Dalam upaya nyata mendongkrak indeks literasi sekaligus menyukseskan program pembangunan sumber daya manusia, Bunda Literasi Kabupaten Bangka Tengah, Eva Fidia Lestari atau sering disapa Eva Algafry, resmi meluncurkan buku perdananya yang berjudul “Kumpulan Cerita Anak Hebat”.
Peluncuran karya literatur anak ini dilaksanakan berbarengan dengan jalannya sosialisasi gerakan daerah yang sangat strategis, yaitu Gerakan WAR 13 T (Wajib Belajar 13 Tahun), bertempat di Ruang Rapat Besar Kantor Bupati Bangka Tengah, Kamis (21/05/2026).
Saat ditemui usai kegiatan, Eva mengungkapkan bahwa penerbitan buku ini bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab moral atas amanah yang diembannya sebagai Bunda Literasi Bangka Tengah. Ia memandang perlu adanya sumbangsih konkret yang langsung menyentuh pemikiran anak-anak sebagai fondasi generasi penerus.
“Sebagai Bunda Literasi, saya berpikir memiliki tanggung jawab besar untuk menunjukkan bukti nyata dalam meningkatkan dan mendukung literasi di daerah kita. Lewat buku kumpulan cerita ini, saya berharap ada pesan-pesan moral positif yang dapat tersampaikan dengan baik kepada anak-anak kita,” ujar Eva dengan penuh semangat.
Buku setebal 36 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit DapurKata ini memuat lima kisah pendek yang dirancang khusus dengan narasi ringan dan penuh warna. Eva menyampaikan, seluruh buku tersebut akan dititipkan secara resmi di Perpustakaan Daerah Bangka Tengah agar dapat diakses secara luas oleh para orang tua, guru, maupun anak-anak.
Di balik keceriaan ilustrasi buku karyanya, istri dari Bupati Bangka Tengah ini menyisipkan sebuah pesan mendalam mengenai pola asuh anak (parenting). Eva mengingatkan bahwa bahan bacaan maupun media tontonan visual yang dikonsumsi anak-anak saat ini memerlukan filter ketat dari lingkungan keluarga terdekat.
Menurutnya, tidak semua komik, buku, maupun film anak yang terlihat lucu di permukaan aman dari pengaruh buruk. Fenomena terselubungnya muatan negatif seperti tindakan perundungan (bullying) hingga kekerasan verbal dan fisik kerap kali menyusup dalam produk hiburan anak tanpa disadari.
“Membaca buku atau menonton film itu mutlak harus disesuaikan dengan usia anak. Di sinilah pentingnya kehadiran dan pendampingan orang tua. Anak pada usia tertentu belum memiliki kematangan emosional untuk memilah mana hal baik yang boleh ditiru dan mana yang buruk. Orang tua harus hadir memberikan edukasi, arahan, serta nasihat secara sabar,” tambah Eva dengan penuh penekanan.
Menanggapi terkait potret riil minat baca anak-anak di Bangka Tengah, Eva mengaku sangat optimis. Pengalamannya yang aktif terjun langsung bersama Komunitas Pena Muda Bangka Tengah dalam menggelar lapak baca gratis setiap minggu kedua dan keempat di alun-alun Kota Koba membuktikan bahwa antusiasme anak-anak sebetulnya sangatlah besar.
“Melalui program Kurasi (Kunjungan Rumah Literasi), kita membiasakan tradisi membaca bersama keluarga di lingkungan domestik. Infrastruktur kita sebenarnya sudah siap, kita punya perpustakaan daerah dengan koleksi yang sangat kaya, serta perpustakaan di tingkat kelurahan hingga tiap desa,” tambahnya.
Bunda Literasi Bangka Tengah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menjadikan keterbatasan akses sebagai alasan. Kunci utama keberhasilan literasi generasi masa depan kini bertumpu pada bagaimana manajemen waktu, kesadaran, serta tingkat kesabaran orang tua dalam meluangkan waktu emas demi membaca bersama anak di rumah.









