan pelanggan diatas 20 orang per hari.

Tetapi sebulan terakhir ini, Ia mengaku pelanggan yang datang berkisar antara 10-15 orang per hari.

Dan ketika sebelum pandemi corona ini, Jupri biasanya buka mulai jam 8.00 pagi hingga pukul 23.00 WIB.

Tetapi dengan adanya pandemi ini, Jupri hanya buka dari pukul 8.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB saja.

"Untuk sementara cukup mas. Jika dibandingkan teman saya warung sate. Kadang satu malam itu hanya 2-5 orang saja yang makan. Kasihan mas," ujarnya.

Mematok harga Rp 20.000 untuk dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak, pendapatan Jupri ini bisa dibilang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tetapi Jupri harus pandai menabung untuk mengirimi istri dan keluarganya di Madura.

Selain untuk kebutuhan rumah tangga disana, hasil jerih payah Jupri mangkas rambut di Pangkalpinang ini Ia gunakan juga untuk biaya sekolah dua anaknya di pesantren.

Melihat kondisi sekarang ini, Jupri berharap pandemi corona bisa segera berakhir.

Selain berharap roda perekonomian berjalan normal lagi, kondisi seperti ini membuat Jupri kesulitan untuk pulang ke daerah asalnya.

Jupri mengaku belum tahu apakah Ia bisa pulang menjelang lebaran nanti. 

"Semoga corona segera pergi Mas, agar kita kembali menjalani kehidupan normal. Saya sedih saja melihat teman-teman yang sekarang ini. Usaha-usaha mereka bisa dikatakan hidup segan mati tak mau," ucapnya. (BBR)
Laporan: @hada