Berkurung dan Bekukung,  Begini Kearifan Lokal Babel Menghadapi Pandemi

Ahada
Berkurung dan Bekukung,  Begini Kearifan Lokal Babel Menghadapi Pandemi
Budayawan dan sejarawan Bangka Belitung, Ahmad Elvian. (Ist)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Di tengah masa pandemi covid19 ini, beragam cara orang beraktivitas.

Tentu semua sepakat, tidak perlu parno akut terhadap corona, tetapi juga harus waspada.

Karena, sekarang ini tidak ada yang tahu dimana dan kapan bisa berjumpa dengan corona. 

Melihat kondisi yang dilematis ini, maka sejak tiga bulan ini, banyak orang memilih berdiam di rumah.

Tujuannya tentu agar terhindar dari perjumpaan dengan corona.

Ternyata tidak beraktivitas atau berdiam saja di rumah, membuat sebagaian orang jenuh dan bahkan stres.

Karena itu, beragam cara sekarang diambil oleh orang untuk mengurangi jenuh dan bosan tersebut. 

Sebenarnya fenomena #dirumahaja merupakan salah satu penerapan budaya yang ada ditengah Pandemi atau budayawan di Babel akrab menyebutnya 'berkurung'.

Menyikapi kondisi pandemi saat ini, Sejarahwan dan  Budayawan Bangka Belitung, Ahmad Elvian mengatakan sebenarnya masyarakat bangka sudah memiliki pengalaman sejarah terkait epidemi penyakit menular seperti Beri-beri yang menjangkit di Bangka dan menelan korban cukup banyak hingga ribuan orang sekitar tahun 1830-an.

Kemudian ada juga epidemi cacar dan beberapa epidemi lainnya.

Karena itu, menurut Elvian dari pengalaman tersebut aturan adat dan budaya pun dulunya sempat diatur di Bangka misalnya didalam Undang-Undang Sindang Mardika pasal 37 disebutkan bahwa apabila terjadi penyakit menular disuatu kampung maka kampung itu harus disisolasi, jadi jalan-jalan masuk menuju kampung diberi tanda biar tidak ada yang masuk ke kampung dan orang dikampung pun tidak boleh keluar agar penyakit tidak menjangkit kemana-kemana.

"Dalam ketentuan adat juga kita diharuskan "bekurung" melindungi atau mengisolasi diri agar penyakit kita tidak menular. Selain itu kita juga diminta untuk "bekukung" yakni mengikuti anjuran-anjuran dari tokoh adat, budaya, agama juga anjuran pemerintah dan mentaati apa-apa yang dilarang oleh Pemerintah," katanya.

"Hanya saja konsep-konsep itu, sudah dulu sekali, di masa sekitar pertengahan abad ke-19, setelah itu kita tidak mengalami epidemi lagi. Sehingga aturan budaya dan adat dulu seolah dilupakan masyarakat sekarang Dan saat ini kondisinya kita menghadapi pandemi yang luar biasa dan saya meillihat virus korona ini tidak bisa hilang selagi vaksin tidak ditemukan," ungkapnya.

Untuk itu saat ini kita harus mengikuti anjuran-anjuran pemerintah dalam konsep bekukung yakni untuk hidup dalam kondisi menjaga kebersihan, menggunakan masker rajin mencuci tangan dan menjaga jarak.

"Konsep bekukung ini harus kita taati. Kita juga bisa berkurung untuk mengisolasi diri itu salah satu penerapan budaya kita ditengah situasi pandemi," ungkapnya.

Budaya Bisa Tereliminasi...

  • Halaman
  • 1
  • 2