Berawal dari Minat Menari

Admin
Berawal dari Minat Menari
Foto: DOK. SANGGAR SENI SEKAR PENYANDING

Pangkalpinang ,BabelReview -- Memiliki minat yang besar terhadap dunia seni tari mendorong Pupung P. Damayanti mengambil sekolah jurusan seni tari di ISI Yogyakarta. Berangkat dari situ, ia memutuskan untuk membuka sebuah sanggar seni yang diberi nama Sanggar Sekar Penyanding yang berarti bunga yang selalu bersanding di segala waktu.

Bunga yang akan harum mewangi di setiap langkah mendampingi siapapun yang walaupun statusnya sebagai pendamping, tetapi perannya akan menjadi penting. Awalnya ia membuka sanggar ini di Jakarta, setelah pindah dan menetap di Pulau Bangka ia kemudian meneruskan sanggar itu.

“Awalnya saya tinggal di Jakarta, sebelum akhirnya pindah ke Pulau Bangka. Di sana saya membuka sebuah sanggar seni, namun saya berpikir sayang jika tidak diteruskan. Akhirnya saya membuka Sanggar Sekar Penyanding. Ditambah lagi background saya dari jurusan seni tari. Sayang kalau ilmu yang saya punya tidak dikembangkan,” ujarnya.

Wanita kelahiran Sumedang ini menceritakan bulatnya niat dia membuka sanggar seni di Pangkalpinang karena banyak permintaan untuk melatih dan mengajarkan tarian-tarian daerah maupun kontemporer.

 “Banyak permintaan melatih tari mulai dari anak-anak TK Bhayangkari juga pelajar-pelajar tingkat SMP dan SMA yang kebanyakan berlatih untuk memenuhi nilai pelajaran kesenian di sekolah, lama-lama keterusan. Anak-anak ini ternyata ada yang memang benar-benar berminat dan berbakat dibidang seni tari dan music. Jadi kita bikin sanggar seni ini sebagai wadah mereka menyalurkan hobi dan bakat mereka,” tutur wanita 47 tahun ini.

 Berprofesi sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) menuntutnya untuk pandai membagi waktu. Diawal perjalanan sanggar ini, ia turun langsung untuk melatih tarian, namun sekarang ia dibantu anggota sanggar yang kini telah bisa dipercaya untuk melatih dan mengelola sanggar.

Bersinergi dengan pemerintah, ia berharap kehadiran sanggar seni yang ada di Kota Pangkalpinang dapat membantu melestarikan budaya dan menjalankan program-program pariwisata. Kehadiran sanggar seni dirasa penting untuk memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda agar dapat menjadi penyangga budaya serta pelestari kesenian daerah.

Temui Kendala Dalam menjalankan sanggar ini ia tentu menemui berbagai hambatan mulai dari sarana prasarana hingga individu di dalamnya. Ia mengakui, untuk operasional selama ini menggunakan dana pribadi.

Hal itu tentu memberatkan mengingat sebuah sanggar memerlukan peralatan yang memadai untuk bisa berkarya secara maksimal. Ruangan studio untuk berlatih juga sudah mengalami kerusakan sehingga harus diperbaiki.

 Sangat disayangkan beberapa tahun belakangan sanggar-sanggar seni tidak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tidak hanya itu, pola pikir anggota sanggar juga nampaknya perlu diubah. Dari yang hanya untuk iseng menjadi sesuatu yang diseriusi mengingat pemuda memiliki peran besar untuk melestarikan kebudayaan daerah.

 Komitmen menjadi kunci utama yang harus dijaga untuk menjaga keberlangsungan sanggar. Meski demikian, banyak prestasi yang telah diraihnya bersama sanggar ini. Menjadi juara 1 (satu) lomba tari Campak tingkat Kota Pangkalpinang tahun 2014. Penyaji unggulan tahun 2015 pada festival tingkat Kota Pangkalpinang. Juara 2 lomba tari campak tingkat kota Pangkalpinang tahun 2016 dan 2017. Sejauh ini ia melewati suka-duka menjalankan sanggar dengan sepenuh hati.

 Ia merasa senang bisa berbagi ilmu dan memperkenalkan kebudayaan daerah yang beragam. Bisa berbagi wawasan tentang seni dan kebudayaan serta memberikan wadah bagi anak muda untuk melestarikan kesenian memberikan rasa bangga terhadap dirinya. Di sanggar yang beralamat di Jalan Abdulah H.

 Seman, Gang Lumba-lumba 4, Kecamatan Gabek ini tidak hanya mempelajari tarian serta kebudayaan melayu melainkan tarian dan kebudayaan nusantara secara luas. Kebersamaan dan kekompakan dijunjung tinggi untuk mempererat silaturahmi antar anggota sanggar. (BBR)


Penulis :Tamara D
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview