Begini Kata Dosen UBB, Cara Mendongkrak Optimis Pariwisata dan UMKM Bangka Belitung

Ahada
Begini Kata Dosen UBB, Cara Mendongkrak Optimis Pariwisata dan UMKM Bangka Belitung
Saat berkunjung ke Objek Wisata Hutan Mangrove Munjang di Kurau Barat Kabupaten Bangka Tengah, para wisatawan akan dimanjakan oleh liukkan perahu yang menghantar para wisatawan menyusuri tikungan tajam dan arus Sungai Munjang. (firly/babelreview)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- SEKTOR pariwisata merupakan sektor yang memiliki dampak terbesar, karena dengan covid-19, dimana aktivitas kegiatan hotel, meeting, event dan kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi tertutup semuanya.

Menurut Ekonom Universitas Bangka Belitung Dr Devi Valeriani SE MSi, dampak yang sangat dirasakan adalah tenaga kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat bulan Agustus 2020 sebesar 5,25 persen, meningkat 1,67 persen bulan Agustus 2019.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi pada kelompok pendidikan SMA/SMK sebesar 9,01 persen, jenjang Diploma/Universitas sebesar 5,53 persen dan SMP ke bawah sebesar 3,26 persen.

"Di Era New Normal memberikan keyakinan bagi sektor pariwisata untuk bangkit dan meraih kembali target-target yang telah direncanakan dengan membuka kembali hotel, restoran dan paket-paket berwisata serta paket-paket meeting. Tetapi dengan tetap memperhatikan protokol dan standar kesehatan, maka aktivitas rutin pariwisata dapat dilakukan," ujar Devi Valeriani kepada Babelreview.

Dikatakan Devi Valeriani Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menggaungkan “Pariwisata Indonesia Siap” Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru, dengan penerapan program CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, Enviroment).

Program CHSE ini pun sudah diterapkan di seluruh Hotel di Bangka Belitung, sehingga setiap tamu yang menginap di hotel, restoran dan destinasi wisata dapat berwisata dengan aman dan nyaman termasuk keamanan dan tenaga kerja.

"Program CHSE ini wajib diterapkan, sehingga wisatawan memiliki jaminan bahwa pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kesehatan. Optimisme Tahun 2021 bahwa pariwisata Bangka Belitung akan bangkit kembali terlihat dari peran serta para stakeholder dalam mendukung kebangkitan tersebut, dan tingkat kunjungan wisawatan yang mulai merangkak naik," terangnya.

Beberapa pandangan pengamat dan pelaku pariwisata bahkan menyebutkan bahwa Tahun 2021 merupakan tahun yang sangat banyak kegiatan berwisata dilakukan oleh masyarakat, sebagai upaya refreshing diri, keluarga dan komunitas setelah hampir 9 bulan masyarakat dibatasi ruang geraknya.

"Menyambut fenomena ini, pelaku usaha pariwisata dituntut untuk melakukan penguatan dalam promosi dengan marketingnya dan penguatan fasilitas pendukung di masing-masing hotel, destinasi serta restaurant," ungkapnya.

Sementara itu, hampir sama dengan sektor pariwisata, UMKM pun dinilainya sektor yang juga mengalami penurunan omzet ataupun pendapatan.

UMKM yang paling merasakan dampak dari COvid 19 adalah UMKM yang berorientasi ekspor, UMKM kerajinan dan UMKM pendukung sektor pariwisata.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Tim Peneliti ISEI terhadap UMKM binaan Bank Indonesia mengenai dampak Covid-19, menunjukkan terdapat 72,60 persen UMKM di Bangka Belitung terdampak Covid dengan 56 persen menyebabkan kesulitan penjualan, 35 persen kesulitan modal dan 50 persen kesulitan bahan baku.

Melalui Tagline UMKM Bangkit ditengah Covid-19 banyak hal yang harus dilakukan oleh pelaku UMKM, diantaranya harus kuat dan agresif dalam pemasaran secara digital (digitalisasi), mempelajari perubahan preferensi konsumen dan berfokus pada penjualan lokal, efisiensi tenaga kerja, tetap melakukan inovasi serta kreatifitas produk usaha.

Menurutnya, peran Pemerintah Pusat maupun Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus dilakukan dengan memberikan berbagai bantuan, program untuk penyelamatan usaha sektor pariwisata dan UMKM termasuk para tenaga kerjanya agar tidak terjerumus lebih dalam kedalam jurang kemiskinan.

Program yang tengah dijalankan pemerintah diantaranya pekerja UMKM terdampak dan tenaga kerja yang terdampak adalah didorong untuk memanfaatkan program kartu prakerja. Bagi pelaku usaha yang memiliki pinjaman modal usaha di Bank, maka pemerintah memberikan keringanan dengan program relaksasi hingga enam bulan.

"Kolaborasi antara pelaku usaha pariwisata, UMKM , pemerintah daerah dan stakeholder lainnya sangat diharapkan berjalan dengan baik agar kondisi normal serta pemulihan sektor terdampak tersebut dapat teratasi," ungkapnya.

Upaya dukungan dari para stakeholder diantaranya dengan mendukung produk-produk UMKM, dan belanja di produk-produk UMKM merupakan salah satu kekuatan kebangkitan UMKM.

"Mari Bergerak Bersama Bangkitkan Pariwisata dan UMKM BaBel," pungkasnya. (BBR)
Laporan: Diko Subadya